Jakarta|Kompassindonesianews.com — Agama bukan sekadar identitas yang tertulis dalam kartu pengenal, ritual yang berulang, atau seperangkat aturan yang dijalankan tanpa pemahaman. Di balik makna ad-Din, terdapat hubungan mendasar antara manusia, Sang Pencipta, tujuan kehidupan, hingga pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Gagasan itulah yang menjadi benang merah kajian bertajuk “The Metaphysics of Ad-Diin: Dari Fitrah Hingga Hari Pembalasan” yang disampaikan Ustadz Dr. Wido Supraha, M.Si. di Gedung Pusat INSISTS, Jalan Kalibata Utara II No. 84, Jakarta Selatan, Sabtu (7/11/2026).
Kajian berlangsung pukul 10.00 hingga 12.05 WIB. Acara dipandu oleh Ustadz Husein Zahrul Muhsinin selaku pembawa acara sekaligus moderator yang mengarahkan jalannya diskusi.
Forum ini menghadirkan pembahasan mendalam tentang metafisika Islam, terutama bagaimana manusia memahami asal penciptaannya, mengenali kedudukannya sebagai hamba Allah, serta menempatkan ilmu dan adab sebagai fondasi kehidupan berperadaban.
INSISTS, Ruang Kajian Pemikiran dan Peradaban Islam
INSISTS merupakan kependekan dari Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dalam pengkajian pemikiran dan peradaban Islam secara profesional dan akademis.
Lembaga ini didirikan pada 4 Maret 2003 di Kuala Lumpur, Malaysia, oleh sejumlah cendekiawan Muslim Indonesia yang memiliki perhatian terhadap tradisi intelektual Islam. Fokus kajiannya mencakup pemikiran Islam, filsafat, epistemologi, pendidikan, sejarah, hingga persoalan peradaban kontemporer.
Melalui seminar, diskusi, penelitian, penerbitan, dan kegiatan ilmiah lainnya, INSISTS berupaya mengembangkan kerangka pemikiran yang berpijak pada pandangan hidup Islam. Saat ini, pusat kegiatannya berada di kawasan Kalibata Utara, Jakarta Selatan.
Manusia Tidak Diciptakan Tanpa Arah
Mengawali pembahasan, Ustadz Wido mengajak peserta memahami bahwa manusia tidak memulai kehidupannya sebagai makhluk tanpa arah. Manusia diciptakan Allah dengan fitrah, memiliki keterikatan primordial kepada Rabb-nya, menerima petunjuk wahyu, dan mengemban tujuan sebagai hamba-Nya.
Menurut pemaparan beliau, ketika fitrah dibimbing oleh wahyu, kesadaran penghambaan akan melahirkan tanggung jawab. Tanggung jawab membutuhkan ilmu, sedangkan ilmu yang benar harus menuntun manusia kepada adab.
Rangkaian inilah yang menjadi fondasi pengadaban: dimulai dari pengenalan kepada Allah, kesadaran atas kedudukan manusia, pengakuan terhadap kebenaran, kemudian diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, pendidikan, dan masyarakat.
Ustadz Wido menekankan bahwa peradaban Islam tidak cukup dibangun melalui kemajuan teknologi, kecanggihan ilmu, atau megahnya bangunan. Peradaban membutuhkan manusia yang mengenal Allah, memahami posisi dirinya, dan mampu menempatkan segala sesuatu secara benar.
Metafisika Islam: Realitas Tidak Berhenti pada yang Terlihat
Dalam kajian tersebut, Ustadz Wido menjelaskan bahwa metafisika bukan sekadar pembicaraan tentang alam gaib. Secara filosofis, metafisika membahas hakikat keberadaan, sebab-sebab mendasar, dan struktur realitas.
Namun, dalam pandangan Islam, pembahasan realitas tidak dapat dilepaskan dari tiga unsur utama: Allah sebagai Al-Khaliq, wahyu sebagai petunjuk, dan akhirat sebagai tempat pertanggungjawaban.
Dengan demikian, kehidupan tidak hanya dipahami melalui proses fisik yang dapat diamati atau diukur. Ada tujuan penciptaan dan dimensi kehidupan setelah kematian yang menjadi bagian dari realitas menurut wahyu.
Ustadz Wido juga memperlihatkan perbedaan antara cara pandang yang semata-mata empiris dan metafisika Islam. Jika keberhasilan hanya diukur dari capaian duniawi, Islam mengingatkan bahwa kebenaran amal dan akibatnya di akhirat juga menjadi ukuran. Kematian bukan akhir dari seluruh perjalanan manusia, melainkan peralihan menuju pertanggungjawaban.
Fitrah Manusia dan Perdebatan Tabula Rasa
Pembahasan kemudian berlanjut pada fitrah manusia. Ustadz Wido mengangkat QS. Ar-Rum ayat 30 sebagai landasan bahwa agama yang lurus selaras dengan fitrah penciptaan manusia.
Beliau menjelaskan bahwa fitrah bukan keadaan kosong tanpa identitas. Manusia memiliki kecenderungan dasar untuk mengenal dan tunduk kepada Allah. Meski demikian, fitrah tetap membutuhkan pemeliharaan dan bimbingan agar tidak menyimpang dari orientasi penciptaannya.
Dalam konteks ini, pendidikan Islam bukanlah upaya menciptakan manusia baru dari keadaan kosong, melainkan menumbuhkan dan membimbing potensi manusia sesuai kebenaran yang menjadi dasar penciptaannya.
Untuk memperjelas gagasan tersebut, Ustadz Wido membahas pemikiran tabula rasa dari filsuf Inggris John Locke. Konsep ini menggambarkan pikiran manusia sebagai lembaran yang belum ditulisi, dengan pengetahuan yang berkembang melalui pengalaman, baik melalui indra (sensation) maupun refleksi.
Namun, beliau mengingatkan agar pemikiran Locke tidak disederhanakan secara berlebihan. Locke terutama menolak gagasan bawaan yang telah hadir secara aktual, bukan meniadakan seluruh kemampuan alamiah manusia.
Dalam presentasinya, Ustadz Wido menguraikan tujuh persoalan mendasar ketika konsep tabula rasa dipahami secara ekstrem: persoalan asal kemampuan memahami pengalaman, potensi bawaan manusia, perkembangan biologis dan psikologis, kapasitas moral, posisi peserta didik dalam pendidikan, kebebasan serta tanggung jawab manusia, dan tujuan metafisis kehidupan.
Islam, menurut kerangka pembahasan tersebut, memandang manusia melalui keterpaduan fitrah, akal, pengalaman, dan wahyu. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengisi murid dengan informasi, tetapi perlu mencakup proses ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib.
Perjanjian Primordial: Kesaksian Manusia kepada Rabb-nya
Ustadz Wido selanjutnya menguraikan konsep al-mitsaq, yakni perjanjian primordial yang disebut dalam QS. Al-A’raf ayat 172. Ayat tersebut menggambarkan kesaksian keturunan Adam ketika Allah bertanya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan mereka menjawab bahwa mereka bersaksi.
Dalam penjelasannya, beliau merujuk pembahasan Imam Ath-Thabari mengenai riwayat dan penafsiran ayat tersebut, termasuk kesaksian manusia atas rububiyah dan tauhid Allah.
Ustadz Wido juga mengingatkan bahwa terdapat perbedaan penafsiran mengenai bagaimana peristiwa kesaksian tersebut berlangsung. Karena itu, rincian riwayat tidak seluruhnya dapat diperlakukan dengan tingkat kepastian yang sama.
Pokok pesannya, agama bukan semata-mata kesepakatan sosial atau produk kebudayaan. Kesadaran manusia tentang Allah memiliki landasan yang berkaitan dengan penciptaan dan kesaksian primordial tersebut.
Empat Dimensi Makna Ad-Din
Memasuki bagian utama kajian, Ustadz Wido menguraikan pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas mengenai empat cakupan makna ad-Din. Keempatnya saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan pemahaman tentang agama.
Pertama, indebtedness atau keberutangan.
Manusia berada dalam keberutangan eksistensial kepada Allah karena seluruh keberadaannya merupakan pemberian-Nya. Tubuh, kehidupan, kemampuan berpikir, waktu, dan berbagai nikmat yang dimiliki bukan hasil penciptaan manusia atas dirinya sendiri.
Ustadz Wido mengaitkan pembahasan ini dengan istilah dayn yang bermakna utang. Namun, keberutangan kepada Allah bukan transaksi ekonomi yang dapat dilunasi dengan sejumlah harta. Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya.
Konsekuensinya, penghambaan, ketaatan, dan rasa syukur merupakan kewajiban manusia atas seluruh nikmat yang telah diterima. Bahkan kemampuan untuk beramal dan beribadah pun berasal dari pemberian Allah.
Kedua, submissiveness atau penyerahan diri.
Karena manusia menerima keberadaan dari Allah, ia memiliki kewajiban untuk tunduk kepada-Nya. Dalam Islam, penyerahan diri bukan sekadar keterpaksaan sebagai makhluk, melainkan ketundukan sadar yang diwujudkan melalui iman, ketaatan, dan amal.
Ustadz Wido menjelaskan bahwa Islam mengandung makna penyerahan diri kepada Allah, bukan hanya nama institusional sebuah agama. Hal itu tercermin dalam QS. Ali Imran ayat 19 dan 83, serta QS. An-Nisa ayat 125 yang menghubungkan penyerahan diri kepada Allah dengan perbuatan ihsan.
Ketiga, judicious power atau kekuasaan mengadili dan memberikan pembalasan.
Dimensi ini mengingatkan manusia bahwa seluruh amal akan berada dalam pengadilan Allah. Tidak ada kekuasaan makhluk yang dapat berdiri sendiri untuk menyelamatkan manusia dari pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Ustadz Wido mengaitkannya dengan istilah dayyan serta pembahasan tentang Yawm ad-Din atau Hari Pembalasan, sebagaimana termuat dalam QS. Al-Fatihah dan QS. Al-Infitar ayat 17–19.
Kesadaran terhadap Hari Pembalasan semestinya membuat manusia tidak menjadikan popularitas, kekuasaan, keuntungan pribadi, atau pencapaian duniawi sebagai ukuran terakhir benar dan salah.
Keempat, natural inclination atau kecenderungan alami manusia.
Makna ini berkaitan dengan fitrah penciptaan manusia. Penyerahan diri kepada Allah pada hakikatnya selaras dengan orientasi dasar manusia sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ar-Rum ayat 30.
Keempat makna tersebut tidak berdiri sendiri. Manusia menerima keberadaan dari Allah, berkewajiban tunduk kepada-Nya, akan mempertanggungjawabkan seluruh amalnya, dan pada dasarnya memiliki fitrah yang selaras dengan kebenaran.
Dari Ad-Din Menuju Adab
Setelah menguraikan empat dimensi ad-Din, Ustadz Wido membawa peserta pada pembahasan mengenai adab.
Adab, dalam pemaparan beliau, tidak boleh dipersempit menjadi sekadar sopan santun, tata krama berbicara, atau kebiasaan sosial. Adab berkaitan dengan kemampuan mengenali kebenaran dan mengakui kedudukan yang tepat bagi segala sesuatu, kemudian mewujudkan pengenalan itu dalam tindakan.
Seseorang, misalnya, dapat mengetahui bahwa Allah adalah Al-Khaliq, tetapi pengetahuan tersebut belum sempurna apabila tidak diwujudkan dalam ketaatan. Seorang murid juga dapat mengetahui bahwa gurunya berjasa, tetapi pengetahuan itu belum menjadi adab apabila tidak disertai penghormatan dan perilaku yang semestinya.
Karena itu, adab menghubungkan ilmu dengan pengakuan dan pengamalan. Ustadz Wido mengaitkan gagasan tersebut dengan perintah Allah untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak serta berlaku adil dan berbuat ihsan sebagaimana termuat dalam QS. An-Nisa ayat 58 dan QS. An-Nahl ayat 90.
Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Pengetahuan
Dalam konteks pendidikan, Ustadz Wido menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan Islam tidak semestinya berhenti pada transfer informasi, penguasaan keterampilan, atau perolehan ijazah.
Pendidikan harus melahirkan manusia yang mengenali kebenaran sekaligus mampu mengamalkannya. Beliau mengangkat QS. Al-Jumu’ah ayat 2 yang menggambarkan misi Rasulullah ﷺ melalui pembacaan ayat-ayat Allah, penyucian jiwa (tazkiyah), serta pengajaran Kitab dan Hikmah.
Ketiga unsur tersebut menjadi fondasi pendidikan yang menyentuh pengetahuan, jiwa, dan amal. Dalam kaitan ini, Ustadz Wido mengingatkan prinsip yang dikenal dalam tradisi keilmuan Islam: ilmu harus mendahului perkataan dan perbuatan.
Dengan demikian, pendidikan merupakan proses pengadaban, bukan sekadar kegiatan menyampaikan materi pelajaran.
Dari Madinah Menuju Tamaddun
Pembahasan kemudian diperluas pada hubungan antara ad-Din, kehidupan masyarakat, konsep madinah, dan tamaddun atau peradaban.
Agama tidak berhenti sebagai keyakinan pribadi. Nilai-nilainya memiliki konsekuensi terhadap kehidupan sosial, keadilan, pendidikan, tata pemerintahan, hukum, ekonomi, dan pembentukan masyarakat.
Ustadz Wido mengaitkan gagasan tersebut dengan QS. Al-Baqarah ayat 30 tentang manusia sebagai khalifah di bumi serta QS. Al-Hadid ayat 25 mengenai pengutusan rasul dengan bukti-bukti yang nyata, Kitab, dan neraca agar manusia menegakkan keadilan.
Beliau juga memetakan tiga lapisan yang saling terhubung dalam pembangunan peradaban:
1. Metafisika, yang menjawab hakikat realitas dan tujuan kehidupan melalui tauhid, iman, serta kesadaran akan akhirat.
2. Etika dan pendidikan, yang membentuk manusia melalui adab, tanggung jawab, dan ilmu.
3. Institusi peradaban, yang menjadi ruang penerapan nilai melalui keluarga, sekolah, masjid, ekonomi, hukum, dan sains.
Metafisika menyediakan kerangka kebenaran, pendidikan menumbuhkan manusia beradab, sementara institusi menjadi tempat nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan bersama.
Krisis Peradaban Berawal Ketika Ilmu Kehilangan Adab
Menutup rangkaian pokok materi, Ustadz Wido mengajak peserta melihat krisis peradaban secara lebih mendasar. Persoalannya bukan semata-mata kurangnya teknologi, fasilitas pendidikan, atau jumlah lembaga pembelajaran.
Ilmu dapat kehilangan arah ketika hanya diperlakukan sebagai alat untuk memperoleh jabatan, kekuasaan, keuntungan, dan pengakuan sosial. Padahal, ilmu seharusnya menuntun manusia mengenali kebenaran dan menggunakan kemampuan yang dimilikinya secara bertanggung jawab.
Beliau mengangkat QS. Al-Hajj ayat 46 tentang kebutaan hati, serta QS. Fatir ayat 28 yang menjelaskan bahwa orang-orang berilmu memiliki rasa takut kepada Allah.
Pesan yang mengemuka ialah kemajuan sains dan teknologi perlu berjalan bersama adab. Sains memperluas kemampuan manusia, adab menuntun penggunaannya, sedangkan wahyu memberikan petunjuk mengenai tujuan akhir kehidupan.
Mengembalikan Ilmu kepada Tujuannya
Kajian yang berlangsung sekitar dua jam tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan ad-Din tidak berhenti pada definisi agama. Ia membawa peserta menelusuri hubungan antara penciptaan, fitrah, penghambaan, ilmu, adab, hingga terbentuknya peradaban.
Melalui pemaparan Ustadz Wido, empat makna ad-Din—keberutangan, penyerahan diri, kekuasaan pengadilan, dan kecenderungan alami—dihadirkan sebagai satu kesatuan yang menjelaskan kedudukan manusia di hadapan Allah.
Pada akhirnya, manusia tidak cukup hanya menjadi pribadi yang berpengetahuan. Ia perlu mengenali siapa Penciptanya, memahami untuk apa kehidupannya dijalani, serta menempatkan ilmu dan kemampuan pada jalan yang benar.
Sebab, peradaban yang kokoh bukan hanya lahir dari manusia yang cerdas, melainkan dari manusia yang mengenal kebenaran, beradab dalam menggunakan ilmunya, dan sadar bahwa seluruh kehidupannya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Pewarta :
Zill Samt














