https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg
Berita  

Rayakan Ulang Tahun ke -35 Tahun, Munumen Yogjakembali Siap Menampilkan Kesenian dan Lukisan Internasional.

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten Sleman – Kompassindonesianews.com Dalam rangka ulang tahun ke -35 tahun, Munumen Jogjakembali atau yang lebih dikenal dengan sebutan Monjali siap menampilkan kesenian tradisional Jogja dan pameran lukisan nasional dan mancanegara.

” Hal itu disampaikan, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Edy Winarya saat menghadiri pentas ketoprak yang diselenggarakan di Monumen Yogja Kembali (Monjali) pada Sabtu 29 Juni 2024.

” Kadis mengatakan, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman itu kan memiliki tugas pokok dan fungsi di dalam rangka pembinaan dan pengembangan museum.” Nah kita punya program peringatan hari besar dan anggaran yang kita sampaikan untuk memperingati ulang tahun Monjali yang ke-35 nanti jatuh pada tanggal 6 Juli 2024 ujar Kadis saat ditanya awak media.

” Lanjut Kadis, termasuk memperingati Jogja Kembali ini menjadi fasilitas kita agar Monjali bisa bangkit untuk bisa berekspresi.” Karena berat rasanya kalau kita pemerintah tidak hadir disitu, ini harapannya nanti Monjali bisa berkembang lebih baik dan juga ini menjadi bagian dari promosi kita kerjasama dengan teman – teman pematung biar ada daya tarik tutur Edy.

” Lanjut Edy, tidak hanya semata – mata hanya memperingati kan gitu.” Sehingga ini ada kita jadikan satu jahit dengan pameran patung internasional, karena ini patungnya besar – besar belum pernah kita kerjasama dengan komunitas ini.

” Sehingga harapan kami Monjali kedepan terus selalu berinovasi, selalu promosi, selalu ada hal – hal yang inovatif sehingga Museum ini tidak kelihatan menonton dari masa ke masa intinya prinsipnya itu aja ya.

” Di singgung tentang perawatan Monjali, ia berkata kalau perawatan Monumen ini diluar kita.” Karena memang kalau sesuai dengan regulasi Museum itu kan untuk pendidikan, dan untuk penelitian.

” Sebenarnya mengenai bisnisnya itu jatuh nomor berapa, lalu mengenai operasional ini intern dari Monjali sendiri dan Yayasan kita hanya mensupport aktivitas saja.

” Kadis juga menyampaikan, Monumen ini kan memiliki 42 Museum 21 Museum sendiri di Sleman.” Jadi kita selalu bersaing untuk inovasi Museum, sehingga Museum itu tidak di pandang kayak hanya simpanan koleksi satu – satunya tapi itu benar – benar menjadi pintu pembentukan karakter bagi anak – anak muda.

” Karena ketika kita melihat koleksi seperti sepedanya, seperti tandunya Jenderal Sudirman itukan kita kalau benar – benar kita rasakan betapa beratnya waktu itu berjuang.” Inikan membentukan karakter, ketika anak – anak menjiwai prinsipnya berharap Museum itu tidak hanya sekedar menyimpan barang – barang kuno, tetapi menjadi sebuah pintu pembentukan karakter bagi generasi muda kedepan tutup Edy.

” Sementara itu pelukis asal Sumatra Barat, Yusman yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa dalam rangka peringati hari jadi Jogja Kembali ke -35 tahun saya sendiri juga sudah lupa.” Baru di Jogja Kembali ini juga waktu membangun waktu membuat relief dan waktu itu saya ikut tahun 1989 jadi karya saya ada diatas yang mengepal detik – detik proklamasi dan menunjuk itu.

” Jadi sekalian dengan teman – teman istilahnya bahasa Jawanya kita sengkuyung untuk meramaikan Jogja Kembali ini, bagaimanapun juga dengan adanya 6 jam di Jogja Presiden kita Letkol Soeharto yang membuat dunia mengakui Indonesia adalah 6 jam di Jogja tambah Yusman.” Jadi ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh para Ketua kita, para pemimpin kita jangan sekali – kali melupakan sejarah.

” Di singgung soal karyanya selama membuat patung, Yusman berkata bahwa kalau karya saya sebagai pematung itu sudah 6 Presiden yang ada di istana negara Bogor Jawa Barat.” Patung itu sangat fenomenal sekali dan waktu membuatnya sangat cepat dan dianggap juga mirip, karena bahan bakunya dari perunggu ujar Yusman.

” Yusman juga berpesan kepada masyarakat, jadi kalau Monumen kita berhenti membuat Monumen – monumen berhenti kita kedalam Museum, maka terhenti pula pengenalan ke anak cucu kita terhadap sejarah bangsa.” Kita harus ingat dengan digital sekarang di satu sisi itu membawa bagus secara komunikasi dan semuanya internetan, tapi satu sisi juga akan merugikan anak – anak kita.” Ini juga termasuk keluarga saya sendiri, kadang – kadang orang tua lupa supaya anaknya itu nanti diam diberi HP dan coba kita lihat sekarang berapa banyaknya anak – anak kita matanya masih muda sudah rusak istilahnya ada hampir katarak ada yang tidak bisa membaca dan itu yang kita liat dari segi seni juga akan kita angkat tambahnya.(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *