https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg
Berita  

Bedah Buku Salah Kaprah Aksara Jawa, Bersama Syukron Arif Muttaqin

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten Sleman – Kompassindonesianews.com Salah Kaprah Aksara Jawa, merupakan salah satu tulisan yang membahas perihal tentang aksara Jawa.” Permasalahan – permasalahan yang sering muncul, dan sering menjadi pertanyaan terkait aksara Jawa.

Salah Kaprah Aksara Jawa ini, disajikan untuk memudahkan kita mengurai pernak – pernik yang terkait dengan penggunaan aksara Jawa baik yang sudah dalam bentuk naskah bacaan maupun kegiatan penulisan.

Pemahaman tentang aksara Jawa selama ini, hanya berhenti pada narasi – narasi filosofi dan motologi aspek lain dari hadirnya sebuah aksara tidak dinarasikan sedemikian rupa.

Sehingga banyak kalangan yang kemudian mengalami latah berjamaah apabila menemukan ada informasi, atau literasi baru tentang aksara Jawa.

Hal itu disampaikan oleh, Syukron Arif Muttaqin, sekaligus penulis buku yang berjudul ” Salah Kaprah Aksara Jawa ” yang di selenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman di The Rich Jogja Hotel pada hari Kamis tanggal 21 November 2024.

” Syukron, mengatakan kami DPRD DIY itu, terus terang prihatin sekali dengan situasi di masyarakat terkait dengan pelestarian bahasa sastra dan aksara Jawa.” Bahasa sendiri hari ini, generasi muda kita anak – anak kita remaja kita lebih suka menggunakan bahasa – bahasa ibu.

Bahasa ibu yakni setiap hari digunakan, kalau dulu kan bahasa ibu itu jarang sekali di gunakan oleh generasi sekarang padahal dalam bahasa ibu atau bahasa Jawa itu ada namanya karakteristik. Jadi misalnya setiap hari kita membiasakan diri dengan bahasa Jawa, itu secara tidak lansung mengajarkan tentang karakteristik kepribadian bahkan pendidikan karakter disitu,” tuturnya.

Secara tidak lansung bahasa Jawa, terdapat nilai – nilai itu.” Itu yang pertama, hari ini ibu – ibu hari ini generasi ibu – ibu muda generasi – generasi sekarang lebih senang atau lebih di biasakan dengan bahasa – bahasa yang nasional kalau di kesehariannya.

Lanjutnya, yang kedua ini aksara Jawa ini lebih parah lagi aksara itu dari sekian yang kita temukan sudah belajar mulai dari SD – SMP 9 tahun itu ketika ditanya atau diberikan soal terkait aksara Jawa banyak yang tidak bisa,” terang Syukron didepan ratusan orang yang hadir.

Lebih lanjut, Syukron menyampaikan ternyata proses pembelajaran selama 9 tahun yang ada itu belum menghasilkan orang itu mahir mengunakan aksara Jawa.” Nah ini, keprihatinan – keprihatinan yang seperti ini yang kita temukan di lapangan.

Untuk itu, maka kemudian kemaren DPRD membuat inisiasi untuk bagaiman agar bahasa Jawa itu tetap lestari tetap ada bahkan sampai nanti di kembangkan dan dipelihara oleh masyarakat itu sendiri sehingga tidak punah.

” Makanya payung hukum inilah yang kita terbitkan tujuan bedah buku ini, satu selain kita pingin dalam rangka untuk meningkatkan literasi kebiasaan membaca kepada masyarakat tentunya dengan membaca itu kan membaca itu jendelanya dunia.” Orang menjadi tau, paham dan bisa mengetahui apa yang menjadi isi dari buku itu.

Dengan begitu orang terbiasa membaca akhirnya dalam isinya adalah adalah aksara Jawa, tentunya orang akan kembali belajar aksara Jawa lagi.” Kemudian melestarikan kemudian mengembangkan bahkan bisa menjadi kebanggan, karena aksara Jawa ini salah satu kebanggaan karena dalam suatu bangsa itu hanya ada dua yang pokok jadi bahasa dan aksara.

Kalau salah satu hilang, hilanglah bangsa itu musnahlah bangsa itu.” Nah hari ini kita sudah mulai kesana banyak orang hari ini, Pak Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan penutur bahasa dan aksara itu umurnya 25 tahun lagi mereka sudah umur 50 tahun ya kalau masih hidup kalau sudah meninggal berarti 25 sampai 50 tahun lagi aksara Jawa akan hilang kalau tidak dilakukan regenerasi.

Jadi harapan kita kedepannya, dengan adanya kegiatan ini dan juga kebijakan – kebijakan yang diambil oleh pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten khususnya di Kabupaten Sleman, kalau hari ini kita di Sleman berharap agar tim implementasi dari Perda Nomor 2 tahun 2021 dan Pergub Nomor 43 tahun 2023 tentang pemeliharaan aksara Jawa ini dapat di implementasikan di seluruh bidang seluruh hal baik pemerintah, baik pendidikan maupun pariwisata.” Karena di tiga sektor itu yang menjadi fokus dari Pergub 23 bagaimana kemudian pengembangan di sektor pendidikan, sektor pariwisata dan sektor pemerintah syukur – syukur nanti kemudian merambat kepada sektor lain.

” Dengan begitu orang membiasakan diri mengunakan aksara Jawa, otomatis aksara Jawa ini tidak akan hilang tidak punah untuk di masa – masa yang akan datang,” tutup Syukron Arif Muttaqin penulis buku Salah Kaprah Aksara Jawa dan sekaligus anggota DPRD Kabupaten Sleman.(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *