https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Menyatukan Hati, Meneguhkan Arah: Silaturahmi dan Konsolidasi Dewan Pendiri K3A di Tanjungpinang

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Tanjungpinangkompasindonesianews.comDi tengah geliat zaman yang terus bergerak dan menantang, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Kekerabatan Keluarga Kabupaten Kepulauan Anambas (K3A) kembali menggelar pertemuan penting yang menjadi titik temu antara semangat masa lalu dan harapan masa depan. Bertempat di De Caffee Selera Anambas, kawasan Ruko Bintan Center, Kota Tanjungpinang, Kamis siang (19 Juni 2025), para tokoh dan Dewan Pendiri K3A hadir dalam forum silaturahmi dan rapat strategis yang berlangsung dalam suasana hangat, penuh keakraban namun sarat pemikiran besar.

Pertemuan ini bukan sekadar ajang bertukar sapa. Ia menjadi ruang kontemplatif untuk memperkuat fondasi organisasi, meneguhkan kembali nilai-nilai kekerabatan yang selama ini menjadi roh K3A, serta menyusun langkah-langkah nyata dalam menjawab tantangan organisasi di tengah perubahan sosial dan generasi.

Tokoh-tokoh penting turut hadir menghidupkan suasana forum. Ahmad Yani, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tanjungpinang, dan Saprialis, Camat Tanjungpinang Timur, hadir sebagai bagian dari representasi pemerintah daerah sekaligus tokoh senior Anambas. Di samping itu, hadir pula para pendiri K3A, tokoh masyarakat, serta generasi muda dari kalangan mahasiswa Anambas yang sedang menempuh studi di Tanjungpinang dan Bintan.

Sebagai salah satu pendiri utama, Drs. H. Amirullah, Apt memandu forum dengan menegaskan pentingnya reorientasi K3A agar tetap relevan dalam dinamika zaman. Ia menyoroti pentingnya organisasi untuk terus beradaptasi, namun tetap berpijak pada akar nilai dan semangat perjuangan yang telah diwariskan sejak awal berdiri. Dalam suasana yang sama, Bunda Anis Anorita — tokoh perempuan yang tak pernah lelah memperjuangkan ruang kolaborasi anak-anak Anambas — menyuarakan pentingnya pelibatan generasi muda dan kaum perempuan dalam gerakan sosial berbasis kekeluargaan.

Forum ini menjadi momen pemulihan dari dinamika internal yang sempat mewarnai perjalanan organisasi. Suara-suara kritis disambut dengan terbuka, dan perbedaan pandangan dijadikan bahan bakar untuk kembali menyatukan visi. Semua yang hadir menyadari, bahwa kekuatan utama K3A terletak pada semangat gotong royong dan keterbukaan hati, bukan pada perebutan ruang atau posisi.

Di tengah percakapan yang hangat dan terbuka, mengalir gagasan-gagasan segar yang menggugah. Wacana tentang Musyawarah Besar Luar Biasa (Mubeslub) K3A mengemuka sebagai bentuk ikhtiar menyegarkan kepengurusan dan menyusun kembali arah gerak organisasi. Penegasan bahwa K3A harus menjadi organisasi modern yang inklusif juga mengemuka melalui gagasan digitalisasi sistem keanggotaan, pembentukan pusat data kader, serta pelibatan seluruh diaspora Anambas melalui sistem hybrid, baik secara daring maupun luring.

Salah satu gagasan yang mendapatkan sambutan hangat adalah pendirian Rumah Singgah Anambas di Tanjungpinang — sebuah inisiatif kemanusiaan yang bukan hanya memberi tempat singgah bagi mahasiswa atau warga Anambas yang membutuhkan, tetapi juga menjadi simbol nyata bahwa solidaritas anak rantau tidak pernah padam.

Forum ini menyadarkan bahwa K3A bukan hanya struktur, bukan hanya nama, tetapi ruh kolektif yang menjelma sebagai identitas anak-anak Anambas di tanah perantauan. Ia adalah tempat pulang, tempat bertumbuh, dan tempat bersama-sama melangkah. Keteladanan para tokohnya bukan hanya pada jabatan, tetapi pada kepedulian yang tidak pernah henti, pada komitmen menjaga rumah besar ini tetap utuh dan hidup.

Silaturahmi dan rapat strategis ini pun ditutup dengan satu kesepahaman yang kuat: K3A harus terus bergerak, merangkul generasi baru, dan membuka ruang seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin berkontribusi tanpa syarat. Ini bukan hanya tentang masa lalu yang ingin dijaga, tetapi tentang masa depan yang ingin dibentuk bersama.

Sebagaimana yang disampaikan dalam penutup forum: “Kita bukan sedang mempertahankan organisasi untuk nama atau sejarahnya, tetapi untuk jiwa dan harapan setiap anak Anambas yang ingin merasa punya rumah, meski hidup jauh dari kampung halaman.” (Redaksi).

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *