https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Wakil Presiden RI, Menegaskan Negara Harus Turun Ke Sawah

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten SlemanKompassindonesianews.com Di tengah tantangan menurunnya produktivitas tebu dan ketergantungan impor, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan target swasembada gula konsumsi pada tahun 2026 dan sepenuhnya mandiri paling lambat 2028.

Pemerintah menegaskan langkah besar menuju kemandirian pangan nasional lewar rembuk tani bersama, Wakil Presiden RI di lahan ketahanan pangan Lanud Adisucipto, Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada Selasa 8 Juli 2025.

Wapres, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Siboanto, telah memberikan mandat jelas kepada Kementetian Pertanian untuk menyelesaikan berbagai persoalan klasik pertanian seperti pupuk, bibit, air, harga, dan mafia pangan.

Wakil Presiden, menekankan pentingnya modernisasi lewat mekanisasi, melibatkan anak muda dan sinergi riset dengan perguruan tinggi khususnya UGM.

Lanjutnya, masalanya sudah kita tahu semua. Solusinya juga ada, sekarang tinggal kita gontong royong jalankan. Negara harus turun ke sawah,” ujar Wapres di hadapan ratusan petani dan pemangku kepentingan.

” Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, memapatkan sejumlah terobosan konkret yang sedang dijalankan pemerintah. Mulai dari alokasi dana Rp.1,5 triliun untuk menjaga harga gula petani, kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tak lagi akumulatif skema apalis yang menjamin petani dapat mengakses kredit tanpa angunan hingga program bongkar ratun nasional tiga tahun berturut – turut untuk meningkatkan produktivitas.” Dulu kita penyuplai gula nomor dua didunia, kini saatnya bangkit lagi,” tegas Menteri Amran.

Ia menjelaskan data terbaru menunjukan, Indonesia saat ini memiliki 796.621 petani tebu yang mengekola 520.823 hektare lahan panen.

Sebanyak 83,5% tebu di Jawa berasal dari petani rakyat, namun mayoritas adalah tanaman ratun tua yang menyebabkan penurunan randemen. Kajian menunjukan bongkar ratun, dapat meningkatkan produksi hingga 15,5 ton per hektare dan rendemen dari 7,29% menjadi 7,65% .

Namun, implementasinya masih terbatas pada 8,27% lahan, jauh dari standar ideal 20%.” Tak hanya sebagai sentra produksi, Yogyakarta juga digagas sebagai pusat agro edukasi wisata industri gula dan inkubator inovasi teknologi tebu bersama kampus dan lembaga terkait lainnya.

Langkah – langkah strategis ini, mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mengembalikan kejayaan gula Indonesia,” pungkasnya.(JN)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *