OPINI
Kayu Agung, 4 Agustus 2025 — Kompassindonesianews.com Sebanyak 14 orang pekerja asal Palembang mengikuti proyek kerja konstruksi di kawasan industri OKI Pulp & Paper, tepatnya di Desa Bukit Batu, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Mereka tergabung dalam tim kerja dari subkontraktor PT. Putra Inti Lestari (PT. PIL).
Perjalanan dimulai pada Kamis, 24 Juli 2025, menggunakan speedboat dari BKB Palembang (Iwak Belido) menuju Sungai Rasau, lokasi barak tempat para pekerja tinggal sementara. Rombongan dipimpin oleh Bapak Arif, bersama ketua tim Hatta, dan anggota utama lainnya seperti Septian dan Heri Diantara.

Setelah tiba, para pekerja beristirahat dan bersosialisasi dengan rekan-rekan lama seperti Iwan dan Imam. Hari Minggu, mereka mulai bekerja di proyek pembangunan, yang berlangsung selama 9 hari hingga selesai masa kontrak.
Selama di lapangan, mereka mendapat arahan langsung dari Bapak Noel Nobel Situmeang selaku Site Manager PT. PIL, dengan pendampingan tim HSE, OKI
Bpk Ardi (SR) serta koordinasi teknis dari Mandor Leon (Ryoco) dan Fahri. Pengantaran ke lokasi kerja setiap hari ditangani oleh Pak Mansyur dan Dery.
Bagi salah satu pekerja, Moh. Saripudin, bekerja di Desa Bukit Batu bukan hanya soal profesi, tetapi juga perjalanan emosional pulang ke akar leluhur. “Leluhur dari pihak Bapak berasal dari Desa Bukit Batu, lalu hijrah ke Sungai Bungin, kawasan Sirah Pulau Padang, dan akhirnya menetap di Palembang. Jadi berada di sini seperti pulang ke asal,” ujarnya.
Menariknya, Desa Bukit Batu bukan hanya penting secara pribadi, tetapi juga secara budaya. Di kawasan inilah berkembang legenda Serunting Sakti atau Si Pahit Lidah dan Mata Empat, tokoh sakti yang diyakini mampu mengutuk hanya lewat ucapannya. Legenda ini tidak hanya dikenal luas di Sumatera, tetapi juga di mancanegara.
Gagasan untuk mengangkat kisah ini menjadi film pernah datang dari Prof. Dr. H. Ismail Jalili, budayawan dan tokoh pers nasional asal Sumsel. Beliau adalah pendiri STISIPOL Candradimuka Palembang, mantan Ketua PWI Sumsel (1991–1999), dan penerima Kartu Pers Nomor Satu, bersama tokoh-tokoh besar seperti Rosihan Anwar, Jacob Oetama, Dahlan Iskan, dan Karni Ilyas.
Meski proyek ini hanya berlangsung 9 hari, banyak kenangan dan pelajaran berharga yang didapat. “Bekerja di proyek ini sangat menyenangkan walau penuh tantangan. Tapi dari situ, kami belajar bahwa tidak ada kata gagal—yang ada hanyalah sukses dan belajar,” ujar Saripudin.
Para pekerja juga menyampaikan apresiasi kepada Kantin Doni, Nanang Cell, dan Veera Cell yang telah memberi kepercayaan kepada karyawan melalui sistem born. Bantuan ini sangat membantu memenuhi kebutuhan harian selama di lokasi.
“Semoga semua kebaikan dan kepercayaan ini dibalas oleh Allah SWT dengan keberkahan, kesehatan, dan kelancaran rezeki,” tutup Saripudin.
Penulis:Komar














