Lampung Timur, Kompassindonesianews – Setelah sebelumnya Viral puluhan siswa sekolah SD hingga SMK yang menjadi korban keracunan seusai mengkonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Bumi Agung Kabupaten Lampung Timur, Anggota Komisi IV DPR-RI Ir. H. Irham Ja’far Lan Putra beserta Anggota Komisi III DPRD Provinsi Lampung Hj. Diah Dharma Yanti SH., MH., dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) didampingi tiga orang Staf Tenaga Ahli (STA) DPR-RI Firman S, Eka Fitria dan Marlina mengunjungi korban di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sukadana, pada hari Sabtu 27 September 2025.
Dalam kunjungannya, Anggota Komisi IV DPR-RI dan Anggota Komisi III DPRD Provinsi Lampung tersebut disambut langsung oleh Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sukadana dr. Nila Sandrawati dan Anggota Kodim 0429 Lampung Timur.

Sebanyak 37 siswa menjadi korban Keracunan Akibat MBG dibawah naungan Yayasan Algozi Jaya Nusantara yang merupakan siswa SD, SMP hingga SMA. Dari total 37 korban keracunan MBG, 16 siswa menjalani rawat jalan, sementara 21 siswa masih dalam perawatan RSUD Sukadana, namun 16 siswa diantaranya telah diperbolehkan pulang oleh pihak RSUD Sukadana mengingat kondisinya telah berangsur membaik, namun 5 korban lainnya masih harus menjalani perawatan Rumah Sakit.
Anggota Komisi IV DPR-RI Irham Ja’far Lan Putra, saat diwawancarai terkait perihal tersebut menegaskan, pihaknya akan mengevaluasi serta menyampaikan perihal peristiwa ini kepada pimpinan pusat, serta meminta kepada seluruh masyarakat Lampung Timur agar tidak khawatir dengan Makanan Bergizi Gratis yang diberikan oleh pihak pemerintah kepada para siswa.
“Program MBG ini sebenernya baik, hanya saja dengan adanya peristiwa ini akan menjadi bahan evaluasi kami dan pimpinan pusat, saya berjanji akan mencari tau pokok persoalannya dimana, apakah dari bahan makanannya, atau kesalahan dari pihak pengelolanya. Meski adanya peristiwa ini, bukan berarti semua MBG sama dan terindikasi berbahaya,” ungkap Anggota Komisi IV DPR-RI kepada wartawan.
Akibat rasa trauma yang dialami, para korban mengaku enggan jika harus kembali mengkonsumsi makanan yang disuguhkan oleh pihak MBG dibawah naungan Yayasan Algozi Jaya Nusantara tersebut, pasalnya para korban takut akan terulang kembali peristiwa yang nyaris merenggut nyawa mereka tersebut.
“Kayaknya enggak lagi deh bang, takut keracunan lagi nantinya, untung masih selamet bang, kalau mati gimana coba,” ucap Rita siswi PGRI 1 Bumi Agung yang masih dirawat tersebut.
Sebanyak puluhan siswa di Kecamatan Bumi Agung, Kabupaten Lampung Timur, harus dilarikan ke RSUD Sukadana akibat mengalami gejala keracunan usai menyantap menu Hotdog dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), pada Jumat (26/9) lalu.
Direktur RSUD Sukadana, dr. Nila Sandrawati mengatakan, sebanyak 37 siswa menjalani perawatan medis akibat kasus tersebut.
Kepada Media Kompassindonesianews ia menyampaikan dari 37 siswa yang terdampak, 16 pasien mendapat penanganan rawat jalan, sementara 2 lainnya harus dirawat inap.
“Alhamdulillah semua siswa sudah tertangani dengan baik. Beberapa di antaranya yang dirawat kondisinya membaik dan sudah boleh pulang,” ujar dr. Nila saat dikonfirmasi di RSUD Sukadana, Sabtu (27/9).
Selain itu, mengenai gejala yang dialami para korban menurutnya beragam, beberapa keluhan diantaranya mata merah, pusing, muntah, mual, nyeri ulu hati, hingga demam yang dialami para korban. Meski hal tersebut sempat membuat kepanikan dan geger wilayah Lampung Timur, dr. Nila memastikan hingga sabtu (27/9) tidak ada penambahan pasien baru.
“alhamdulillah sudah berangsur membaik, namun ada beberapa pasien yang masih harus dirawat, tapi sekitar 16 korban sudah diperbolehkan pulang sore ini,” terangnya.
Selain dari pihak Polda Lampung yang sebelumnya diketahui telah mendatangi dan melakukan olah TKP di dapur SPPG Bumi Tinggi, guna memastikan penyebab keracunan, pihak RS Sukadana bersama dengan tim dari Dinas Kesehatan telah memeriksa sampel makanan untuk di laboratorium.
“Untuk sampel sudah kita kirim ke pihak Laboratorium agar dilakukan uji Lab lebih lanjut, supaya kita bisa mengetahui penyebab nya,” jelas dr. Nila.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Provinsi Lampung Diah Dharma Yanti dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) menghimbau semua pihak agar menunggu kesimpulan hasil penelitian laboratorium yang tengah dilakukan, dan
“Terkait dalam hal ini, kita berharap pihak pengelola SPPG dapat mengevaluasi kembali terhadap para pemasok suplayer bahan makanan, dan dapat lebih memperhatikan kualitas makanan yang akan diberikan kepada para siswa,” himbaunya.
Diah Dharma Yanti menambah jika ia akan mengkoordinasikan persoalan ini dengan pihak Komisi V di DPRD Provinsi Lampung.
“Kebetulan saya Komisi III, nantinya akan saya kordinasikan bersama komisi V yang berhubungan langsung dengan hal ini, supaya dapat memonitoring dan mengevaluasi program MBG khususnya di Lampung Timur ini,” pungkasnya.
Dilema besar selain menimbulkan banyak korban akibat MBG juga turut dirasakan oleh para pelaku UMKM lokal, pasalnya pihak pengelola dapur SPPG yang dinaungi oleh yayasan koperasi dinilai merusak harga pasar yang ada. Seperti halnya yang disampaikan salah satu masyarakat setempat, pihak pengelola dapur SPPG dibawah naungan Yayasan tersebut membeli pasokan bahan pokok makanan selain dari luar wilayah lokal, juga dengan harga yang dinilai masyarakat tidak masuk akal, yakni menggunakan harga posko.
“Tadinya kami berharap bisa memasok dengan harga pasar yang sesuai, tapi ini malah ditawar serendah-rendahnya, ya kami pelaku UMKM gak bisa kalau mau merusak harga pasar mas, kita juga memikirkan para penjual yang ada dipasar kalau harganya seperti itu, mreka bisa gulung tikar,” ungkap Mamat.
Program MBG yang menjadi program utama Presiden RI ke-80 Prabowo Subianto untuk meningkatkan gizi anak bangsa dalam canangan menuju Indonesia Emas 2045 adalah memberikan asupan Makanan Bergizi kepada anak, namun fakta dilapangan yang menjadi tanda tanya besar adalah oleh pihak pengelola dengan alasan perintah pusat merubah makna Makan Bergizi menjadi gabungan dengan Jajanan Bergizi.
Menu empat sehat lima sempurna untuk perbaikan gizi kini telah berubah makna menjadi Empat sehat Lima kemana?
Hingga Sabtu (27/9) pihak Yayasan Algozi Jaya Nusantara enggan memberikan komentar terkait peristiwa yang menelan korban tersebut. Lantas masih pantaskah Dapur SPPG tersebut diberikan izin operasi setelah adanya peristiwa yang nyaris menelan korban jiwa!
Masyarakat berharap Sanksi tegas terhadap para pelaku bisnis pengelola dapur SPPG yang bermasalah dapat diberikan, agar menjadi cambuk keras serta percontohan bagi dapur SPPG lainnya, untuk dapat lebih meningkatkan kualitas serta lebih menjaga dalam segi pengawasannya.
#Andi Selagai















