Palembang- Kompassindonesianews.com
Ratusan jamaah memenuhi Masjid Nurul Islam, Kecamatan Seberang Ulu II, Kelurahan 16 Ulu, Jalan Pertahanan, Palembang, dalam kegiatan Tausiah Subuh Berjamaah Pemerintah Kota Palembang, Ahad (26 Oktober 2025). Kegiatan religius ini dihadiri oleh Wakil Ketua Masjid Nurul Islam Ichsani Ramli, SH, bersama para pengurus dan jamaah aktif seperti H. Azhari Halim, H. Mutiono, serta Prof. Dr. H. Suwandi, M.Sc., Agr.
Dalam suasana khusyuk, Ustadz Jamiluddin menyampaikan pesan-pesan keteladanan tentang keikhlasan, keilmuan, dan kedekatan diri kepada Allah SWT.

Ustadz Jamiluddin, yang dikenal sebagai ulama muda berwawasan luas dan rendah hati, merupakan lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor, Pulau Jawa. Beliau hidup sederhana, tumbuh dari keluarga religius yang menanamkan nilai kejujuran dan cinta ilmu sejak kecil. Ayah dan ibunya dikenal sebagai pribadi yang saleh dan mengajarkan agar ilmu dijadikan jalan menuju keberkahan, bukan sekadar kebanggaan.
Dalam pembukaannya, Ustadz Jamiluddin menegaskan bahwa hidup bukan untuk mencari pujian dan hormat manusia, melainkan untuk mencari ridha Allah SWT.
“Siapa yang mengharapkan gila hormat, tunggulah, akan ada yang memuji, menghina, bahkan mencela gila. Pangkat, jabatan, dan kedudukan jika sudah tiada, semua akan menjauh. Tapi siapa yang dekat dengan Allah, maka Allah akan menyelesaikan semua urusannya,” ujarnya.
“Ia akan selalu dekat sepanjang masa, hingga akhir hayatnya. Seperti firman Allah dalam Surah Al-Fajr ayat 27–30: ‘Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.’”
Dalam lanjutan tausiahnya, Ustadz Jamiluddin menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu Fardhu ‘Ain dan ilmu Fardhu Kifayah sebagai fondasi kehidupan umat Islam.
“Ilmu Fardhu ‘Ain wajib bagi setiap pribadi Muslim — seperti ilmu tauhid, shalat, wudhu, dan akhlak. Tapi jangan lupa, ada juga ilmu Fardhu Kifayah seperti kedokteran, ekonomi, dan teknologi. Kalau tidak ada yang mempelajarinya, semua umat ikut berdosa,” jelasnya di hadapan jamaah Masjid Nurul Islam.
Beliau mengutip firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 122:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.”
Serta Surah Al-Mujadilah ayat 11:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Ustadz Jamiluddin mengingatkan bahwa agama tidak menolak kemajuan dunia, justru menuntun umat agar menjadi masyarakat yang berilmu dan berdaya.
“Ilmu Fardhu ‘Ain membentuk pribadi saleh, sedangkan ilmu Fardhu Kifayah membentuk masyarakat yang kuat. Bila keduanya berjalan seimbang, insya Allah Palembang akan menjadi kota yang maju dan diberkahi,” tuturnya disambut takbir oleh jamaah.
Beliau kemudian menjelaskan tiga cabang utama ilmu agama yang wajib diamalkan umat, yaitu ilmu fikih, ilmu tauhid, dan ilmu tasawuf.
“Ilmu fikih membimbing amal ibadah, ilmu tauhid meneguhkan keyakinan, dan ilmu tasawuf memperhalus akhlak. Bila ketiganya diamalkan, barulah seseorang masuk golongan orang-orang bertakwa,” jelasnya.
Ustadz Jamiluddin menyinggung kisah Nabi Ibrahim AS ketika meminta bukti kebesaran Allah.
“Allah berfirman kepada Ibrahim: ‘Ambillah empat ekor burung, potonglah, lalu letakkan di atas tiap-tiap bukit bagian darinya, kemudian panggillah mereka; niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.’ (QS Al-Baqarah: 260).”
Kisah ini menegaskan bahwa iman sejati bukan hanya percaya, tapi yakin sepenuhnya bahwa kekuasaan Allah meliputi segalanya.
Ia menambahkan, seseorang yang sholat namun masih mengambil barang bukan miliknya sejatinya belum mendirikan sholat dengan benar.
“Mengerjakan sholat hanya menggugurkan kewajiban, tapi mendirikan sholat berarti memahami dan mengamalkan nilai-nilainya. Barang siapa mengamalkan tiga pilar ilmu — fikih, tauhid, dan tasawuf — maka ia masuk golongan orang-orang bertakwa, sebagaimana firman Allah: ‘Hudal lil muttaqin’ — petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,” tuturnya.
Beliau juga menegaskan bahwa berdakwah bisa dilakukan dengan harta, ilmu, dan profesi.
“Seorang dokter yang menolong pasien karena Allah, itu berdakwah lewat ilmu medis. Seorang pengusaha yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, itu juga dakwah. Amalnya sangat luar biasa nilainya di sisi Allah,” katanya menutup penjelasan dengan nada penuh semangat.
Dengan gaya dakwah high explosive — tegas, logis, dan menggugah — serta low explosive — lembut, menyejukkan, dan mudah diterima — pesan-pesan Ustadz Jamiluddin diterima luas oleh masyarakat dari berbagai kalangan, baik akar rumput maupun kalangan terdidik.
Tausiah ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ustadz Jamiluddin.
“Ya Allah, jadikanlah kami umat yang berilmu dan beramal, dekat dengan-Mu dalam suka maupun duka. Limpahkan berkah-Mu bagi kota Palembang dan seluruh warganya. Jadikan kami bagian dari hamba-Mu yang Engkau panggil: ‘Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.’”
Program Tausiah Subuh Berjamaah merupakan satu-satunya gerakan religius pertama di Sumatera Selatan, dirintis sejak tahun 2016 oleh Wali Kota H. Harnojoyo melalui Bagian Kesra Setda Kota Palembang, dengan dukungan Dinas Kominfo dan para pengurus masjid.
Dalam pernyataannya di Antara Sumsel, Harnojoyo menegaskan, “Subuh berjamaah adalah upaya untuk melatih disiplin diri, serta meningkatkan etos kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, serta tuntas.”
Program ini terus dilanjutkan oleh Wali Kota Ratu Dewa dan Wakil Wali Kota Prima Salam dengan semangat yang sama, menjadikan Palembang sebagai kota beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
( KOMARUDIN )















