https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Dinkes Kesehatan Sleman, Mencatat Kasus ISPA Tahun ini Mencapai 94.017 Kasus

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

KABUPATEN SLEMANKompassindonesianews.com Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mencatat jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 94.017 kasus sepanjang tahun ini, angka tersebut menjadikan ISPA sebagai salah satu penyakit dengan jumlah kasus tertinggi di Kabupaten Sleman dan berpotensi terus meningkat hingga akhir tahun.

Kapala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Cahya Purnama mengatakan data tersebut berasal dari laporan Puskesmas dan Fasilitas kesehatan di seluruh wilayah Kabupaten Sleman,” ujarnya saat jumpa awak media Selasa 28 Oktober 2025.

” Menurutnya, rata – rata kasus mingguan mencapai ribuan dan menunjukan tren kenaikan. Ini, kalau kita hitung menurut data kasus permingguan adalah sekitar 2.299 kasus,” terangnya.

Ia juga menjelaskan, peningkatan kasus kemungkinan masih akan terjadi hingga November mendatang. Perubahan musim dan cuaca ekstrem disebutnya menjadi faktor utama, yang menurunkan daya tahan tubuh masyarakat.

Lanjutnya, mulai Oktober, November ini mungkin akan meningkat terus. Kita harus selalu ingat bahwa di hari – hari tersebut ada Natura di mana terjadi mobilisasi penduduk yang cukup besar yang akan masuk ke Kabupaten Sleman,” jelas Cahaya.

Lebih lanjut, ia menuturkan masyarakat dengan mobilitas tinggi seperti pelajar perlu lebih waspada karena penularan ISPA di lingkungan sekolah berlangsung sangat cepat.

Ini hampir semua umur, terutama mereka yang mobilitasnya tinggi. Seperti tadi, misalnya di sekolahan itu begitu ada satu anak terkena biasanya cepat sekali menyebar di tempat kerumunan.

Kami menghimbau pihak sekolah memberi izin sakit bagi siswa yang mengalami flu berat, demam, atau penyakit menular lainnya untuk mencegah penyebaran di lingkungan sekolah. Diliburkan itu kalau ada yang sakit, anak yang sakit tadi terutama sakit flu berat yang mulai panas diliburkan aja diberi jatah sakit atau izin sakit supaya tidak menular ke yang lain. Tidak hanya untuk flu, tapi juga untuk cacar air, conjunctivitis, dan penyakit menular lainnya,” paparnya.

Kadis Cahaya, menambahkan meski influenza memiliki tingkat fatalitas rendah penyebarannya sangat cepat dan berisiko bagi masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid. Sebenarnya kalau influenzanya sendiri fatalitasnya tidak tinggi, tidak begitu berbahaya itu penyebaranbya capat. Dan kalau punya komorbid tadi itu yang harus hati – hati punya jantung, punya asma, stroke, atau anemia, penyakit pernapasan atas bisa lebih para.

Ia menegaskan peningkatan kasus ISPA setiap tahun umumnya terjadi pada masa peralihan musim, akibat perubahan cuaca ekstrem yang melemahkan imunitas.

Biasanya, pengalaman tiap tahun itu setiap ada peralihan musim dimana terjadi perubahan cuaca yang ekstrem ini biasanya juga meningkat. Karena tidak hanya pada varian virus atau bakteri dari influenzanya sendiri, tapi juga pada orangnya sendiri yang daya tahan tubuhnya rendah,” pungkasnya.(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *