https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Berpengalaman Pelayanan Kemanusiaan, YAKKUM Emergency Beri Pendampingan Kepada 300 Desa

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

YOGYAKARTAKompassindonesianews.com YAKKUM Emergency Uni (YEU) menggelar pertemuan audiensi inovator IDEAKSI 2.0 dan Multipihak, bertempat di Hotel TARA Yogyakarta Kamis 20 November 2025.

YAKKUM Emergency Uni (YEU) merupakan salah satu unit kerja Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (YAKKUM), dengan mandat utama melakukan tanggap darurat bencana dan inisiatif kesiapsiagaan komunitas.

YEU memiliki pengalaman pelayanan kemanusiaan sejak tahun 2001 dan memberikan pendampingan kepada lebih dari 300 Desa, serta bermitra dengan para pihak, termasuk aktor – aktor penanggulangan bencana, pemerintahan setempat dan organisasi berbasis komunitas, baik di Indonesia maupun luar negeri.

YEU bekerja berdasarkan prinsip netralitas dan imparsial, sehingga tidak memandang Ras, Agama, atau kelompok, dan mengutamakan kepentingan kemanusiaan untuk penanggulangan bencana yang inklusif.

” Hal itu disampaikan oleh, Jessica Novia selaku Manajer Projek mengatakan YEU telah menjalankan program Community – led Innovation Partnership (CLIP) atau kemitraan untuk inovasi berbasis komunitas sejak April 2020 hingga Maret 2025 melalui IDEAKSI – Ide Inovasi Aksi Inklusi.

Lanjutnya, program IDEAKSI yang di jalankan bersama 15 inovator komunitas di lima Kabupaten dan Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta, telah berhasil melahirkan beragam solusi yang berakar pada kearifan lokal, pemanfaatan teknologi tepat guna, serta pengembangan model pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Ia menyebut, inovasi – inovasi tersebut terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan komunitas terhadap bencana.

Namun demikian, keberlanjutan serta perluasan dampak dari program dan inovasi tersebut memerlukan dukungan yang lebih kuat.

Seperti jejaring kemitraan yang luas, serta pengakuan dan replikasi di berbagai tingkatan. Sebagai tindak lanjut dari upaya tersebut, YEU akan menyelenggarakan pertemuan audiensi inovator IDEAKSI 2.0 dan Multipihak, yang bertujuan untuk membuka ruang dialog berbagi pengalaman dan memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mendukung serta memperluas penerapan inovasi – inovasi lokal sebagai bagian dari sistem penanggulangan bencana yang inklusif, berkelanjutan dan berbasis masyarakat, bersama pemangku kepentingan.

” Lebih lanjut, Jessica menambahkan pertemuan ini sangat penting untuk inovator lokal, untuk kita bisa mengetahui sebenarnya ada program kerja di Instansi, Lembaga, dan Dinas, apa yang bisa mendukung keberlanjutan dari inisiatif masyarakat ini. Serta juga mengetahui jika misalnya ada program – program atau kompetisi yang bisa diikuti, atau jika kami bisa melaporkan capaian – capaian ini sebagai juga penilaian dari kinerja satu Kalurahan atau dari Dinas sehingga ada kolaborasi dari kedua belah pihak.

Kami ingin mengetahui dan juga memperdalam kebijakan apa dari instansi Dinas tersebut atau program kerjanya sehingga inovasinya tetap bisa betlanjut.

Harapannya, semua pihak itu bisa berkolaborasi. Baik semisalnya dari Dinas juga bisa melaporkan pencapaian di DIY, lewat kegiatan – kegiatan masyarakat ini.

Contohnya di Kabupaten Bantul, ada dapur umum bergerak dari FPRB Multigading yang barusan juga menang juara satu inovasi Kalurahan di Bantul.

Inovasi – inovasi ini juga meningkatkan kapasitas di Desa atau Kalurahan, jadi kesiapsiagaan terkait bencana dan krisis iklim bisa di pimpin oleh masyarakat. Jadi waktu responnya lebih singkat, lebih efektif, dan yang pastinya keberlanjutan. Keberlanjutan karena idenya juga muncul dari masyarakat, inovator lokal dari delapan kelompok dari, Kabupaten Bantul, Kulonprogo, Sleman, Kota Jogja. Dalam acara ini, kami mengundang dari BAPPEDA, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, BPBD, Kebudayaan, Kalurahan, Paniradya.

Acara ini rutin setiap tahunnya diadakan, kami mengundang para pihak untuk mengengarkan capaian inovasi dan audiensi ini juga salah satu bentuk untuk mencari dukungan keberlanjutan,” tutup Jessica.

” Salah seorang perwakilan dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bantul, Nur Hildan mengatakan adanya kegiata ini kami sangat terbantu. Karena kami bisa mewujudkan inovasi kami dengan lebih baik, sehingga bisa terwujud dapur umum bergerak namanya Dapur Umum Bergerak Murtigading, dapur umum bergerak ini bentuknya semacam Campervan yang bisa ditarik kemampuan dan bisa akses kemampuan.

Jika ketika ada bencana, kita tidak membutuhkan dapur umum seperti yang di miliki Dinas Sosial, seperti truk jadi kita bisa menarik dapur umum kami ke segala tempat.

Harapannya kedepan bisa keberlanjutan dan untuk Kalurahan – Kalurahan yang di tetapkan sebagai Desa penyangga atau Kalurahan penyangga itu mempunyai ini jadi bisa menduplikasi ini,” katanya.

Kalau dulu kita harus membuat dapur umum itu harus membuat tenda, kita harus mengangkat barang – barang segala macam, kompor itu kan harus membutuhkan waktu, dengan adanya dapur umum bergerak ini lansung ada jadi sekali angkut terus langsung kita buka dan masyarakat lansung bisa memanfaatkannya,” ungkapnya.(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *