https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Mahasiswa dan Tantangan Zaman Digital: Kritik atas Pragmatisme dan Pudarnya Kesadaran Kolektif di Era Society 5.0 Oleh Lazuardi Tahta Ainullah

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

OPINI

Kemajuan teknologi yang melahirkan konsep Society 5.0 sering dipresentasikan sebagai babak baru peradaban manusia. Dalam gagasan ini, teknologi digambarkan hadir untuk melayani manusia, mempermudah kehidupan, serta menjawab berbagai persoalan sosial secara lebih cerdas dan terintegrasi. Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat persoalan mendasar yang kerap luput dari perhatian: perubahan cara berpikir manusia, khususnya mahasiswa, yang semakin pragmatis dan berjarak dari nilai-nilai kolektif.
Mahasiswa merupakan kelompok yang paling cepat menyerap dan memanfaatkan teknologi. Aktivitas akademik, komunikasi sosial, hingga pengambilan keputusan kini banyak berlangsung di ruang digital. Kecepatan dan kemudahan menjadi standar baru. Sayangnya, percepatan ini tidak selalu diiringi dengan pendalaman makna. Banyak mahasiswa mulai memandang proses sebagai beban, dan hasil instan sebagai tujuan utama. Pola pikir semacam ini secara perlahan membentuk karakter pragmatis yang mengukur segala sesuatu berdasarkan manfaat langsung.
Dampak paling nyata dari pola pikir tersebut terlihat pada melemahnya budaya organisasi di kampus. Organisasi mahasiswa yang dahulu menjadi ruang pembelajaran nilai, solidaritas, dan kepemimpinan, kini sering dianggap tidak lagi relevan. Keikutsertaan dalam organisasi dinilai dari apa yang bisa diperoleh secara cepat sertifikat, jabatan, atau jaringan bukan dari proses pembentukan karakter dan kesadaran sosial. Ketika organisasi tidak memberikan keuntungan instan, minat mahasiswa pun surut.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang lebih luas. Sistem pendidikan yang menekankan capaian kuantitatif, dunia kerja yang menuntut efisiensi ekstrem, serta budaya kompetisi yang kian keras, turut membentuk cara pandang mahasiswa. Dalam situasi seperti ini, idealisme sering dianggap tidak realistis, bahkan utopis. Mahasiswa didorong untuk menjadi “siap pakai”, bukan “siap berpikir”.
Namun, jika pragmatisme dibiarkan tumbuh tanpa kendali, mahasiswa akan kehilangan peran historisnya. Sejak lama, mahasiswa dipandang sebagai kekuatan moral dan intelektual yang mampu menggerakkan perubahan sosial. Peran ini tidak mungkin dijalankan hanya dengan kecakapan teknis. Tanpa kepekaan sosial, keberanian bersikap, dan kesadaran kolektif, mahasiswa akan terjebak menjadi individu-individu cerdas yang tercerai-berai.
Organisasi mahasiswa sejatinya merupakan ruang strategis untuk menjaga keseimbangan tersebut. Di sanalah mahasiswa belajar memimpin dan dipimpin, berdialog dengan perbedaan, serta mengasah kemampuan berpikir kritis. Kepemimpinan tidak tumbuh dari teori di ruang kelas, melainkan dari pengalaman mengelola konflik dan tanggung jawab. Komunikasi tidak hanya soal menyampaikan pesan, tetapi membangun kepercayaan. Berpikir kritis pun lahir dari keberanian mempertanyakan arah zaman, bukan sekadar mengikuti arusnya.
Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan penentu arah hidup. Ketika mahasiswa terlalu bergantung pada teknologi hingga mengabaikan proses berpikir dan refleksi, maka yang terjadi bukanlah kemajuan, melainkan pengerdilan kesadaran. Kampus berisiko melahirkan generasi yang mahir secara teknologis, tetapi miskin nilai dan empati.
Pada akhirnya, Society 5.0 bukan sekadar soal kecanggihan sistem, melainkan soal kedewasaan manusia dalam mengelola perubahan. Mahasiswa berada di titik krusial: memilih menjadi generasi yang larut dalam pragmatisme, atau generasi yang mampu memadukan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pilihan ini akan menentukan arah masa depan, bukan hanya bagi mahasiswa itu sendiri, tetapi juga bagi masyarakat yang kelak mereka pimpin.
Opini ini menegaskan bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan dari seberapa kuat karakter manusia yang mengendalikannya. Revitalisasi budaya organisasi, penguatan soft skills, serta keberanian berpikir kritis perlu kembali ditempatkan sebagai prioritas. Tanpa itu semua, Society 5.0 hanya akan menjadi simbol kemajuan semu—maju secara teknologi, tetapi rapuh secara nilai.

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *