BENGKALIS – Kompassindonesianews.com – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, menuai sorotan tajam publik selama bulan Ramadan. Perbedaan menu antar sekolah serta dugaan kualitas makanan yang menurun memicu gelombang pertanyaan dari para orang tua siswa.
Sejumlah wali murid membagikan foto dan rincian menu MBG di media sosial. Unggahan tersebut dengan cepat viral dan memicu diskusi luas di tengah masyarakat. Banyak yang menilai menu yang diterima anak-anak mereka terkesan “seadanya”, minim variasi, bahkan diduga tidak layak konsumsi.
Di SD Negeri 45 Bengkalis Kecamatan Bengkalis, pada Senin, 23 Februari 2026, untuk jatah tiga hari siswa menerima telur 3 butir, kurma 8 buah, nugget 3 potong, dan tempe. Namun sejumlah orang tua mengaku makanan tersebut sudah dalam kondisi kurang segar saat hendak dikonsumsi pada berbuka puasa.
Keluhan ini semakin menguat setelah muncul perbandingan dengan titik MBG lain yang masih berada di Pulau Bengkalis. Pada tanggal yang sama, untuk jatah tiga hari, siswa di lokasi lain menerima kue meri 3 bungkus, susu kurma kaleng 2, susu UHT 1 kotak, roti 6 buah, telur 4 butir, serta kurma 2 bungkus dengan isi sekitar 8 hingga 9 butir per bungkus.
Perbedaan jumlah, variasi, dan komposisi menu ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Apakah standar pembagian tidak seragam? Apakah pengawasan distribusi berjalan optimal?
Kemudian pada Kamis, 26 Februari 2026, untuk jatah tiga hari ke depan, siswa di SD Negeri 45 Bengkalis kembali menerima menu berupa kerupuk, roti, bolu, ayam, dan kurma. Meski terdapat tambahan lauk ayam, sebagian orang tua tetap mempertanyakan daya tahan makanan hingga waktu berbuka serta keseimbangan gizinya.
Situasi ini semakin sensitif karena terjadi di bulan Ramadan, ketika pola makan anak berubah dan asupan gizi harus tetap terjaga meski waktu konsumsi terbatas pada sahur dan berbuka. Kekhawatiran mencuat terkait kesegaran makanan, kandungan nutrisi, serta kesetaraan antar sekolah penerima manfaat.
Program MBG sendiri berada di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional dengan tujuan strategis meningkatkan kualitas gizi anak sekolah. Di Kabupaten Bengkalis, pelaksanaannya juga melibatkan berbagai unsur pada sejumlah titik distribusi.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi yang menyebutkan adanya pelanggaran standar. Namun, perbedaan menu yang nyata di lapangan serta keluhan soal kualitas menjadi ujian serius terhadap konsistensi implementasi program.
Masyarakat kini menuntut transparansi, evaluasi menyeluruh, dan pengawasan ketat agar program yang digadang-gadang sebagai langkah strategis pemenuhan gizi anak sekolah tidak justru menimbulkan ketidakpercayaan publik di daerah.
Penulis Harry














