https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg
Berita  

Sleman Tahun 2030, Menuju Pionir Literasi Masa Depan

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten SlemanKompassIndonrsianews.com Sebagai Kabupaten literasi yang telah diakui secara nasional, Kabupaten Sleman kini berada pada titik balik untuk melompat lebih jauh.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sleman, berkomitmen menerjemahkan visi – misi Bupati Kabupaten Sleman dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera, mandiri, dan berbudaya melalui penguatan fondasi intelektual. Vis Sleman 2030 ” Pionir Literasi Masa Depan ” bukan sekadar slogan, melainkan peta jalan menuju peradaban berbasis pengetahuan (knowledge-based society),” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi, saat jumpa awak media Kamis 5 Maret 2026.

Ia mengatakan kami mendukung visi – misi Bupati Sleman, program literasi ini merupakan pilar utama dalam mendukung visi Bupati untuk meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan non formal dan akses informasi yang inklusif,” jelasnya.

Lanjutnya, memperkuat ketahanan ekonomi berbasid literasi terapan literasi kesejahteraan. Melestarikan budaya lokal, melalui pengarsipan sejarah Sleman sebagai jati diri bangsa.

Lebih lanjut, ia menjelaskan program – ptogram yang telah berjalan rekam jejak Sleman tidak berangkat dari nol, beberapa capaian yang menjadi modal utama menuju 2030 antara lain Desa atau Kalurahan transformasi perpustakaan bukan lagi sekedar tempat meminjam buku, tapi menjadi co-working space dan pusat pemberdayaan masyarakat.

Ia menyebut, digitalisasi kearsipan modernisasi sistem kearsipan daerah agar memori kolektif Kabupaten Sleman tetap terjaga dan mudah dakses oleh generasi mendatang.

Sleman membaca (E-Library) optimalisasi aplikasi perpustakaan digital untuk menjangkau wilayah pelosok dan generasi milenial Z. Literasi berbasis komunitas, kolaborasi aktif dengan pegiat literasi, sekolah, dan taman baca masyarakat di seluruh Kapanewon/Kecamatan.

Tantangan menuju 2030 dalam perjalanan menuju pionir literasi masa depan, terdapat tantangan nyata yang harus dihadapi.

Disrupsi digital bagaimana mengalihkan ketergantungan pada gawai (gadget) dari sekadar konsumsi konten pasif menjadi produksi konten kreatif dan informatif.

Lebih lanjut, ia menambahkan kesenjangan akses memastikan fasilitas literasi berstandar tinggi, merata hingga ke tingkat Padukuhan. Kami merubah stigma arsip dari tumpukan kertas lama, menjadi aset strategis untuk pengambilan kebijakan dan riset masa depan. Jadi kecakapan baru tantangan literasi masa depan mencakupi kemampuan data, AI dan pemilahan informasi (anti hoaks) di tengah banjir informasi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, DPK Kabupaten Sleman akan berfokus pada literasi terapa inklusi sosial. Memastikan setiap bacaan di perpustakaan mampu dikonversi menjadi keterampilan ekonomi bagi masyarakat.

Pusat dokumentasi sejarah visual, mengintegrasikan arsip masa lalu seperti 110 tahun Kabupaten Sleman dengan teknologi masa depan (VR/AR) untuk edukasi yang imersif Sleman Literasy Hub.

Kita ingin menjadikan Kabupaten Sleman, sebagai tuan rumah bagi pemikir, penulis, dan inovator melalui festival literasi berskala internasional.

Literasi adalah investasi jangka panjang, dengan semangat Nyawiji dan gotong royong, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman mengajak seluruh rekan media untuk menjadi mitra strategis dalam menyebarkan energi positif ini.” Mari kita kawal Sleman bukan hanya sebagai pembaca yang baik, tapi sebagai pencipta masa depan yang gemilang,” tutup Shavitri.(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *