https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg
Berita  

Jalan Kampung Menjadi Cerita Panjang: Refleksi dari Kampung Jantungen, Yang Sudah Bertahun Tahun Belum Terlaksana

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

kompassindonesianew.com- Tangerang Di tengah kemajuan zaman, masih ada cerita pilu dari Desa-Desa terpencil yang berjuang untuk mendapatkan perhatian dasar seperti jalan yang layak.
Rabu, 11/03/2026

Kampung Jantungen, Desa Mekarsari, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, menjadi gambaran nyata betapa janji-janji Pembangunan Jalan Kampung seringkali hanya menjadi angan-angan yang tak kunjung terwujud. Ketidak pedulian Kepala Desa dalam menanggapi keluhan masyarakat membuat harapan akan perubahan semakin redup.

Artikel ini mengajak kita menelaah makna perhatian, tanggung jawab, dan bagaimana suara rakyat kecil bisa menjadi titik balik perubahan.

Apakah Anda pernah membayangkan bagaimana rasanya ingin melangkah ke suatu tempat tapi terhalang oleh jalan yang hanya bisa dibuat cerita sedih? Begitulah nasib Jalan Kampung di Kampung Jantungen, Desa Mekarsari, Tangerang. Meski sudah diajukan perbaikan dari tahun 2014 hingga harapan dilayangkan ke tahun 2026, sungguh miris, jalan itu masih tetap dalam kondisi yang memperihatinkan.

Mari kita coba masuk ke dalam kisah Masyarakat di sana. Bayangkan sebuah acara resepsi yang mestinya jadi momen bahagia dan hangat. Namun siapa sangka, bahkan ingin sekadar melewati jalan menuju lokasi acara, jangankan kendaraan, pejalan kaki pun kesulitan. Jalan berlumpur, berlubang dan tidak rata jadi penghalang utama. Ini bukan sekadar persoalan Infrastruktur— ini persoalan martabat dan hak Warga untuk hidup layak.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik dan berbagai Studi pembangunan Desa di Indonesia, akses jalan yang baik sangat memengaruhi kualitas hidup Masyarakat. Tak hanya mempermudah Mobilitas, tapi juga memengaruhi Ekonomi lokal, Kesehatan, dan Pendidikan. Jadi, ketika sebuah Desa mengalami ‘jalan buntu’ seperti Kampung Jantungen ini, artinya ada ketimpangan pemenuhan kebutuhan dasar yang memengaruhi kesejahteraan warga sehari-hari.

Kecewa? Tentu saja. Masyarakat Kampung Jantungen sudah mencoba menyuarakan aspirasi mereka melalui jalur resmi, pun lewat RT dan RW masing-masing. Namun respons yang minim dari Kepala Desa justru menambah luka. Seolah Kepemimpinan itu hanya sebatas embel-embel tanpa nyata turun tangan memperbaiki nasib Warga
bersama: Apa arti Pemimpin jika aspirasi rakyatnya hanya menjadi angin lalu? Bukankah dalam filosofi Kepemimpinan, seorang Kepala Desa adalah nahkoda yang harus mengarahkan dan melindungi kehidupan Warganya? Bila peran itu abai, betapa berat beban yang ditanggung oleh Rakyat kecil yang hanya menunggu sekenario perubahan.

Dalam dunia Demokrasi, Suara Rakyat adalah yang utama. Namun, tidak hanya cukup mengucapkannya lewat protes atau keluhan, kita butuh wadah dan mekanisme yang efektif agar setiap untaian aspirasi bisa dikonversi menjadi aksi nyata. Di sisi lain, Kepala Desa dan Pejabat terkait harus Responsip dan mengetuk hati nurani untuk menjadikan ‘Jalan Kampung’ bukan sekadar impian jauh, tetapi Realita yang dapat dirasakan oleh setiap Masyarakat.

Mari kita ambil pelajaran dari Kampung Jantungen ini sebagai pengingat bersama akan Pentingnya Pemerataan Pembangunan. Jalan adalah simbol pergerakan dan kemajuan. Bila jalan itu terhambat, maka perjalanan menuju kesejahteraan pun ikut terhambat. Kita perlu menjadi bagian dari solusi — apakah dengan meningkatkan partisipasi Masyarakat dalam Pengawasan Pembangunan, memberi tekanan melalui media sosial, atau mendorong Transparansi Anggaran Desa agar dana pembangunan bisa dialokasikan dengan tepat.

(Yolanda)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *