OPINI
JAKARTA— Kompassindonesianews.xom Banyak orang mengatakan bahwa waktu adalah uang. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi diam-diam menjadi prinsip hidup sebagian besar manusia modern. Kita bekerja lebih lama, tidur lebih sedikit, mengejar target tanpa henti demi sesuatu yang disebut “masa depan”. Kita rela mengorbankan hari ini agar rekening bertambah esok hari.( 23/06/2026)
Namun ada satu hal yang sering lupa dipahami: waktu memang bisa menghasilkan uang, tetapi uang tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu.
Kita bisa tahu berapa sisa uang di dompet atau rekening kita. Angkanya jelas, bisa dihitung, bisa diprediksi. Jika habis, kita masih punya peluang untuk mencari lagi. Kita bisa bekerja lebih keras, membuka usaha baru, atau memulai dari nol. Uang selalu punya kemungkinan untuk kembali.
Tetapi waktu tidak bekerja seperti itu.
Tidak ada manusia yang tahu berapa sisa waktunya di dunia. Tidak ada notifikasi yang memberi tahu bahwa hidup tinggal lima tahun, tiga bulan, atau bahkan satu hari lagi. Kita hidup dengan ilusi seolah umur masih sangat panjang, sampai akhirnya kenyataan datang tanpa peringatan.
Ironisnya, manusia sering sangat hati-hati mengatur keuangan, tetapi begitu ceroboh menggunakan waktu. Kita takut kehilangan uang seratus ribu rupiah, tetapi rela menghabiskan berjam-jam untuk hal yang tidak berarti. Kita sibuk mengejar penghasilan, tetapi lupa memberi waktu untuk keluarga, kesehatan, bahkan diri sendiri.
Ada orang yang kaya raya, tetapi tidak punya waktu menikmati hidupnya. Ada yang memiliki rumah besar, tetapi jarang pulang. Ada yang bekerja siang malam demi masa depan anak, tetapi kehilangan masa kecil anak itu sendiri.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling banyak mengumpulkan uang. Sebab ketika usia selesai, tidak ada satu pun saldo yang bisa menambah satu detik kehidupan.
Waktu adalah aset paling mahal yang dimiliki manusia. Bedanya, aset ini terus berkurang setiap hari tanpa bisa dihentikan. Dan yang paling menakutkan, kita tidak pernah tahu kapan hitungannya mencapai nol.
Karena itu, mungkin hidup tidak seharusnya hanya tentang menjadi kaya, tetapi juga tentang menjadi hadir. Hadir untuk orang-orang yang kita cintai. Hadir untuk menikmati pagi tanpa terburu-buru. Hadir untuk tertawa, beristirahat, bersyukur, dan benar-benar hidup.
Sebab suatu hari nanti kita akan sadar bahwa yang paling kita butuhkan bukan tambahan uang, melainkan tambahan waktu.
Dan saat kesadaran itu datang, sering kali semuanya sudah terlambat.
Kita bisa mencari uang yang hilang, tetapi tidak pernah bisa mencari waktu yang terbuang. Karena uang punya angka, sedangkan waktu punya rahasia.”
Mursalih














