Naskah Opini
Jakarta:24.Mei 2026
Di dunia ini, jangan terlalu berharap pada siapa pun. Sebab manusia bisa berubah, keadaan bisa berbalik, dan janji bisa memudar seiring waktu. Bahkan bayangan yang selalu mengikuti kita pun akan meninggalkan saat gelap datang. Itu bukan sekadar perumpamaan, melainkan kenyataan yang sering terlambat disadari.
Kita hidup di tengah dunia yang penuh hubungan sementara. Ada yang datang karena butuh, ada yang tinggal karena nyaman, dan ada pula yang pergi tanpa alasan yang jelas. Ironisnya, sering kali kita menggantungkan kebahagiaan, ketenangan, bahkan kekuatan hidup kepada orang lain. Padahal manusia memiliki keterbatasan hati dan kepentingannya masing-masing.
Terlalu berharap pada manusia hanya akan membuat kita mudah kecewa. Hari ini seseorang bisa berkata akan selalu ada, namun esok keadaan dapat mengubah segalanya. Bukan karena semua orang jahat, tetapi karena hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Kesibukan, perubahan perasaan, jarak, bahkan waktu dapat membuat seseorang yang dulu terasa dekat menjadi asing.
Dari situlah hidup mengajarkan satu hal penting: jangan jadikan manusia sebagai tempat bergantung sepenuhnya. Bersandar boleh, percaya boleh, mencintai juga boleh. Namun jangan menyerahkan seluruh kekuatan diri kepada sesuatu yang bisa hilang kapan saja.
Bayangan adalah simbol paling sederhana tentang kesetiaan. Ia selalu mengikuti ke mana pun kita berjalan. Tetapi ketika gelap datang, bayangan itu lenyap tanpa suara. Begitulah dunia. Saat hidup terang, banyak orang mendekat. Saat keadaan sulit, tidak semua mampu bertahan di sisi kita.
Karena itu, belajarlah kuat dengan dirimu sendiri. Bangun hati yang tidak mudah runtuh hanya karena ditinggalkan. Jadilah pribadi yang tetap mampu berdiri meski tanpa tepuk tangan, tanpa pujian, dan tanpa banyak teman di sisi.
Bukan berarti kita harus hidup tanpa percaya kepada siapa pun. Hanya saja, berharaplah sewajarnya. Jangan sampai hati kita hancur hanya karena menggantungkan seluruh harapan kepada manusia yang sejatinya sama rapuhnya dengan kita.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang selalu bersama kita, melainkan tentang bagaimana kita mampu bertahan ketika semuanya pergi. Dan terkadang, gelap hadir bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk mengajarkan bahwa kekuatan terbesar ternyata ada dalam diri sendiri.
Mursalih














