- Naskah Opini
Jakarta 25 Mei 2026
Di zaman sekarang, menilai hidup orang lain terasa terlalu mudah. Kita melihat seseorang sedang kesulitan, lalu diam-diam menganggap hidupnya gagal. Kita melihat orang lain jatuh, lalu merasa diri lebih baik karena hidup kita tampak lebih tenang dan mudah. Padahal, hidup tidak sesederhana apa yang terlihat di permukaan.
Bisa jadi orang yang hari ini sedang berjuang keras justru sedang dinaikkan kualitas hidup dan mentalnya oleh Tuhan. Sedangkan kita yang diberi banyak kemudahan malah sedang diuji lewat rasa nyaman yang perlahan membuat lupa diri.
Tidak semua kesulitan adalah hukuman. Dan tidak semua kemudahan adalah tanda kemenangan.
Ada orang yang diuji dengan kehilangan agar hatinya menjadi kuat. Ada yang diuji dengan kekurangan agar belajar sabar dan ikhlas. Namun ada juga yang diuji dengan uang, jabatan, pujian, dan kehidupan yang terlalu nyaman sampai ia lupa bersyukur dan merasa semuanya hasil hebat dirinya sendiri.
Inilah yang sering tidak disadari manusia: ujian tidak selalu berbentuk air mata. Kadang ujian justru datang dalam bentuk kemudahan.
Karena kesulitan biasanya membuat seseorang dekat kepada Tuhan, sedangkan kemudahan kadang membuat manusia merasa tidak lagi membutuhkan siapa pun. Kesulitan sering melahirkan doa, sementara kenyamanan bisa melahirkan kesombongan.
Maka jangan terlalu cepat menghakimi hidup orang lain. Jangan merasa lebih mulia hanya karena hidup kita terlihat lebih lancar. Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu siapa yang sedang dipersiapkan menjadi pribadi lebih kuat, dan siapa yang sebenarnya sedang terlena oleh kenikmatan sementara.
Orang yang hari ini terlihat paling lelah mungkin justru sedang ditempa menjadi manusia hebat. Dan orang yang hari ini tertawa tanpa beban belum tentu sedang baik-baik saja di hadapan Tuhan.
Hidup bukan soal siapa yang paling mudah jalannya, tetapi siapa yang tetap rendah hati saat diberi kemudahan, dan siapa yang tetap sabar saat diberi kesulitan.
Karena pada akhirnya, hidup hanyalah rangkaian ujian dengan bentuk yang berbeda-beda.
Jadi, berhentilah terburu-buru menilai. Bisa jadi dia sedang diuji untuk naik kelas. Sedangkan kita sedang diuji dengan kenyamanan yang diam-diam menipu.
Mursalih














