Kabupaten Sleman – KompassIndonesianws.com Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, memastikan fenomena kemunculan api misterius yang terjadi di sebuah rumah warga di Dusun Kasuran, Kapanewon/Kecamatan Seyegan, Sleman tidak berkaitan dengan gas alam maupun aktivitas geologi yang berada di lokasi tersebut.
Kesimpulan itu diperoleh setelah serangkaian penelitian dan pengujian dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan akademisi, BMKG, PVMBG, serta sejumlah instansi teknis terkait.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, A.P., M.Si., mengatakan seluruh hasil penelitian yang dilakukan para ahli menunjukkan tidak adanya kandungan gas yang cukup untuk memicu munculnya api secara alami.
“Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh seluruh instansi dan tim ahli yang terlibat, disimpulkan bahwa fenomena api yang muncul di Seyegan tidak ada hubungannya dengan gas alam. Kandungan gas seperti metana, hidrogen, fosfin maupun gas rawa yang diperiksa di sejumlah titik berada di bawah ambang batas yang dapat menimbulkan api,” kata Bambang saat memberikan keterangan kepada media, Senin (15/6/2026).
Menurut Bambang, penelitian dilakukan menggunakan berbagai metode ilmiah, mulai dari pengukuran geomagnetik, geothermal, geolistrik hingga pemantauan menggunakan drone. Hasil dari seluruh metode tersebut menunjukkan tidak ada hubungan langsung antara kondisi geologi di lokasi dengan kemunculan api yang sempat menghebohkan masyarakat.
Dengan selesainya penelitian tersebut, pemerintah daerah kini menyerahkan proses penelusuran penyebab munculnya api kepada aparat kepolisian.
“Karena sudah dipastikan tidak ada hubungan dengan gas alam, maka selanjutnya menjadi ranah kepolisian untuk mencari penyebab sebenarnya dari kemunculan api tersebut,” ujarnya.
Bambang menjelaskan, fenomena api pertama kali muncul pada 23 Mei 2026. Selama sekitar 22 hari, tercatat telah terjadi sebanyak 126 kali kemunculan api di lokasi tersebut.
Namun dalam dua hari terakhir sebelum konferensi pers digelar, tidak lagi ditemukan kemunculan api baru.
“Terakhir terjadi pada Sabtu malam. Sampai saat ini sudah tidak ada lagi kemunculan api,” ungkapnya.
Terkait kerugian yang dialami pemilik rumah, Bambang menyebut sementara ini diperkirakan mencapai sekitar Rp45 juta. Kerugian tersebut meliputi kerusakan perabot rumah tangga, pakaian, serta sejumlah barang lainnya yang terdampak kebakaran.
Sementara itu, Kasatreskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit Kutstiyadi, menegaskan bahwa kepolisian telah melakukan pendampingan sejak awal kejadian dan tidak baru turun tangan setelah hasil penelitian diumumkan.
Menurutnya, pada tahap awal peristiwa tersebut diperlakukan sebagai kejadian kebencanaan sehingga kepolisian turut membantu menjaga keamanan lokasi serta melindungi harta benda milik warga.
“Kami sudah hadir sejak awal kejadian. Setiap ada peristiwa yang terjadi di masyarakat, baik fenomena alam maupun gangguan kamtibmas, tentu kepolisian akan turun untuk melakukan respons dan pengamanan,” kata Wiwit.
Ia menjelaskan, hasil penelitian para ahli yang menunjukkan tidak adanya keterkaitan antara kemunculan api dengan gas alam akan menjadi salah satu bahan penting dalam proses pendalaman yang dilakukan kepolisian.
Polresta Sleman saat ini masih mengumpulkan berbagai informasi, data lapangan, serta hasil penelitian dari para ahli sebelum menentukan langkah hukum berikutnya.
“Kami akan mengumpulkan seluruh hasil yang sudah diperoleh dari para ahli dan instansi terkait. Selanjutnya akan kami laporkan kepada pimpinan untuk menentukan apakah diperlukan penyelidikan lebih lanjut atau tidak,” jelasnya.
Terkait kemungkinan adanya unsur pidana, Wiwit menyatakan masih terlalu dini untuk menyimpulkan. Sejumlah bahan dan data pendukung telah dikumpulkan, namun statusnya belum dapat dikategorikan sebagai alat bukti pidana.
“Ada beberapa bahan yang sudah kami peroleh dari hasil penelitian para ahli maupun BPBD. Namun apakah nantinya dapat berkembang menjadi alat bukti dan mengarah pada proses penegakan hukum, hal itu masih akan kami dalami lebih lanjut,” tegasnya.
Dengan berakhirnya penelitian ilmiah yang dilakukan tim misterius tersebut. Hasil penyelidikan kepolisian nantinya diharapkan dapat memberikan jawaban atas fenomena yang sempat menjadi perhatian masyarakat Sleman maupun publik secara luas.
(Joni)














