https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Dukung Pelestarian Warisan Budaya, Wakil Bupati Sleman Hadiri Kirab Adat Suran Mbah Demang Banyuraden

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten SlemanKompassIndonesianews.com Wakil Bupati Kabupaten Sleman, Danang Maharsa, menghadiri sekaligus mengikuti langsung prosesi budaya upacara adat Suran Mbah Demang yang di selenggarakan di halaman Kantor Kalurahan Banyuraden, Kapanewon/Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (23/6/2026) malam. Kehadiran Wakil Bupati ini menjadi wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam merawat kearifan lokal yang sarat nilai sejarah.

” Upacara adat yang rutin digelar setiap memaduki bulan Sura dalam penanggalan Jawa ini merupakan bentuk penghormatan serta refleksi atas perjuangan leluhur, Ki Demang Cokrodikromo. Beliau adalah tokoh dikenal memiliki kontribusi besar dalam sejarah spiritual dan sosial kemasyarakatan di wilayah, Banyuraden, Gamping, Sleman.

Rangkaian acara malam itu, dimeriahkan oleh Kirab Budaya yang mengular di sepanjang jalan. Defile kirab menampilkan barisan Bregada Keprajuritan tradisional, berbagai atraksi kesenian rakyat, gunungan hasil bumi, hingga arak -arakan ogoh – ogoh. Sedangkan Wakil Bupati Danang Maharsa, turut membaur bersama warga dengan berjalan kaki mengikuti rute kirab menuju Sumur Petilasan Mbah Demang.

” Dalam sambutannya, Danang Maharsa, menyampaikan bahwa upacara adat Suran Mbah Demang bukan sekadar tradisi tahunan. Menurutnya, tradisi ini memiliki nilai spiritual, sosial, dan budaya yang luhur sebagai warisan yang wajib dijaga bersama.

Selain sebagai sarana hiburan, acara ini terbukti ampuh mempererat tali silaturahmi sekaligus memantik rasa kepemilikan (handarbeni) generasi muda terhadap budaya Jawa dan lingkungan sekitar. Salah satunya adalah komitmen menjaga kelestarian Sumur Petilasan Mbah Demang, agar terus mengalirkan air bagi kemaslahatan warga,” tambahnya.

Ia menyebut melalui momentum ini, masyarakat diajak untuk meneladani sifat welas asli dan keluhuran budi Ki Demang Cokrodikromo. Semasa hidupnya, Ki Demang dikenal sangat menghormati setiap tamu yang datang tanpa pandang bulu, dengan menyajikan suguhan khas berupa air minum dalam kendi ijen serta hidangan sekul gudhangan (nasi gudangan) berlauk ketan tholo yang dibungkus daun pisang.

” Wakil Bupati Danang Maharsa, juga menyatakan rasa bangganya atas konsistensi warga Banyuraden yang merawat tradisi ini melalui semangat gotong royong. Terlebih kirab Suran Mbah Demang memiliki nilai strategis bagi sektor pariwisata daerah, karena telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak tahun 2016, serta telah masuk ke dalam kalender event kebudayaan resmi Kabupaten Sleman.

” Di tengah arus globalisasi, Danang mengingatkan bahwa budaya lokal harus menjadi fondasi yang kuat agar masyarakat tidak kehilangan jati diri bangsa.” Melalui acara budaya seperti Suran Mbah Demang ini, nilai – nilai luhur, penguatan iman, serta spirit gotong royong diharapkan dapat terus terimplementasi dalam kehidupan bermasyarakat sehari – hari,” tutup Wakil Bupati Danang Maharsa.

” Sementara itu, Lurah Banyuraden, Sudarisman, S.T, mengatakan secara garis besar kegiatan kirab budaya Suran Mbah Demang ini untuk pelestarian budaya yang diharapkan bisa mengangkat potensi yang ada di Banyuraden khususnya seni dan budaya. Dengan adanya pergelaran seni budaya seperti ini, sehingga bisa mengangkat perekonomian masyarakat dan mempererat tali persaudaraan,” kata Lurah Sudarisman.

(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *