https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Hadiri Peringatan Tragedi 27 Juli 1996, Danang Maharsa Mengajak Anak Muda Melek Politik

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Sleman|Kompassindonesianews.com- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Sleman menggelar peringatan 30 tahun tragedi 27 Juli 1996, bertempat di Sekretariat DPC PDI Perjuangan, Minggu 26 Juli 2026 malam. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus PDI Perjuangan, anggota Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Sleman, organisasi sayap, simpatisan, hingga ratusan generasi muda.

 

” Peringatan yang mengusung semangat menjaga nilai – nilai demokrasi itu diawali dengan teatrikal yang menggambarkan kembali peristiwa penyerbuan Kantor DPP PDI pada tanggal 27 Juli 1996, atau yang lebih dikenal sebagai Tragedi Kudatuli. Dalam acara ini, suasana berlangsung khidmat sekaligus penuh refleksi atas salah satu peristiwa penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

 

” Turut hadir dalam kegiatan tersebut yaitu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sleman, Danang Maharsa, anggota DPD RI, Yashinta Sekarwangi, Keua DPRD Kabupaten Sleman, Y.Gustan Ganda, jajaran fungsionaris partai, anggota Fraksi DPRD Sleman dari PDI Perjuangan dan para simpatisan.

 

Rangkaian acara meliputi doa bersama, pemutaran film dokumenter Kudatuli, sarasehan bertajuk ” Demokrasi Pasca 30 Tahun Kudatuli “, hingga peniupan lilin sebagai bentuk penghormatan kepada lima orang korban jiwa dalam tragedi Kudatuli tersebut.

 

” Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sleman sekaligus Wakil Bupati Kabupaten Sleman, Danang Maharsa, mengatakan peringatan peristiwa 27 Juli 1996 tersebut bukan sekadar mengenang sejarah tetapi juga menjadi momentum untuk menanamkan nilai – nilai demokrasi kepada generasi muda,” jelasnya.

 

“Kita tidak boleh melupakan sejarah, perjuangan Ibu Megawati Soekarnoputri bersama para kader yang bertahan di Kantor DPP PDI pada tahun 1996 merupakan bukti kesetiaan terhadap konstitusi dan rakyat,” tambahnya lagi.

 

Dalam kesempatan yang sama, Danang Maharsa memberikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan dan panitia yang telah menyukseskan kegiatan peringatan 30 tahun Kudatuli. Danang juga secara khusus memberikan semangat kepada generasi muda agar memiliki kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Lanjutnya, politik tidak boleh dipahami hanya sebatas perdebatan atau adu argumentasi di media sosial, anak – anak muda perlu memahami realitas politik secara langsung agar mampu menentukan arah perjuangan politik yang benar.

 

“Kata Danang, yang jelek itu bukan politiknya, tetapi orang – orang yang menjalankan politik itu. Karena itu, tentukan arah politik kalian bersama orang – orang yang benar,” tegas Danang.

 

Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya kesetiaan dalam beroganisasi maupun berpartai. Kehidupan itu membutuhkan kesetiaan, seperti halnya kita berpartai. Berpartai jika dilandasi kesetiaan, maka akan berjaya.

 

Danang turut mengingatkan bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan keberanian masyarakat untuk memberikan kritik kepada pemimpin.

 

” Pemimpin boleh salah, tetapi rakyat yang harus membenarkan atau mengkritik. Karena itu kami menggumpulkan anak – anak muda agar memahami apa itu politik, mau tidak mau generasi muda harus belajar politik, sebab nasib bangsa ini ada di tangan mereka.

 

Menurutnya lagi, masa depan Indonesia akan ditentukan oleh generasi muda yang memiliki pemahami politik yang baik, menjunjung persatuan, serta mampu menjaga demokrasi.

 

Indonesia ke depan yang akan mewarnai adalah kalian semua sebagai generasi muda, politik membutuhkan persatuan dan kesatuan,” Ucap Danang.

 

” Sementara itu, anggota DPD RI Yashinta Sekarwangi, berharap peringatan Kudatuli dapat menjadi ruang membangun jejaring sekaligus memperkuat pemahaman sejarah bagi generasi muda.

 

Dari pertemuan ini semoga ke depan kita bisa saling berjejaring, saya berharap diskusi ini menjadi pengalaman baru bagi generasi muda agar mengetahui sejarah yang sebenarnya mengenai peristiwa Kudatuli dan yashinta juga berpesan agar generasi muda tidak melupakan sejarah perjuangan demokrasi Indonesia.

 

Jangan sampai kita melupakan sejarah, karena dari sejarah kita belajar untuk menjaga demokrasi dan masa depan bangasa dan negara,” Tambah nya.

 

Seperti yang kita ketahui bersama dalam tragedi 27 Juli 1996 tersebut, 5 orang meninggal dunia, 149 orang luka – luka, dan 23 orang dinyatakan hilang,” Tutup nya.

 

 

(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *