https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Satu Tugas, Seribu Perjuangan: Kisah Bhernard dan Doa Sang Ibu

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

BANJARNEGARA,Kompassindonesianews.Com Makna kemerdekaan bagi seorang ibu tunggal tidak hanya tentang upacara dan pengibaran Sang Merah Putih. Di balik momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, tersimpan kisah perjuangan, doa, pengorbanan, dan kebanggaan seorang ibu yang berhasil mengantarkan anaknya meraih prestasi membanggakan. 17 Agustus 2026

Kebanggaan itu dirasakan Dewi Ratih, seorang ibu tunggal di Kabupaten Banjarnegara, setelah putranya, Bhernard Markus Imanuel, siswa kelas XI SMK HKTI 2 Purwareja Klampok, terpilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2026.

Bagi Dewi Ratih, terpilihnya sang anak menjadi Paskibraka merupakan hadiah yang sangat berarti di momentum kemerdekaan. Perjalanan Bhernard tidak datang secara instan. Pada tahun 2025, ia telah dipercaya menjadi Paskibra tingkat Kecamatan Purwareja Klampok dengan mewakili sekolahnya.

Setahun kemudian, kerja keras dan pengalaman tersebut mengantarkannya kembali terpilih, kali ini sebagai anggota Paskibraka tingkat Kabupaten Banjarnegara.

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan dalam keluarga bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan semangat, disiplin, dukungan keluarga, serta kemauan untuk terus berusaha, seorang anak tetap dapat mengukir prestasi dan mengharumkan nama sekolah maupun daerah.

Sebagai orang tua tunggal, Dewi Ratih tentu menghadapi berbagai tantangan dalam membesarkan dan mendampingi putranya. Namun, ia terus memberikan dukungan, semangat, bimbingan, dan doa agar Bhernard mampu meraih cita-citanya.

«“Sebagai seorang ibu, saya sangat bangga dan terharu. Melihat anak saya dipercaya menjadi bagian dari Paskibraka adalah kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.»

Menurut Dewi, perjalanan Bhernard untuk lolos menjadi anggota Paskibraka membutuhkan proses panjang. Latihan fisik, kedisiplinan, tanggung jawab, ketekunan, serta kesiapan mental harus dijalani dengan sungguh-sungguh.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pelatih, instruktur, serta seluruh tim Paskibraka yang telah memberikan pendidikan, pembinaan, dan pendampingan selama proses latihan.

Momentum tersebut sekaligus memberikan makna bahwa kemerdekaan memiliki arti yang jauh lebih luas. Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi juga kesempatan bagi setiap anak bangsa untuk tumbuh, belajar, berprestasi, dan mewujudkan cita-cita.

Di mata sang ibu, keberhasilan Bhernard menjadi Paskibraka merupakan buah dari kerja keras dan keseriusan sang anak dalam menjalani latihan. Ia berharap pengalaman tersebut dapat membentuk Bhernard menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, rendah hati, serta semakin mencintai Tanah Air.

«“Semoga pengalaman ini menjadi bekal bagi anak saya untuk terus berjuang dan menggapai cita-citanya. Saya hanya bisa terus mendukung dan mendoakan yang terbaik,” ungkap Dewi penuh haru.»

Sementara itu, Bhernard Markus Imanuel, usai melaksanakan tugasnya sebagai Paskibraka, mengungkapkan rasa syukur karena dapat menjalankan amanah dengan baik.

«“Puji Tuhan saya dapat melaksanakan tugas dengan baik. Pendidikan dan pelatihan yang saya dapatkan menjadi bekal bagi saya untuk lebih disiplin dan giat lagi belajar, meraih mimpi dan cita-cita saya sejak kecil, menjadi TNI.”»

Kisah Bhernard menjadi pengingat bahwa di balik setiap anak yang berdiri tegap membawa tugas negara, ada keluarga yang turut berjuang. Ada doa orang tua, pengorbanan, dukungan, serta perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat oleh banyak orang.

Bagi Dewi Ratih, melihat putranya mengenakan seragam Paskibraka bukan sekadar kebanggaan keluarga. Itu adalah simbol perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anaknya sekaligus bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan dapat tumbuh dari keluarga sederhana.

Kemerdekaan juga dapat hadir melalui keberanian seorang anak untuk bermimpi, berlatih, berprestasi, dan mengabdikan dirinya bagi daerah serta bangsa.

Pada akhirnya, makna kemerdekaan bagi keluarga tersebut adalah tentang kesempatan untuk bermimpi, keberanian untuk berjuang, kekuatan seorang ibu dalam mendukung anak, serta kebahagiaan ketika melihat buah hati berhasil mengukir prestasi untuk daerah dan Indonesia.

Setiawan/Team

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *