BATAM — kompassindonesianews.com – Dua belas tahun perjalanan Turonggo Satrio Bidoyo (TSB) menjadi bukti bahwa kekuatan sebuah paguyuban tidak hanya terletak pada eksistensi organisasi, tetapi juga pada kemampuan menjaga persaudaraan, kebersamaan dan hubungan harmonis dengan masyarakat.
Semangat tersebut kembali ditegaskan dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-12 Turonggo Satrio Bidoyo yang digelar di Jalan Bida Kabil Seroja 2, Fasum RT 02/RW 17, Punggur, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Sabtu (29/8/2026).

Sejak berdiri pada 2014, TSB terus berupaya menjadi wadah yang tidak hanya mempererat silaturahmi antaranggota, tetapi juga membangun komunikasi dan hubungan baik dengan masyarakat serta berbagai paguyuban di Kota Batam.
Ketua Turonggo Satrio Bidoyo, Sugiyanto, menegaskan bahwa perjalanan 12 tahun tersebut tidak terlepas dari semangat guyub dan rukun yang terus dipelihara seluruh anggota.
“Alhamdulillah, sejak berdiri tahun 2014 hingga sekarang, Turonggo Satrio Bidoyo masih terus guyub dan rukun. Kami juga berusaha menjaga hubungan baik dengan masyarakat setempat maupun dengan paguyuban lainnya,” kata Sugiyanto.
Menurutnya, paguyuban tidak boleh hanya berorientasi pada kegiatan internal. Keberadaannya harus mampu memberikan warna positif di tengah lingkungan dan ikut menjaga keharmonisan masyarakat.
Bagi TSB, gotong royong, kepedulian sosial, saling menghargai dan menjaga komunikasi merupakan nilai yang harus terus dipertahankan.
“Bagi kami, masyarakat setempat adalah bagian dari keluarga. Kita harus saling menghargai, saling membantu dan bergotong royong. Jangan sampai keberadaan paguyuban justru membuat jarak dengan masyarakat,” tegasnya.
Sugiyanto mengatakan, Batam merupakan daerah yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan budaya. Keberagaman tersebut, menurutnya, justru menjadi modal besar untuk memperkuat persatuan dan persaudaraan.
Karena itu, TSB berkomitmen untuk terus membangun hubungan yang baik dengan masyarakat maupun paguyuban lain. Kebersamaan lintas kelompok dinilai penting agar keberagaman di Kota Batam tetap menjadi kekuatan, bukan sumber perbedaan.
“Kita ingin hadir bersama masyarakat dan ikut menjaga kerukunan. Batam ini masyarakatnya beragam, sehingga persaudaraan dan toleransi harus terus kita jaga,” ujarnya.
Memasuki usia ke-12, Sugiyanto berharap Turonggo Satrio Bidoyo semakin solid dan berkembang tanpa kehilangan jati diri sebagai paguyuban yang menjunjung tinggi persaudaraan.
“Harapan kami, TSB semakin maju, semakin kompak, tetap guyub rukun, dan terus menjalin silaturahmi dengan sesama paguyuban serta masyarakat. Kita ingin bersama-sama menjaga budaya, persaudaraan dan kerukunan di Kota Batam,” harapnya.
Peringatan Harlah ke-12 tersebut sekaligus menjadi refleksi perjalanan TSB selama lebih dari satu dekade. Bagi organisasi, bertambahnya usia bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen agar keberadaan paguyuban tetap memberikan manfaat dan diterima sebagai bagian dari masyarakat.
Dengan semangat guyub, rukun dan gotong royong, Turonggo Satrio Bidoyo menegaskan komitmennya untuk terus menjaga persaudaraan serta berkontribusi positif dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis di Kota Batam.
Penulis harry
















