https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

INKINDO Bengkulu Pacu Konsultan Adaptif Hadapi Era AI dan Perubahan Arah Pembangunan

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

BENGKULU —Kompassindonssianews.com Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) Provinsi Bengkulu mendorong seluruh anggotanya untuk meningkatkan kompetensi dan beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), sekaligus mampu membaca perubahan arah pembangunan pemerintah.

 

Dorongan tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam Rapat Kerja Provinsi (RAKERPROV) DPP INKINDO Bengkulu Tahun 2026 yang digelar di Hotel Santika Bengkulu, Senin (31/8/2026).
Mengusung tema “Membangun Kebersamaan dan Keakraban serta Profesionalisme Konsultan untuk Mewujudkan INKINDO Bengkulu yang Adaptif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan”, Rakerprov menjadi momentum bagi pengurus dan anggota untuk menyusun serta menyepakati program kerja organisasi untuk empat tahun ke depan.

 

Ketua DPP INKINDO Provinsi Bengkulu, Ir. Dwi Oktarini, ST., MM., MT., mengatakan Rakerprov tidak sekadar menjadi agenda organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menyatukan langkah seluruh anggota dalam menghadapi perubahan dunia usaha dan kebutuhan pembangunan.

“Rapat kerja ini penting agar seluruh anggota mengetahui apa yang akan dilakukan pengurus selama empat tahun ke depan. Salah satu fokus kita adalah meningkatkan kemampuan dan daya saing anggota, sekaligus mendorong anggota agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi saat ini,” ujar Dwi.

Menurut Dwi, perkembangan AI yang semakin cepat harus dipandang sebagai tantangan sekaligus peluang bagi dunia konsultansi. Karena itu, INKINDO Bengkulu berencana mendorong program workshop dan pelatihan AI bagi para anggotanya.

“Perkembangan AI hari ini sangat cepat dan luar biasa. Ini tidak boleh kita tinggalkan. Karena itu, DPP mendorong adanya workshop dan pelatihan AI bagi anggota,” katanya.

Pemanfaatan AI, lanjut Dwi, tidak semata-mata untuk mengikuti tren teknologi. Lebih dari itu, teknologi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pekerjaan konsultan, termasuk dalam proses kajian, perencanaan,

hingga mendukung pembangunan infrastruktur dan kebijakan daerah.
Untuk memperkuat kapasitas tersebut, DPP INKINDO Bengkulu juga membuka peluang kerja sama dengan DPP INKINDO dari daerah lain, termasuk DKI Jakarta yang dinilai telah lebih intensif mengembangkan program peningkatan kapasitas dan pemanfaatan teknologi.
“Kita berharap Bengkulu juga bisa melakukan hal yang sama.

Jangan sampai kita tertinggal. Kita harus terus meningkatkan kemampuan anggota agar mampu mengikuti perkembangan teknologi,” jelasnya.
Konsultan Diminta Tak Terpaku pada Konstruksi

Selain menghadapi perkembangan teknologi, Dwi menilai konsultan harus mampu membaca perubahan prioritas pembangunan pemerintah.

Menurutnya, ketika arah pembangunan mulai memberikan perhatian lebih besar pada sektor pertanian, pemberdayaan masyarakat, maupun program sosial, ruang kontribusi konsultan justru semakin terbuka.

Ia mencontohkan program pengembangan pertanian seperti penanaman jagung yang tetap membutuhkan dukungan infrastruktur dan perencanaan, termasuk sistem irigasi.

“Kalau pemerintah mendorong program pertanian, tentu tetap membutuhkan infrastruktur, termasuk irigasi. Di situlah konsultan dapat mengambil peran. Jadi, kita jangan melihat konstruksi secara terlalu kaku hanya pada dunia konstruksi, tetapi harus melihat ke mana arah kebijakan pemerintah dan kebutuhan pembangunan,” ungkapnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan arah yang dibahas dalam Rakerprov, yakni mendorong konsultan agar tidak hanya menjadi penyedia jasa konsultansi, tetapi juga mampu memberikan pemikiran strategis dalam proses perencanaan pembangunan daerah.

RRI Bengkulu juga melaporkan bahwa INKINDO Bengkulu ingin memperkuat kontribusi terhadap pemerintah daerah melalui kerja sama yang lebih dekat. Lingkup jasa konsultansi anggota tidak hanya mencakup konstruksi, tetapi juga sektor nonkonstruksi, termasuk kajian dan penyusunan arah kebijakan pembangunan.

Dwi menegaskan, konsultan harus mampu menempatkan diri sebagai mitra strategis pemerintah.
“Sebagai konsultan, kita harus adaptif dan mampu menjadi mitra pemerintah dalam menyukseskan pembangunan. Karena itu, peningkatan kapasitas dan kompetensi anggota menjadi sangat penting,” ujarnya.

Dorong Tenaga Profesional Lokal
Dalam Rakerprov tersebut, penguatan sumber daya manusia lokal juga menjadi perhatian.
Dwi mengatakan Bengkulu membutuhkan tenaga profesional yang memiliki kompetensi dan daya saing sehingga tidak selamanya bergantung pada tenaga ahli dari luar daerah.

Menurutnya, tenaga ahli dari luar tetap dapat dilibatkan pada tahap awal sebagai bagian dari proses berbagi pengalaman dan transfer pengetahuan. Namun, dalam jangka panjang, tenaga profesional lokal harus mampu mengambil peran lebih besar.

“Tenaga kerja jangan terus-menerus diimpor. Pada awalnya mungkin kita masih membutuhkan tenaga dari luar untuk belajar, tetapi ke depan kita harus mampu menjadi tuan rumah di daerah sendiri. Kita harus memiliki tenaga profesional yang kompeten dan berdaya saing,” tegasnya.

Komitmen tersebut juga terlihat dari keterlibatan konsultan daerah dalam sejumlah program pembangunan. RRI mencatat tenaga ahli lokal dari INKINDO Bengkulu telah ikut berkontribusi dalam mendukung program Sekolah Rakyat, termasuk dalam pengawasan pelaksanaan pembangunan agar berjalan sesuai ketentuan dan menghasilkan fasilitas yang layak.

Tak hanya di Bengkulu, sejumlah anggota INKINDO Bengkulu juga telah mengerjakan kegiatan konsultansi di provinsi lain. Kondisi tersebut dinilai menjadi indikasi bahwa tenaga konsultan asal Bengkulu memiliki peluang untuk bersaing dan memperluas kiprahnya di tingkat nasional.

Vendor Didorong Beri Edukasi, Bukan Sekadar Promosi
Dalam Rakerprov, keterlibatan vendor juga mendapat perhatian. Vendor diharapkan tidak hanya hadir untuk memperkenalkan produk, tetapi turut memberikan edukasi kepada konsultan mengenai fungsi, keunggulan, serta penerapan produk dalam pekerjaan.
Dengan pemahaman tersebut, konsultan diharapkan mampu menentukan produk yang tepat untuk kebutuhan perencanaan maupun pembangunan dengan tetap mempertimbangkan kualitas, efektivitas dan kemampuan anggaran.

Bagi INKINDO Bengkulu, pola hubungan seperti itu penting untuk memperluas wawasan anggota sekaligus memastikan konsultan memiliki referensi yang cukup ketika memberikan rekomendasi dalam pekerjaan profesional.
Pada akhirnya, seluruh agenda tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi INKINDO Bengkulu sebagai organisasi profesi yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah.

Dwi berharap Rakerprov 2026 tidak berhenti pada penyusunan program kerja organisasi, tetapi menjadi titik awal untuk meningkatkan kebersamaan, profesionalisme, kompetensi dan daya saing anggota.

“Kita ingin INKINDO Bengkulu menjadi organisasi yang adaptif, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” pungkas Dwi.

Pewarta : Feronike (Mimi)

 

 

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *