MUI Pusat, Jakarta – kompassindonesianews.com/ — Sebuah perayaan yang semestinya menjadi ruang kegembiraan dan silaturahmi mendadak memantik perdebatan tentang batas antara seni, budaya, dan ekspresi keagamaan.
Sorotan itu mengarah kepada Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Acara yang digelar pada Kamis malam, 10 September 2026, merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus khitanan massal yang telah memasuki penyelenggaraan ke-61.
Namun, kemeriahan tersebut kemudian berubah menjadi perbincangan luas setelah sejumlah rekaman pertunjukan beredar di media sosial. Salah satu adegan yang paling banyak diperbincangkan adalah pertunjukan teatrikal berupa penyembelihan kambing, sementara sebagian peserta tampil dengan kostum dan karakter bernuansa menyeramkan.
Visual tersebut kemudian menuai beragam respons publik. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai sebagian tampilan dalam karnaval itu memiliki kemiripan dengan simbol-simbol yang diasosiasikan dengan ritual satanic.
MUI: Semangat Maulid Seharusnya Menghadirkan Keteladanan
Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis menyampaikan keprihatinannya terhadap konsep pertunjukan yang menonjolkan karakter menyeramkan, simbol yang diasosiasikan dengan satanic, serta adegan penyembelihan hewan secara terbuka.
Menurut Cholil, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW idealnya menghadirkan kegembiraan yang tetap berada dalam koridor syiar: memperbanyak shalawat, membaca Al-Qur’an, menyampaikan nasihat, mengenang sejarah dan keteladanan Rasulullah SAW, serta memperkuat silaturahmi dan kepedulian sosial.
Ia menilai karnaval sebagai ekspresi budaya dapat berlangsung, tetapi ketika bentuk visualnya bergeser menjadi sesuatu yang bernuansa menakutkan atau menyerupai simbol kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid, maka pesan spiritual Maulid dikhawatirkan menjadi kabur.
MUI juga mempersoalkan adegan penyembelihan kambing yang menurut Cholil tidak sejalan dengan prinsip memperlakukan hewan secara baik apabila prosesnya dipertontonkan dalam kemasan atraksi yang menyeramkan.
SKNC: Bukan Sekadar Karnaval
Di sisi lain, informasi resmi Pemerintah Kabupaten Pekalongan menunjukkan bahwa SKNC merupakan kegiatan tahunan yang mempunyai akar kuat dalam tradisi masyarakat Simbang Kulon.
Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan H. Sukirman hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Pemerintah daerah menggambarkannya sebagai ruang berkumpulnya masyarakat untuk menikmati kreativitas warga sekaligus mempererat kerukunan. Rangkaian kegiatan juga mencakup pengajian umum dan khitanan massal.
Menurut panitia, SKNC 2026 diikuti 25 barisan kreasi yang berasal dari 25 mushala di Simbang Kulon. Tema yang diangkat adalah “Nyawiji ing Budaya, Ngukuhake Paseduluran”, yang dimaknai sebagai ajakan untuk berjalan bersama, menjaga tradisi, merawat kebersamaan, dan memperkuat persaudaraan.
Laporan media lokal juga menyebut kegiatan tersebut melibatkan 122 peserta khitan massal dan menghadirkan berbagai atraksi seperti ogoh-ogoh, tarian, marching band, sepeda hias, hingga sound horeg. Ribuan warga disebut memadati sepanjang jalur karnaval.
Artinya, di mata penyelenggara dan pemerintah daerah, SKNC berada dalam bingkai tradisi, kreativitas warga, silaturahmi, serta perayaan sosial-keagamaan.
Tetapi justru di titik itulah polemik muncul.
Ketika Simbol Berbicara Lebih Keras daripada Maksud
Sebuah karya seni bisa saja dimaksudkan sebagai simbol, satire, teatrikal, atau hiburan. Tetapi masyarakat dapat membaca simbol itu dengan cara berbeda.
Kostum monster bisa dianggap sebagai fantasi.
Ogoh-ogoh bisa dipandang sebagai bentuk kreativitas visual.
Adegan penyembelihan hewan bisa dianggap bagian dari teatrikal.
Namun ketika semua itu ditempatkan dalam rangkaian yang sekaligus diasosiasikan dengan Maulid Nabi, sebagian masyarakat kemudian bertanya: apakah ekspresi artistiknya masih memperkuat pesan Maulid, atau justru membuat pesan utamanya tersamarkan?
Pertanyaan semacam itu menjadi semakin besar ketika potongan-potongan video tersebar di media sosial. Berbagai interpretasi pun muncul hampir bersamaan, bahkan sebelum penjelasan lengkap dari penyelenggara diterima semua pihak.
Karena itu, istilah “ritual satanic” dalam pemberitaan ini perlu dipahami sebagai penilaian atau kekhawatiran pihak yang mengkritik, bukan sebagai fakta bahwa kegiatan tersebut secara resmi merupakan ritual satanic.
Antara Tradisi dan Tanggung Jawab
Tradisi tentu tidak harus beku.
Ia boleh kreatif, hidup, mengikuti zaman, dan menarik generasi muda. Pemerintah Kabupaten Pekalongan sendiri melihat SKNC sebagai bentuk kreativitas dan kebersamaan warga.
Tetapi setiap kreativitas juga memiliki tanggung jawab terhadap konteks tempat ia dipertontonkan.
Apalagi ketika sebuah kegiatan membawa nama Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dalam konteks itulah kritik MUI layak dibaca sebagai pengingat agar ekspresi budaya tetap mampu menjaga pesan utama kegiatan: keteladanan Rasulullah SAW, akhlak, tauhid, persaudaraan, dan kedamaian.
Sementara bagi masyarakat, polemik ini juga menjadi pelajaran penting tentang cara membaca informasi di era digital. Jangan biarkan satu potongan video memaksa kita membuat kesimpulan utuh tentang sebuah kegiatan yang sebenarnya memiliki rangkaian panjang dan latar belakang sosial budaya yang lebih kompleks.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan semata-mata “boleh atau tidak boleh berkarnaval?”
Pertanyaan yang lebih mendalam adalah:
ketika kita membawa nama Maulid Nabi, apakah kemeriahan yang kita tampilkan masih membuat manusia semakin mengenal akhlak Rasulullah SAW—atau justru membuat pesan itu tenggelam di balik simbol dan tontonan?
Simbang Kulon telah menunjukkan bahwa masyarakat memiliki energi besar untuk berkarya dan berkumpul.
Kini yang menjadi pekerjaan bersama adalah memastikan energi itu menemukan arah yang tepat.
Karena perayaan Nabi Muhammad SAW pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling heboh di jalanan.
Melainkan tentang bagaimana setelah keramaian usai, manusia pulang membawa akhlak yang lebih baik daripada ketika ia datang.
Burhanudin Fajri















