https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Serumpun Melayu : SIB Gelar  Seminar  Muhinah  Budaya  Perkuat  Ikatan  INDONESIA–MALAYSIA

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

JAKARTA — Kompassindonesianews.Com Seniman Intelektual Betawi (SIB) menyelenggarakan Seminar Internasional Muhibah Budaya Indonesia–Malaysia pada Minggu, 27 September 2026, pukul 08.00 WIB di Rumah Gede, Jalan Gaga Utama No. 38, Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Kegiatan ini mengusung tema “Serumpun Melayu: Menjaga Persaudaraan, Melestarikan Budaya, Membangun Masa Depan Bersama”.

Seminar ini bertujuan mempererat ikatan persaudaraan, melestarikan warisan budaya bersama, serta memperkuat kolaborasi lintas negara. Mengusung semangat “Dari Budaya Sejuta Persaudaraan Menuju Masa Depan Bersama”, pertemuan ini menegaskan bahwa budaya adalah jembatan terkuat yang menyatukan dua bangsa yang tumbuh dari akar yang sama.

Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Zahar Hussain dari Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) mewakili pihak Malaysia, sementara Drs. Tahyudin Aditya, Ketua Umum SIB, mewakili Indonesia. Keduanya melambangkan kesinambungan persaudaraan yang tak terpisahkan oleh batas wilayah maupun perbedaan kepentingan.

Diskusi semakin kaya dengan kehadiran para panelis lintas bidang: Dr. Taufik Baidlawi, S.Kom (Akademisi), Dr. Roy Wijaya, S.S., M. Sn (Praktisi), Donna Ekaawaty, ST., M.M.Par (Pemerhati Sosial), Prof. Dr. Ahalik (Alumni TOT Lemhannas RI), serta Nasir Mufid (Seniman). Keberagaman ini menjamin gagasan yang lahir menyeluruh, menyentuh aspek ilmiah, sosial, seni, hingga kepemimpinan.

Prof. Zahar Hussain menekankan bahwa kemiripan budaya bukan alasan perpecahan, melainkan kekuatan bersama. Bahasa, kesenian, dan nilai yang tumbuh di kawasan ini memiliki akar yang sama; menjaganya berarti menjaga identitas diri sendiri. Keragaman yang ada justru memperkaya, bukan memisahkan.

Ia mengajak kedua bangsa saling mengisi, menghormati, dan berjalan berdampingan sebagai saudara, bukan pesaing. Kerja sama pelestarian budaya, penelitian, serta pertukaran pemuda dan seniman akan menjadi fondasi kokoh bagi kemajuan peradaban Melayu di kancah dunia. Seminar ini diharapkan menjadi awal kerja sama berkelanjutan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Drs. Tahyudin Aditya yang juga sebagai Sekjen Bamus Betawi dan Forkabi menegaskan budaya adalah jembatan yang menyatukan hati melampaui batas wilayah. Budaya Betawi dan kekayaan budaya Nusantara adalah mata rantai yang menyambungkan kehidupan masyarakat serumpun. Memperkenalkan dan melestarikan kearifan lokal adalah wujud nyata menjaga persaudaraan yang dijunjung leluhur.

Ia juga menyoroti peran generasi muda: nilai luhur harus dikemas menjadi kekuatan yang membangun kemakmuran bersama. Kolaborasi budaya akan membuka peluang di pariwisata, pendidikan, kesenian, dan perdagangan yang dinikmati semua. SIB berkomitmen menjadikan kegiatan ini agenda berkelanjutan agar semangat serumpun menjadi gaya hidup sehari-hari.
Dr. Taufik Baidlawi memandang budaya sebagai objek kajian yang harus dipahami dan didokumentasikan secara ilmiah agar diwariskan utuh. Pelestarian memerlukan keseimbangan antara penghormatan terhadap tradisi dan keterbukaan terhadap zaman. Perguruan tinggi kedua negara perlu membuka kerja sama kajian bersama untuk memperkuat pemahaman publik tentang akar budaya yang sama.

Di tengah arus globalisasi, pemahaman budaya yang kuat menumbuhkan kepercayaan diri bergaul tanpa kehilangan jati diri. Pengetahuan ini harus masuk ke pendidikan dasar dan menengah agar kesadaran persaudaraan tumbuh sejak dini. Jaringan kerja sama antarlembaga pendidikan akan menjamin persaudaraan bertahan berlandaskan pemahaman mendalam, bukan sekadar perasaan sesaat.

Dr. Roy Wijaya menekankan pelestarian budaya harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan karya yang dirasakan masyarakat. Kesenian, sastra, dan pertunjukan adalah sarana komunikasi paling efektif menyampaikan pesan persaudaraan lintas batas. Para seniman di kedua negara perlu saling terbuka, berkolaborasi, dan menciptakan karya bersama.

Budaya harus dikemas secara kreatif dan relevan agar tetap dicintai generasi muda tanpa kehilangan nilai aslinya. Kolaborasi lintas negara akan menghadirkan wajah budaya yang segar dan membanggakan di panggung dunia. Setiap langkah kecil yang dilakukan bersama membangun fondasi kokoh bagi masa depan yang tidak bisa diwujudkan sendirian.

Donna Ekawaty mengingatkan budaya dan persaudaraan tak terpisahkan dari kehidupan sosial. Nilai kesopanan, gotong royong, dan kebersamaan harus tercermin dalam kepedulian nyata terhadap sesama. Persaudaraan makin kokoh jika diisi kesediaan berbagi dan mengatasi tantangan bersama di kedua sisi perbatasan.

Prof. Dr. Ahalik menegaskan persaudaraan Indonesia–Malaysia adalah kepentingan strategis, bukan sekadar perasaan. Kekuatan terbesar kawasan terletak pada persatuan dan kesetiaan terhadap nilai luhur bersama. Nasir Mufid menutup dengan pesan bahwa karya seni adalah bahasa universal penyatu hati; setiap karya tulus yang dihadirkan akan menjadi cahaya menuntun langkah bersama ke masa depan gemilang.

Turut hadir yang mewakili Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi H. Beky Mardani dalam kata sambutannya menyatakan bahwa Betawi harus melakukan kajian bersama para akademisi untuk melakukan redefinisi agar exsisteni Betawi relepan terhadap situasi kekinian sehingga mampu menjadikat Betawi menjadi tuan rumah dikampunnya sendiri dan.pemerintah mengakui bahwa Betawi adalah masyarakat inti Jakarta.

Seminar ini diharapkan melahirkan program konkret yang terus dipupuk, agar semangat serumpun terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. Bergandengan tangan, menjaga budaya, dan melangkah bersama — itulah warisan paling berharga bagi anak cucu bangsa serumpun.

(Mursalih)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *