Bengkulu |Kompassindonesianews.com– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bengkulu mendorong penguatan ekosistem komoditas kelapa melalui peningkatan akses keuangan dan sinergi lintas pemangku kepentingan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengoptimalkan potensi hilirisasi sekaligus meningkatkan daya saing komoditas kelapa di Provinsi Bengkulu.
Upaya itu dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pemetaan Potensi dan Tantangan Pengembangan Ekosistem Komoditas Kelapa melalui Penguatan Akses Keuangan dan Sinergi Pemangku Kepentingan di Provinsi Bengkulu”, yang digelar di Aula Singaran Pati Kantor OJK Provinsi Bengkulu, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 70 peserta yang berasal dari Pemerintah Daerah Provinsi Bengkulu, instansi vertikal, pelaku usaha agribisnis, asosiasi petani, hingga lembaga jasa keuangan (LJK).
Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan yang dalam kegiatan tersebut diwakili Kepala Divisi Layanan Manajemen Strategis dan Koordinasi Regional Kantor OJK Provinsi Sumatera Selatan, Murtaza, mengatakan komoditas kelapa memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Menurutnya, pengembangan ekosistem kelapa olahan tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga dapat membuka lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan berbagai unit usaha di daerah.
“Kami melihat peluang pengembangan ekosistem kelapa olahan untuk meningkatkan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan menghasilkan produk bernilai tambah. Ini tidak hanya bermanfaat bagi petani, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai unit usaha dalam mengembangkan produk turunan kelapa,” ujar Murtaza.
Ia berharap pengembangan ekosistem kelapa dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan sehingga mampu memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian Bengkulu.
Produksi Besar, Hilirisasi Masih Terbuka Lebar
Berdasarkan data sektor perkebunan rakyat tahun 2024 yang tercantum dalam kerangka acuan kegiatan, luas areal perkebunan kelapa di Provinsi Bengkulu mencapai 8.761 hektare, dengan produksi sekitar 7.091 ton.
Kabupaten Bengkulu Utara menjadi daerah dengan produksi kelapa terbesar, yakni mencapai 2.049 ton. Selanjutnya Kabupaten Seluma sebesar 1.268 ton dan Kabupaten Kaur sebanyak 1.181 ton.
Besarnya potensi tersebut dinilai masih dapat dikembangkan melalui peningkatan produktivitas perkebunan, penguatan kelembagaan petani, perluasan akses pembiayaan, serta pengembangan berbagai produk turunan.
Saat ini, sebagian hasil panen kelapa masih dipasarkan dalam bentuk kelapa bulat maupun kopra. Padahal, komoditas tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti sabut kelapa, briket tempurung kelapa, air kelapa kemasan hingga Virgin Coconut Oil (VCO).
Produktivitas Kelapa Bengkulu Masih Jadi Tantangan
Fungsional Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Bengkulu, Fitri Aryati, S.ST., M.Si., menyampaikan bahwa Bengkulu masih termasuk dalam sepuluh provinsi dengan tingkat produktivitas kelapa terendah secara nasional.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan komoditas kelapa di daerah.
“Provinsi Bengkulu masih termasuk dalam sepuluh provinsi dengan produktivitas kelapa terendah secara nasional. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan tata kelola perkebunan kelapa rakyat, mulai dari peningkatan kualitas bibit, pemupukan, pemeliharaan tanaman, hingga pengendalian hama dan penyakit untuk meningkatkan produktivitas kelapa,” kata Fitri.
Selain produktivitas, tantangan lainnya meliputi kebutuhan peremajaan tanaman, penguatan kelembagaan petani, keterbatasan fasilitas pengolahan, infrastruktur, serta akses pasar.
Satu Pohon Kelapa Bisa Jadi Banyak Produk
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Ir. Suharyanto, S.Pt., M.Si., menilai kelapa merupakan komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara menyeluruh.
Menurutnya, hampir seluruh bagian tanaman kelapa dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi.
“Satu pohon kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi beragam produk bernilai tambah. Tidak hanya untuk sektor pangan dan kesehatan, kelapa juga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak serta dikembangkan menjadi berbagai produk industri rumah tangga dan UMKM,” ujarnya.
Potensi tersebut menjadi peluang bagi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di sentra-sentra produksi kelapa.
Akses Pembiayaan Jadi Faktor Penting
Selain persoalan produksi dan pengolahan, akses pembiayaan menjadi salah satu aspek penting dalam mendorong pengembangan ekosistem kelapa dari hulu hingga hilir.
Dukungan pembiayaan dapat dilakukan melalui business matching antara pelaku usaha dengan lembaga jasa keuangan, penyediaan skema pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik usaha, serta penguatan dukungan penjaminan dan asuransi pertanian.
Dengan demikian, petani tidak hanya didorong meningkatkan produksi, tetapi juga memiliki peluang untuk masuk ke tahap pengolahan dan menghasilkan produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Penguatan ekosistem tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), instansi terkait, pelaku usaha, asosiasi petani, akademisi, serta lembaga jasa keuangan.
Melalui sinergi tersebut, rantai pasok komoditas kelapa di Bengkulu diharapkan dapat diperkuat mulai dari sektor hulu, produksi, pengolahan, pemasaran hingga pembiayaan.
OJK menegaskan akan terus mendorong kolaborasi bersama pemerintah daerah, pelaku usaha dan sektor jasa keuangan guna mengoptimalkan potensi ekonomi daerah, memperkuat usaha produktif, serta memperluas akses masyarakat dan pelaku usaha terhadap produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai dengan kebutuhan.
Jika ekosistem tersebut dapat dibangun secara terintegrasi, komoditas kelapa tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat berkembang menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah yang mampu meningkatkan daya saing dan memberikan dampak ekonomi lebih besar bagi masyarakat Bengkulu.
Feronik(mimi)














