https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Empat Api Sejarah: Dari Brandan ke Plaju dan Sungai Gerong — Jejak Dua Bangsa yang Menyatu di Energi Indonesia

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kompassindonesianews.com Palembang / Jakarta, Minggu, 2 November 2025 Indonesia menyimpan jejak panjang peradaban energi yang dimulai lebih dari seabad lalu. Tiga nama besar — Kilang Pangkalan Brandan, Plaju, dan Sungai Gerong — menjadi bukti bahwa perjalanan minyak Indonesia bukan hanya urusan industri, tetapi juga sejarah diplomasi, kerja keras, dan transformasi nasional. Kini, ketiganya menjadi bagian dari warisan besar yang dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) di bawah naungan PT Pertamina (Persero), dan tengah bertransformasi menuju energi hijau.

Pangkalan Brandan: Api Pertama dari Sumatera Utara

Pada tahun 1885, pengusaha Belanda Aeilko Jans Zijlker menemukan minyak di Telaga Said, Langkat. Temuan itu melahirkan Kilang Pangkalan Brandan pada 1891, dikelola oleh Royal Dutch Company, cikal bakal Shell. Dari sinilah minyak bumi pertama Indonesia diolah dan disalurkan ke kapal serta industri di Asia Tenggara.

Kilang ini resmi berhenti beroperasi pada 7 Maret 2007, namun Api Abadi Brandan tetap dijaga warga sebagai simbol semangat awal energi bangsa.

“Brandan adalah akar sejarah energi nasional. Dari sinilah api pertama Indonesia menyala,” ujar Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama Pertamina (Persero).

Kilang Plaju: Warisan Belanda di Tanah Musi

Dua dekade kemudian, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) — bagian dari Royal Dutch Shell — mendirikan Kilang Plaju pada 1904 di Palembang, Sumatera Selatan. Kilang ini dibangun dengan sistem industri terintegrasi, lengkap dengan perumahan, rumah sakit, dan sekolah untuk pekerja Belanda dan pribumi terampil.

Pada masa kolonial, Plaju menjadi salah satu kilang terbesar di Asia Tenggara. Setelah kemerdekaan, fasilitas ini dinasonalisasi pada tahun 1965 dan kini menjadi Refinery Unit (RU) III Plaju, dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI).

“Plaju adalah warisan industri Belanda yang kini menjadi kekuatan rakyat Indonesia,” ujar Siti Rachmi Indahsari, Area Manager Communication, Relations & CSR KPI RU III Plaju.

Kilang Sungai Gerong: Jejak Amerika di Tepi Musi

Pada tahun 1926, perusahaan Amerika Standard Vacuum Oil Company (Stanvac) — hasil merger antara Standard Oil of New Jersey (Exxon) dan Standard Oil of New York (Mobil) — membangun Kilang Sungai Gerong di seberang Plaju. Dengan teknologi penyulingan mutakhir pada masanya, Sungai Gerong menjadi simbol modernisasi industri minyak dunia.

Setelah nasionalisasi pada 1970, kilang ini digabungkan dengan Plaju menjadi Refinery Unit (RU) III Pertamina Plaju–Sungai Gerong. Kapasitas produksinya kini mencapai 80–90 ribu barel per hari, menopang pasokan energi nasional untuk wilayah barat Indonesia.

“Jika Plaju adalah warisan Belanda, maka Sungai Gerong adalah warisan Amerika — keduanya kini bersatu di bawah bendera merah putih,” tambah Mantiri.

Kilang-Kilang Pertamina di Seluruh Indonesia

Hingga kini, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengelola enam unit kilang utama di seluruh Indonesia dengan total kapasitas lebih dari 1 juta barel per hari. Masing-masing kilang memiliki karakteristik dan kontribusi berbeda terhadap pasokan energi nasional.

1. RU II Dumai – Riau. Mengolah minyak mentah dari Rokan dan Sumatera. Diresmikan pada 1971.

2. RU III Plaju – Sungai Gerong – Sumatera Selatan. Mengolah minyak bumi dan bahan nabati, menjadi pionir green refinery.

3. RU IV Cilacap – Jawa Tengah. Kilang terbesar di Indonesia, berkapasitas sekitar 348.000 barel per hari.

4. RU V Balikpapan – Kalimantan Timur. Fokus pada BBM, avtur, dan LPG. Saat ini dalam proses Refinery Development Master Plan (RDMP) untuk meningkatkan kapasitas.

5. RU VI Balongan – Indramayu, Jawa Barat. Produksi BBM berkualitas tinggi untuk wilayah barat Indonesia.

6. RU VII Kasim – Sorong, Papua Barat Daya. Kilang paling timur Indonesia, simbol pemerataan energi nasional.

Selain itu, terdapat proyek besar yang sedang berjalan:

RDMP Balikpapan & RDMP Cilacap – peningkatan kapasitas dan efisiensi.

Grass Root Refinery (GRR) Tuban – kilang baru berbasis teknologi ramah lingkungan.

Dari Kolonialisme ke Kedaulatan Energi

Kedua kilang di bawah RU III Plaju–Sungai Gerong kini menjalani program transformasi kilang hijau (green refinery), mengolah minyak nabati menjadi bahan bakar rendah emisi. Program ini merupakan bagian dari peta jalan Pertamina menuju Net Zero Emission 2060.

“Dua warisan bangsa asing kini menjadi laboratorium energi hijau Indonesia,” kata Rachmi menegaskan.

Pencarian Arsip Asli dan Jejak Belanda

Untuk memperkaya dokumentasi sejarah, redaksi sedang menelusuri arsip peresmian asli Kilang Plaju dan Sungai Gerong yang diduga tersimpan di Pertamina Jakarta serta arsip Belanda (Tropenmuseum Amsterdam dan Nationaal Archief Den Haag). Pihak Pertamina melalui PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menyambut baik upaya pelestarian ini.

“Kami terus berkoordinasi dengan arsip dalam dan luar negeri untuk melengkapi catatan visual sejarah industri nasional,” ujar perwakilan Humas Pertamina Jakarta.

Warisan yang Menyala untuk Negeri

Dari Api Abadi Brandan di Sumatera Utara, hingga Plaju dan Sungai Gerong di Palembang, serta enam kilang aktif di seluruh nusantara, sejarah membuktikan bahwa Indonesia tidak sekadar pewaris industri kolonial, melainkan bangsa yang mampu mengubah warisan menjadi kekuatan. Kini, di tangan generasi baru Pertamina, api itu terus menyala — bukan hanya sebagai energi, tetapi juga simbol kedaulatan dan kemajuan bangsa.

Penulis: Komarudin
Sumber: Pertamina Jakarta (Humas & PT Kilang Pertamina Internasional), Dunia Energi, Antara News, Sonora Palembang, Tropenmuseum Amsterdam, Nationaal Archief Den Haag

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *