OPINI
oleh Dr. Nursalim, S. Pd., M. Pd
Ketua Fahmi Tamami Azwaja Kota Batam.
Kejahatan tidak selalu mengetuk pintu dengan wajah gelap dan ancaman. Ia sering datang dengan senyum, membawa alasan yang terdengar logis, bahkan terasa menenangkan. Di situlah tipu daya bekerja paling halus. Bukan dengan memaksa manusia berbuat dosa besar, melainkan dengan membuatnya merasa aman dalam kelalaian kecil yang terus dibiarkan.
Salah satu jebakan paling licik adalah rasa cukup pada diri sendiri. Ketika seseorang mulai berkata, “Saya sudah baik,” saat itulah proses perbaikan berhenti. Ibadah tetap berjalan, tetapi kehilangan ruhnya. Kebaikan tetap dilakukan, namun tanpa keikhlasan yang mendalam. Hati merasa tenang, padahal perlahan menjauh dari kesadaran.
Kejahatan tidak lagi tampak sebagai ancaman, melainkan sebagai rutinitas yang dimaklumi.
Tipu daya berikutnya hadir dalam bentuk penundaan. Bukan larangan untuk bertobat, melainkan bisikan, “Nanti saja.” Kata sederhana ini meninabobokan hati. Hari demi hari berlalu, sementara kesalahan terus diulang. Tanpa disadari, penundaan membangun jarak antara manusia dan Tuhannya, hingga suatu saat keinginan untuk kembali terasa berat dan asing.
Ada pula kejahatan yang bersembunyi di balik perasaan paling benar. Ketika seseorang lebih sibuk menilai kesalahan orang lain daripada menundukkan egonya sendiri, kepekaan pun hilang. Perdebatan dipelihara, kemarahan dirawat, dan persaudaraan dikorbankan atas nama kebenaran versi pribadi. Pada titik ini, yang rusak bukan hanya hubungan antarmanusia, tetapi juga kejernihan hati.
Tidak kalah berbahaya adalah ketika dunia perlahan naik tahta di dalam jiwa. Bekerja keras dan meraih keberhasilan bukanlah kesalahan. Namun ketika harta, jabatan, dan pengakuan lebih ditakuti kehilangannya daripada hilangnya ridha Tuhan, arah hidup pun bergeser. Kesibukan terlihat mulia, tetapi batin terasa kosong. Inilah keberhasilan yang tampak, namun kehilangan makna.
Yang paling mengkhawatirkan adalah saat hati tidak lagi merasa bersalah. Dosa menjadi ringan, pelanggaran terasa wajar, dan kesalahan mudah dimaafkan oleh diri sendiri. Pada fase ini, kejahatan tidak lagi diperangi, melainkan dilindungi dengan pembenaran. Hati mengeras bukan karena banyaknya dosa besar, tetapi karena terlalu sering memaklumi yang kecil.
Di tengah semua itu, muhasabah menjadi cahaya penuntun. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri, merasa kurang di hadapan Tuhan, dan terus ingin memperbaiki diri adalah tanda hati yang masih hidup. Kesadaran inilah yang meruntuhkan tipu daya paling halus, sebab kejahatan tidak berdaya di hadapan jiwa yang rendah hati dan terus ingin kembali.
Pada akhirnya, pertarungan terbesar bukanlah melawan dosa yang terlihat, tetapi melawan pembenaran yang tersembunyi di dalam hati. Ketika manusia mampu berkata, “Aku masih harus berubah,” saat itulah jalan keselamatan terbuka. Dan di situlah tipu daya kehilangan tempat untuk bersembunyi.















