Kompassindonesianews.com
Jakarta, Senin 9 Februari 2026
Kisah Mayor (kemudian Kolonel) Alex Kawilarang menampar Letnan Kolonel Soeharto disebut terjadi pada awal 1950-an di Makassar, dalam konteks pergolakan keamanan Indonesia Timur pasca pengakuan kedaulatan. Peristiwa ini kerap beredar luas di lingkungan militer sebagai cerita internal mengenai ketegasan komando dan konflik disiplin di tubuh TNI pada masa transisi revolusi.
Saat itu, Alex Kawilarang menjabat sebagai Panglima Komando Tentara dan Teritorium VII/Indonesia Timur, sementara Soeharto memimpin Brigade Mataram yang mendapat tugas mempertahankan Makassar dari tekanan dan manuver pasukan KNIL Belanda.
Latar Belakang Kejadian
Menurut berbagai sumber non
resmi dan cerita lisan di kalangan perwira, Alex Kawilarang sempat melaporkan kepada Presiden Soekarno bahwa situasi Makassar dalam kondisi aman dan terkendali. Namun laporan tersebut kemudian dipertanyakan setelah muncul informasi lanjutan bahwa pasukan KNIL Belanda telah menduduki kota Makassar.
Perbedaan antara laporan komando dan kondisi lapangan ini memicu kemarahan Alex Kawilarang, karena dianggap mencerminkan kegagalan disiplin dan kejujuran laporan dari satuan di bawah komando Letkol Soeharto.
Insiden Teguran Keras
Dalam versi cerita yang paling sering beredar, Alex Kawilarang mengetahui bahwa Brigade Mataram justru mundur ke Lapangan Udara Mandai, alih-alih bertahan di pusat kota. Mundurnya pasukan ini dinilai sebagai kesalahan taktis serius.
Dalam kemarahan yang memuncak, Alex Kawilarang disebut menegur keras Soeharto, dengan ungkapan yang kemudian menjadi legendaris di lingkungan militer:
“Sirkus apa-apaan ini?”
Sebagian versi cerita menyebutkan adanya tindakan fisik berupa tamparan. Namun detail ini menjadi titik kontroversi utama dalam historiografi peristiwa tersebut.
Klarifikasi dan Bantahan
Dalam sejumlah wawancara di kemudian hari, Alex Kawilarang membantah pernah menampar Soeharto secara fisik. Ia mengakui adanya teguran keras dan kemarahan terbuka, tetapi menolak narasi bahwa terjadi kekerasan fisik antara atasan dan bawahan.
Hingga kini, tidak terdapat dokumen resmi, laporan disipliner, atau arsip negara yang secara eksplisit mencatat peristiwa penamparan tersebut. Karena itu, kisah ini lebih tepat dipahami sebagai kontroversi sejarah militer yang hidup dalam tradisi lisan, bukan fakta tunggal yang telah terverifikasi sepenuhnya.
Figur Alex Kawilarang
Alex Kawilarang dikenal sebagai perwira pelopor yang menjunjung tinggi disiplin dan profesionalisme militer. Ia juga tercatat sebagai perintis satuan khusus TNI, yang kelak berkembang menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Reputasinya sebagai komandan tegas menjadikan kisah Makassar ini terus dikenang sebagai simbol kerasnya standar kepemimpinan militer pada masa awal republik.
( Komarudin )














