https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Aliansi Warga Gununggiana Bersatu Bela Bidan Desa, Tuntut Oknum Kadus Mundur

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Banjarnegara, — Kompassindonesianews.com Gelombang solidaritas masyarakat Desa Gununggiana, Kecamatan Madukara, menguat setelah muncul dugaan tindakan tidak pantas yang dilakukan oleh seorang oknum Kepala Dusun (kadus) terhadap seorang bidan desa. Peristiwa yang terjadi pada 7 April 2026 sekitar pukul 11.50 WIB itu kini memicu kemarahan warga dan berujung pada pembentukan aliansi masyarakat. 3 Mei 2026

Insiden bermula saat seorang bidan desa tidak berada di rumahnya. Di dalam rumah hanya ada putrinya, NN (16), yang tengah sakit. Saat keluar dari kamar kecil, Nadin terkejut mendapati seorang pria—yang diduga oknum kadus berinisial B—sudah berada di dalam rumah tanpa izin. Menyadari kehadirannya diketahui, pria tersebut langsung melompat keluar melalui jendela dan melarikan diri menggunakan sepeda motor.

Dalam kondisi panik, Nn segera menghubungi ibunya melalui WhatsApp dan melaporkan kejadian tersebut. Sang bidan kemudian menyampaikan laporan kepada Kepala Desa Gununggiana. Saat itu, pihak desa menyatakan bahwa oknum kadus akan segera dipanggil untuk diberikan teguran.

Namun, situasi berkembang tidak terduga. Setelah laporan tersebut, muncul rumor yang menyudutkan sang bidan dengan tuduhan perselingkuhan yang tidak berdasar. Isu tersebut bahkan disebut-sebut dapat berujung pada pelaporan ke atasan dan ancaman pemindahan tugas.

Kabar ini sontak memicu reaksi keras dari masyarakat. Warga menilai tuduhan tersebut sebagai bentuk pencemaran nama baik terhadap bidan yang telah mengabdi selama 15 tahun di desa itu. Dukungan pun mengalir deras.

Aliansi Warga Gununggiana Bersatu yang terbentuk akibat keresahan ini menyatakan sikap tegas. Mereka mendukung penuh bidan desa dan menilai ia menjadi korban ketidakadilan.

Salah satu tokoh masyarakat yang dituakan, SM, mewakili aliansi, menyampaikan tuntutan agar oknum kadus tersebut segera mundur dari jabatannya.

“Kami menuntut penegakan keadilan secara transparan dan objektif. Ini bukan hanya soal satu kejadian, tapi akumulasi keresahan warga selama ini terhadap perilaku oknum tersebut,” tegasnya.

Warga juga mengungkapkan bahwa dugaan perilaku meresahkan oleh oknum kadus bukan kali pertama terjadi sejak ia menjabat. Kasus ini disebut menjadi titik puncak yang akhirnya menyatukan masyarakat dalam satu gerakan.

Meski demikian, aliansi mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kondusivitas dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Mereka berharap pihak berwenang segera turun tangan untuk mengusut kasus ini secara tuntas dan adil.

Peristiwa ini kini menjadi sorotan publik lokal, sekaligus ujian bagi penegakan integritas dan keadilan di tingkat desa.

Redaksi

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *