https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Menghidupkan Kembali Masjid Kiai Marogan 24 Jam: Harmoni Dakwah, Kuliner Sungai, dan Ruang Healing Gen Z

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Palembang, 3 Mei 2026 — Kompassindonesianews.com Semangat menghidupkan kembali denyut peradaban Islam berbasis masjid kembali bergelora di tepian Sungai Musi. Zuriyat Kiai Marogan bersama masyarakat setempat menggelar musyawarah penuh makna di Rumah Tahfidz Kiai Marogan, Kelurahan Ogan Baru, Kecamatan Kertapati, Minggu malam ba’da Isya. Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam merancang transformasi Masjid Kiai Marogan sebagai pusat dakwah yang hidup 24 jam sekaligus destinasi wisata religi yang unik dan berdaya tarik tinggi.

Rapat tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Syekh Muda Mgs. Ahmad Pauzi, KH. Mgs. Ahmad Pauzan Yayan, dan Syekh Muda Mgs. Iksan, bersama tokoh masyarakat serta para ibu-ibu zuriyat. Suasana diskusi berlangsung hangat dan produktif, menghasilkan kesepakatan strategis untuk mengembangkan kawasan masjid menjadi ruang multifungsi yang menyatukan spiritualitas, ekonomi, dan budaya.

Salah satu gagasan yang mencuri perhatian adalah pembangunan sentra kuliner khas Palembang yang akan berdiri di atas rakit Sungai Musi. Konsep ini tidak hanya menawarkan pengalaman bersantap yang berbeda, tetapi juga memadukan keindahan alam sungai dengan cita rasa autentik. Beragam kuliner legendaris seperti pempek, tekwan, celimpungan, burgo, pindang patin, martabak har, hingga laksan akan disajikan dalam balutan konsep estetik dan kekinian.

Tak hanya itu, kawasan ini juga dirancang sebagai ruang “healing” dan kreativitas bagi generasi muda, khususnya Gen Z. Mulai dari spot foto bernuansa heritage, area nongkrong santai di atas rakit, hingga kajian ringan yang dikemas secara santai namun bermakna. Aktivitas ini diharapkan mampu menarik minat anak muda untuk kembali meramaikan masjid tanpa kehilangan esensi spiritualnya.

Selain fungsi sosial dan budaya, pengembangan fasilitas pendukung seperti area pemancingan, tempat bersantai, hingga penginapan ramah wisatawan juga menjadi bagian dari rencana besar ini. Dengan pendekatan tersebut, Masjid Kiai Marogan diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah semata, tetapi juga pusat peradaban yang hidup, inklusif, dan berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.

Inisiatif ini menjadi bukti bahwa masjid dapat bertransformasi mengikuti zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur. Di tepian Sungai Musi, sebuah harapan baru sedang dibangun—menjadikan Palembang bukan hanya kota sejarah, tetapi juga kota religi yang dinamis, kreatif, dan menginspirasi.

(Komarudin)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *