https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

SENAYAN SEMPAT MEMANAS: Massa Teriakkan “Jaga Jakarta” Usai Penertiban Satpol PP, Polisi Turun Menenangkan Situasi

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

JAKARTAkompassindonesianews.com/ — Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika suasana di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026), mendadak berubah tegang.

Aksi unjuk rasa yang dijadwalkan berlangsung hari ini bahkan belum memasuki agenda utama ketika ketegangan sudah lebih dahulu menyapa kawasan parlemen.

Pemicu situasi tersebut adalah penertiban pedagang kaki lima oleh petugas Satpol PP DKI Jakarta. Pedagang yang berada di sekitar lokasi diketahui menyediakan kebutuhan logistik bagi peserta aksi. Penertiban itu kemudian memantik keberatan massa yang telah berkumpul sejak pagi.

Suasana sempat riuh. Sorakan terdengar dari tengah kerumunan, bahkan terjadi lemparan botol air mineral ke arah petugas.

Namun di tengah atmosfer yang mulai panas, sejumlah peserta justru menyerukan agar massa tidak terpancing.

A. “Jangan terpancing!”

Seruan tersebut kemudian berkembang menjadi pekikan yang lebih luas:

“Jaga Jakarta! Jaga Jakarta! Jaga Jakarta sekarang juga!”

Seruan itu menjadi semacam rem darurat ketika emosi mulai bergerak lebih cepat daripada akal sehat.

Bukan Sekadar Soal PKL, Massa Khawatir Aksi Bergeser

Penertiban pedagang yang menjadi pemicu ketegangan pagi itu mendapat perhatian karena pedagang dianggap membantu menyediakan kebutuhan peserta aksi selama berada di lokasi.

Bagi sebagian massa, penertiban tersebut dinilai mengganggu aktivitas mereka. Sementara dari sisi petugas, penataan kawasan merupakan bagian dari upaya menjaga keteraturan ruang publik.

Persoalan yang sebenarnya sederhana itu pun nyaris berkembang menjadi benturan apabila tidak segera dikendalikan.

Beruntung, para orator turun tangan. Mereka mengingatkan peserta untuk kembali kepada tujuan awal aksi: menyampaikan aspirasi, bukan mencari keributan.

Situasi kemudian berangsur kondusif, meskipun aparat kepolisian tetap disiagakan di sekitar lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan eskalasi.

B. AMPB Tetap Bergerak, DPR Buka Pintu Audiensi

Ketegangan pagi tersebut terjadi di tengah berlangsungnya aksi berbagai kelompok masyarakat di kawasan DPR.

Salah satunya Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB). Perwakilan massa yang dipimpin Supriyono alias Botok bahkan telah diterima untuk melakukan audiensi dengan pimpinan DPR RI.

Meski sudah mendapatkan ruang untuk menyampaikan aspirasi, AMPB memastikan aksi mereka tetap berlanjut.

Tuntutan yang dibawa antara lain percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset serta tuntutan hukuman mati bagi koruptor.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa ruang dialog masih terbuka. Aspirasi tidak harus selalu berakhir di jalanan yang penuh ketegangan; ia juga bisa masuk ke ruang pertemuan, dicatat, diperdebatkan, lalu diuji melalui mekanisme demokrasi.

C. 18.504 Personel Disiagakan, Jakarta Dalam Pengamanan Berlapis

Di tengah mobilisasi massa, pengamanan di Jakarta Pusat juga diperketat.

Sebanyak 18.504 personel disiapkan untuk mengamankan sekaligus melayani rangkaian aksi pada Kamis ini. Personel ditempatkan dalam sejumlah zona pengamanan untuk mengantisipasi perkembangan situasi di lapangan.

Polri sebelumnya telah menegaskan bahwa masyarakat tetap memiliki hak menyampaikan pendapat. Namun hak tersebut harus berjalan beriringan dengan kewajiban menghormati keamanan, ketertiban, serta hak warga lainnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga sebelumnya mempersilakan masyarakat menyampaikan aspirasi selama dilakukan secara tertib dan tidak berujung pada tindakan anarkis atau perusakan fasilitas publik.

Di Tengah Panasnya Jalanan, “Jaga Jakarta” Justru Menjadi Pesan Penting

D. Ada satu hal menarik dari ketegangan pagi ini.

Ketika suasana mulai panas, sebagian massa tidak memilih memperbesar api. Mereka justru mengingatkan sesama peserta agar tidak terprovokasi.

“Jaga Jakarta.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi dalam situasi seperti ini, maknanya menjadi jauh lebih dalam.

Menjaga Jakarta bukan berarti membungkam suara rakyat.

Bukan pula berarti melarang kritik.

Menjaga Jakarta berarti memastikan suara kritik tetap terdengar tanpa harus membuat kota terluka.

Demonstrasi adalah bagian dari demokrasi. Pemerintah boleh dikritik. DPR boleh didesak. Kebijakan boleh dipersoalkan.

Tetapi trotoar bukan medan perang.

Petugas bukan musuh.

Pedagang bukan sasaran.

Dan sesama warga negara bukan lawan yang harus ditaklukkan.

Karena itu, ketika Senayan hari ini menjadi panggung bagi berbagai suara rakyat, pertanyaan terbesarnya bukan sekadar “seberapa besar massa yang turun?”

Melainkan:

“Seberapa dewasa kita mampu menyampaikan perbedaan tanpa kehilangan kemanusiaan?”

Pagi ini, Senayan telah memberi pelajaran kecil: emosi bisa menyulut kerumunan dalam hitungan detik, tetapi satu seruan untuk menjaga Jakarta ternyata juga mampu menariknya kembali menuju ketenangan.

Dan untuk sebuah ibu kota yang sedang menjadi pusat perhatian nasional, mungkin itulah suara yang paling dibutuhkan hari ini.

Bersuara, tetapi tidak membakar.
Mengkritik, tetapi tidak menghina.
Menuntut, tetapi tetap beradab.
Berbeda, tetapi tidak saling bermusuhan.

KompassIndonesiaNews — Suara Rakyat, Catatan Peradaban.

Penulis:
Burhanudin Fajri
Zill Samt

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *