https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Haidar Gibran Fairuz Atmaja, “Janaka Kecil” MI Hidayatus Salam Lowayu Warnai Karnaval Warisan Nusantara

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

GRESIK|Kompassindonesianews.com – Semarak budaya Nusantara hadir dalam Karnaval MI Hidayatus Salam Lowayu, Desa Lowayu, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026). Mengusung tema “Warisan Nusantara: Jejak Budaya, Jati Diri Bangsa”, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi para siswa untuk mengenal dan menampilkan kekayaan budaya Indonesia melalui sejarah, legenda, seni tradisional, dan tokoh pewayangan.

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah sosok Janaka, tokoh pewayangan yang diperankan oleh Haidar Gibran Fairuz Atmaja, siswa kelas 2 MI Hidayatus Salam Lowayu.

 

Dengan mengenakan busana yang menggambarkan karakter seorang ksatria pewayangan, Haidar tampil sebagai Janaka atau Arjuna, salah satu tokoh utama dalam kisah Mahabharata dan pewayangan Jawa.

 

Penampilan tersebut bukan sekadar bagian dari kemeriahan karnaval. Sosok Janaka yang dibawakan Haidar menjadi bagian dari pesan besar yang ingin disampaikan melalui tema “Warisan Nusantara”, yakni mengenalkan nilai-nilai budaya kepada anak-anak sejak usia dini.

 

Janaka, Ksatria yang Tidak Hanya Mengandalkan Kesaktian

Dalam cerita pewayangan Jawa, Janaka merupakan salah satu nama atau gelar dari Arjuna, putra Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Kunti serta salah satu dari lima Pandawa.

 

Janaka dikenal sebagai ksatria yang memiliki kemampuan memanah luar biasa. Namun, kisah hidupnya tidak hanya berbicara tentang kesaktian dan kemenangan dalam peperangan.

 

Janaka digambarkan sebagai sosok yang cerdas, tekun, tenang, rendah hati, pemberani, dan mampu mengendalikan diri. Ia menjalani berbagai perjalanan dan laku prihatin untuk memperoleh ilmu serta meningkatkan kemampuan dirinya.

Dalam berbagai lakon pewayangan, perjalanan Janaka menggambarkan proses seorang manusia dalam menempa diri. Kesaktian yang dimiliki tidak datang begitu saja, melainkan melalui belajar, berguru, berlatih, bertapa, serta menghadapi berbagai ujian kehidupan.

 

Nilai tersebut menjadi menarik ketika diwujudkan dalam sosok Haidar, seorang siswa kelas 2 yang masih berada pada tahap awal perjalanan pendidikannya.

Jika Janaka dalam kisah pewayangan dikenal mampu membidik sasaran dengan busurnya, Haidar seakan sedang belajar membidik “sasaran” kehidupannya sendiri: menjadi anak yang berani, percaya diri, berkarakter, serta mengenal akar budayanya.

 

Karnaval Menjadi Panggung Cerita Budaya.

 

Karnaval MI Hidayatus Salam Lowayu tidak sekadar menghadirkan parade kostum. Konsep kegiatan dikemas dengan berbagai cerita yang menggambarkan kekayaan budaya Jawa dan Nusantara.

 

Tema “Warisan Nusantara: Jejak Budaya, Jati Diri Bangsa” diterjemahkan melalui tiga bagian besar, yakni Babat Tanah Jawi, Legenda Reog Ponorogo, dan Pewayangan.

Babat Tanah Jawi membawa nuansa sejarah dan perjalanan peradaban masa lalu. Legenda Reog Ponorogo menghadirkan karakter dan simbol kesenian tradisional seperti Singo Barong, dadak merak, warok, dan bujang ganong.

Sedangkan bagian pewayangan menghadirkan tokoh-tokoh seperti Janaka atau Arjuna, Bima, dan Semar.

 

Berbagai elemen visual seperti wayang kulit, gamelan, batik, ornamen tradisional, hingga kesenian Reog menjadi bagian dari gambaran besar tentang kekayaan budaya Nusantara.

 

Karnaval yang berlangsung di Desa Lowayu, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, tersebut pun berubah menjadi panggung berjalan yang mempertemukan anak-anak dengan cerita masa lalu.

 

Pesan Wali Kelas Bu Hj. Filla: Budaya Harus Dikenalkan Sejak Dini.

 

Bu Hj. Filla, wali kelas Haidar, mengatakan bahwa kegiatan karnaval menjadi sarana pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa.

Menurutnya, anak-anak tidak hanya diajak mengenakan pakaian atau kostum tradisional, tetapi juga diperkenalkan dengan makna di balik tokoh dan budaya yang mereka tampilkan.

 

“Kami ingin anak-anak mengenal budaya Indonesia dengan cara yang menyenangkan. Ketika Haidar tampil sebagai Janaka, harapannya anak-anak bukan hanya mengetahui sosoknya, tetapi juga mengenal karakter Janaka yang penuh ketekunan, keberanian, kecerdasan dan rendah hati. Nilai-nilai tersebut penting untuk ditanamkan sejak dini,” ujar Bu Hj. Filla.

 

Ia menilai kegiatan seperti ini dapat menjadi media untuk membangun kepercayaan diri, kreativitas, keberanian tampil di depan umum, sekaligus kecintaan terhadap budaya Nusantara.

 

Haidar Gibran Fairuz Atmaja, Janaka Kecil dari Lowayu

Di tengah kemeriahan karnaval, sosok Haidar Gibran Fairuz Atmaja menjadi gambaran sederhana bagaimana cerita pewayangan dapat dikenalkan kepada generasi muda.

 

Haidar memang masih duduk di bangku kelas 2 MI. Namun, melalui perannya sebagai Janaka, ia membawa karakter seorang ksatria ke tengah lingkungan sekolah dan masyarakat.

 

Janaka dalam cerita adalah seorang ksatria yang menjalani perjalanan panjang untuk menemukan kemampuan dan jati dirinya.

 

Haidar pun sedang memulai perjalanan yang sama dalam bentuk yang berbeda.

Ia belajar membaca, berhitung, mengenal lingkungan, membangun keberanian, berteman, dan memahami nilai-nilai kehidupan. Karnaval menjadi salah satu ruang baginya untuk belajar tampil dan percaya diri.

 

Di situlah makna “Jejak Budaya, Jati Diri Bangsa” terasa.

 

Budaya tidak cukup hanya disimpan di museum atau diceritakan dalam buku. Budaya akan tetap hidup apabila anak-anak mengenalnya, memahaminya, mencintainya, kemudian berani memperkenalkannya kembali kepada generasi berikutnya.

 

Kepsek Amiri, S.Pd : Dari Lowayu, Cerita Nusantara Terus Berjalan

 

Kepala sekolah, Amiri, S.Pd, mengatakan bahwa kebangaan bagi sekolah kami bisa terus partisipasi dalam kemeriahan HUT 81 RI, yang di selenggarakan pada Kamis, 27 Agustus 2026, Desa Lowayu, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, menjadi saksi sebuah perayaan kecil yang membawa pesan besar.

 

“Anak-anak MI Hidayatus Salam berjalan dalam balutan berbagai karakter dan simbol budaya. Ada sejarah, ada Reog Ponorogo, ada wayang, dan ada kisah para ksatria,” Kata Kepsek.

 

Di antara mereka, Haidar Gibran Fairuz Atmaja hadir sebagai Janaka kecil.

Ia bukan Janaka yang sedang menghadapi perang besar Baratayuda.

 

“Ia adalah Janaka dalam versi generasi baru, seorang anak yang sedang belajar mengenal budaya, membangun karakter, dan menemukan jati dirinya,” terangnya.

 

Lebih lanjut, Amiri menjelaskan, “Sebab pada akhirnya, warisan Nusantara bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia adalah amanah yang harus diteruskan oleh anak-anak hari ini kepada generasi yang akan datang. Dan dari Lowayu, cerita itu kembali dimulai. Janaka telah berjalan. Bukan membawa busur untuk berperang, melainkan membawa pesan bahwa budaya dan jati diri bangsa harus terus dijaga,” pungkasnya.

 

Pewarta : Lulu Zaerina

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *