Sleman – KompassIndonesianews.com, Sleman Creative Weeks (SCW) 2026 kembali digelar dengan menghadirkan rangkaian seni, budaya, dan ekonomi kreatif di sejumlah ruang budaya dan komunitas di Kabupaten Sleman, DIY.
Memasuki tahun kelima, SCW 2026 mengusung kata kunci “Share”, yang menekankan semangat berbagi pengetahuan, pengalaman, kreativitas, dan ruang kolaborasi di tengah berbagai tantangan.
Ketua SCW 2026, Suluh Pamuji, mengatakan konsep tersebut tetap mempertahankan identitas SCW yang bertumpu pada living dan culture, sementara kata penghubungnya berubah setiap tahun mengikuti dinamika.
“Share dipilih karena dalam kondisi seperti ini kita memang harus saling berbagi untuk bisa bertahan dan tetap bertumbuh,” kata Suluh.
SCW 2026 menghadirkan empat agenda utama, yakni Sleman Kite Festival pada 27 September di Pondok Pesantren Minggir Gus Muwafiq; Bedog Arts Fest pada 2–10 Oktober di Studio Banjarmili; Pesta Boneka pada 6–11 Oktober di Ruang Pana, Kompleks Kampoeng Media; serta Sinergi Sinema Sleman dan Sleman Film Competition pada 27 September, 6 Oktober, dan 10 Oktober.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sleman, Irawati Palupi Dewi, mengatakan SCW tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga membuka ruang partisipasi masyarakat melalui pemutaran film, diskusi, pertunjukan, kompetisi, lokakarya, dan pertemuan antarkomunitas.
“Jadi masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berpartisipasi dalam proses penciptaan dan pertukaran pengetahuan,” ujarnya.
Selain empat agenda utama, SCW 2026 menghadirkan Sleman Film Competition dan Lomba Layang-Layang Kategori Tradisional.
Sleman Film Competition terbuka bagi pelajar dan umum dengan tema dinamika budaya, lingkungan dan perubahan iklim, pengarusutamaan gender dan perempuan, serta inklusivitas dan anak-anak. Pendaftaran dibuka 25 September, penjurian 27–29 September, dan pengumuman pemenang 6 Oktober 2026.
Sementara lomba layang-layang tradisional digelar 27 September pukul 12.00–16.00 WIB. Hadiah yang disiapkan yakni Rp1,75 juta untuk juara pertama, Rp1,5 juta juara kedua, dan Rp1,25 juta juara ketiga.
Suluh menjelaskan, pengelolaan SCW setiap tahun melibatkan komunitas yang berbeda secara bergilir. Tahun ini pengelolaan berada di KDM Cinema, sedangkan tahun depan direncanakan dari komunitas Pesta Boneka.
Menurutnya, pola tersebut membuat SCW tetap menjadi ruang kolaborasi lintas komunitas dan generasi. Setiap agenda memiliki karakter masing-masing, tetapi terhubung dalam satu rangkaian festival.
“Lebih ke bagaimana cara menjahitnya, termasuk pertanggungjawaban dan akuntabilitasnya kepada Dinas Pariwisata,” kata Suluh.
(Joni)















