https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Yuk! Kenalan Dengan Nabhan! Bocah Depok Yang Sudah Menulis Jalan Prestasinya di Tingkat Nasional

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Depok – kompassindonesianews.com/ — Namanya Muhammad Nabhan Zayyanu Abdar. Namun bagi keluarga, guru, sahabat, dan orang-orang yang mulai mengenal kiprahnya, ia biasa dipanggil Nabhan.

Usianya masih sebelas tahun. Tubuhnya masih seorang anak. Seragam sekolah masih menjadi pakaian sehari-hari. Buku pelajaran masih memenuhi tasnya.

Tetapi dari usia yang masih muda itu, Nabhan perlahan sedang menulis sebuah perjalanan yang menarik untuk disimak: belajar, mencoba, tampil, berkarya, lalu kembali belajar dari setiap pengalaman.

Nabhan lahir di Jakarta pada 8 Desember 2014. Ia merupakan anak satu-satunya dari Uus Tusdiana dan Sri Rahayu.

Kehadirannya dalam keluarga bukan datang setelah perjalanan yang singkat.

Ayah dan ibunya menikah pada 2003 dan harus melalui penantian selama sebelas tahun sebelum Allah menghadirkan Nabhan sebagai buah hati mereka.

Mungkin karena itu pula, bagi Uus dan Sri, mendampingi tumbuh kembang Nabhan bukan sekadar tugas orang tua. Ada rasa syukur yang berjalan bersama amanah. Mereka ingin putra semata wayangnya tidak hanya tumbuh pintar, tetapi menjadi anak yang saleh, memiliki banyak keterampilan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Dan hari ini, proses itu sedang berjalan.

Anak yang Suka Mencoba

Di mata kedua orang tuanya, Nabhan adalah anak yang ceria, bersemangat, komunikatif, kritis, kompetitif, dan menyukai tantangan maupun hal-hal baru.

Karakter tersebut terlihat dari pilihan aktivitas yang ia jalani.

Ia tidak hanya duduk di ruang kelas.

Ia juga menulis buku, mengikuti forum anak, belajar berbicara di depan publik, mengikuti perlombaan tahfidz, mengenal isu lingkungan, belajar jurnalistik, tampil dalam kegiatan budaya, hingga terlibat dalam berbagai konferensi anak.

Bagi Nabhan, satu pengalaman tampaknya selalu membuka pintu menuju pengalaman berikutnya.

Dan semuanya bermula dari keberanian sederhana:
“BERANI MENCOBA.”

Dari Sebuah Buku, Nama Nabhan Mulai Dikenal

Salah satu jejak paling awal perjalanan publik Nabhan datang dari dunia literasi.

Pada 2023, ia mengikuti Pameran Karya Penulis Cilik Karya Raya di Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Karya berjudul “Umrah Pertamaku” kemudian masuk dalam 100 karya terpilih Karya Raya 2023.

Setahun berikutnya, ia kembali terpilih melalui buku “Mangrove Ajaib”.

Pada 2025, karya “Kencur Harapan” bahkan meraih Canva Creator Awards Karya Raya.

Dari sana, Nabhan terus menulis.

Karya-karyanya berkembang menjadi “Sahabat Penyu”, “Festival Tukik”, “Dari Wajan Menjadi Harapan”, “Belalai Yang Terkulai”, hingga keterlibatannya dalam sejumlah buku antologi seperti “Gajah Penunggu Rimba”, “Suara Rimba”, “Mangrove Penjaga Bumi”, “Rajutan Puisi untuk Ibu”, dan “Kisah di Ujung Pelangi”.

Tema tulisannya pun cukup beragam. Ada cerita perjalanan, lingkungan, hewan, ibu, dan bumi.

Seolah-olah dari meja kecil tempat ia menulis, Nabhan sedang belajar melihat dunia dari banyak sudut.

Menulis Membuatnya Berani Berbicara

Dunia literasi kemudian membawanya ke ruang yang lebih luas.

Nabhan mengikuti Pesta Raya Cerita Patjar Merah Kecil 2024, menjadi salah satu dari 7 Kreator Cilik, lalu masuk dalam berbagai forum dan ajang anak.

Ia mengikuti International Kids Conference 2025, Duta Pembicara Muda Indonesia 2025, Duta Anak Jawa Barat 2025, Duta Perubahan Iklim Sahabat UI 2025, hingga Indonesia Net Zero Summit 2026.

Dalam Indonesia Net Zero Summit 2026, Nabhan dipercaya menjadi deklator.

Di ruang yang lain, ia mendapat kesempatan menjadi Wartawan Junior Majalah CIA periode 2025–2026.

Pengalaman itu mempertemukan Nabhan dengan satu keterampilan yang terus tumbuh: kemampuan menyampaikan gagasan.

Ia bukan hanya belajar menulis.

Ia belajar berbicara tentang apa yang ia pikirkan.

Prestasi Datang Mengikuti Proses

Kini, nama Nabhan juga muncul dalam berbagai capaian.

Ia meraih Anugerah Anak Indonesia Awards 2026 kategori Bahasa & Literasi, menjadi The Best Kids Participant DPMI Batch 1 2025, meraih Juara 2 Duta Anak Jawa Barat, serta Runner-up 2 Duta Batik Cilik & Remaja 2026.

Ia juga pernah terpilih menjadi 14 anggota Kidzania Congrezz Kidz, dipercaya sebagai narasumber pada karantina DPMI Batch 5 2026, dan menjadi Duta Perubahan Iklim Sahabat UI.

Di bidang keagamaan, perjalanan Nabhan juga tidak kecil.

Ia meraih Juara 1 Tahfidz Tingkat SD pada Festival Ramadhan Masjid Shalahuddin Kanwil DJP Jawa Barat III 2026, setelah sebelumnya memperoleh golden ticket seleksi Hafidz Cilik RCTI 2025.

Ia juga pernah meraih Juara II Tahfidz Anak Putra Festival Ramadhan Masjid Shalahuddin Kanwil DJP Jawa Barat III 2025, Juara 1 Tahfidz Anak Festival Ramadhan SDTQ Qiblatain 2022, dan Juara 3 MTQ Festival Hari Santri Pondok Primago 2023.

Di bidang dakwah anak, ia meraih Juara 2 Pildacil PAI SD Kota Depok.

Deretan tersebut memang menarik.

Tetapi bila dilihat lebih dekat, ada sesuatu yang lebih penting daripada jumlah penghargaan itu: Nabhan sedang membangun banyak kemampuan sekaligus.

Akademik Tetap Dijaga

Di tengah padatnya kegiatan di luar sekolah, pendidikan formal tetap menjadi bagian utama.

Nabhan saat ini duduk di kelas 6 SD SekolahAdab.ID dan secara akademik konsisten berada di tiga besar.

Sekolah menjadi ruang bagi Nabhan untuk menjaga keseimbangan antara pengetahuan dan karakter.

Di sana, aktivitas belajar tidak berdiri sendirian. Nabhan juga tumbuh dalam lingkungan yang menekankan adab, iman, Al-Qur’an, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.

Hal ini menjadi bagian penting dari proses tumbuhnya.

Sebab semakin banyak seorang anak tampil di hadapan publik, semakin besar pula kebutuhan untuk membangun fondasi karakter di dalam dirinya.

Nabhan Tidak Hanya Mengejar Panggung

Menariknya, berbagai kegiatan yang diikuti Nabhan memiliki pola yang hampir selalu sama: ia datang sebagai peserta, lalu membawa pulang pengalaman.

Kadang pengalaman itu berupa penghargaan.

Kadang berupa jejaring pertemanan.

Kadang berupa keberanian berbicara.

Kadang hanya berupa pelajaran karena belum berhasil menjadi yang terbaik.

Semua tetap menjadi bekal.

Orang tua Nabhan pun tidak menggambarkan anaknya hanya dengan kata “berprestasi”.

Mereka lebih dulu menyebutnya ceria, bersemangat, kritis, komunikatif, menyukai tantangan, dan senang mencoba hal baru.

Karena bagi keluarga, prestasi seharusnya menjadi bagian dari pertumbuhan, bukan satu-satunya ukuran pertumbuhan.

Ada Sebuah Prinsip yang Ia Pegang

Nabhan memiliki satu prinsip hidup yang sederhana, tetapi terasa sangat dekat dengan perjalanan yang sedang ia jalani:

Tidak perlu menunggu hebat untuk memulai dan menginspirasi, tapi kita harus berani memulai untuk menjadi hebat dan menginspirasi.”

Kalimat itu seperti menggambarkan dirinya sendiri.

Ia tidak menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.

Tidak menunggu menjadi pembicara hebat untuk berani berbicara.

Tidak menunggu menjadi juara untuk berani ikut perlombaan.

Ia memulai.

Kemudian belajar.

Lalu mencoba lagi.

Dari situlah kemampuan tumbuh.

Dan dari kemampuan yang terus diasah, prestasi datang satu per satu.

Di Balik Nabhan, Ada Orang Tua yang Terus Menemani

Tidak banyak anak yang bisa menjalani begitu banyak aktivitas tanpa dukungan keluarga.

Uus dan Sri memahami bahwa membesarkan seorang anak yang aktif membutuhkan pendampingan yang serius.

Karena itu, proses Nabhan dijaga bukan hanya dari sisi pencapaian, tetapi juga dari sisi arah hidupnya.

Mereka ingin Nabhan tetap bahagia belajar.

Tetap memiliki rasa ingin tahu.

Tetap berani bermimpi.

Tetap mau mencoba.

Tetapi sekaligus tetap rendah hati.

Setelah sebelas tahun menunggu seorang anak, mereka kini menyaksikan putranya perlahan menemukan jalannya sendiri.

Bagi orang tua, mungkin itulah kebahagiaan yang paling dalam.

Bukan ketika nama anak dipanggil untuk menerima penghargaan.

Melainkan ketika melihat anak mampu berdiri dengan kakinya sendiri, mengetahui apa yang ingin dipelajarinya, dan tetap menjadi pribadi baik ketika tidak ada panggung yang menyorotnya.

Mimpi yang Masih Panjang

Ketika ditanya tentang cita-cita, Nabhan memilih diplomat.

Pilihan itu terasa menarik untuk seorang anak yang sejak kecil sudah akrab dengan dunia bahasa, literasi, forum anak, lingkungan, budaya, dan komunikasi.

Tetapi jalan menuju ke sana masih panjang.

Masih banyak buku yang harus dibaca.

Masih banyak ilmu yang harus dipelajari.

Masih banyak kesalahan yang akan mengajarkannya menjadi lebih dewasa.

Dan mungkin, justru itulah sisi paling menarik dari Nabhan.

Ia belum selesai.

Ia masih bertumbuh.

Ia masih belajar mengenal dirinya.

Ia masih mencari pengalaman.

Bukan Tentang Seberapa Cepat Ia Terkenal

Pada akhirnya, perjalanan Nabhan bukan semata kisah seorang anak yang ingin dikenal publik.

Lebih dari itu, ini adalah kisah tentang seorang anak yang sedang belajar menemukan kapasitas dirinya.

Seorang anak yang tumbuh dari penantian sebelas tahun kedua orang tuanya.

Seorang anak yang belajar di sekolah.

Seorang anak yang menulis buku.

Seorang anak yang menghafal Al-Qur’an.

Seorang anak yang berani berbicara.

Seorang anak yang ingin menjaga bumi.

Seorang anak yang berani tampil dalam kompetisi.

Dan seorang anak yang masih harus terus belajar rendah hati.

Prestasi yang telah diraihnya hari ini mungkin kelak hanya menjadi halaman-halaman awal dalam perjalanan panjang hidupnya.

Barangkali suatu hari nanti orang akan mengenal Nabhan bukan lagi sebagai penulis cilik, peserta konferensi, hafiz muda, atau duta anak.

Mungkin mereka akan mengenalnya sebagai seorang diplomat.

Tetapi sebelum hari itu datang, ada satu hal yang jauh lebih penting untuk dijaga:

Nabhan tetap menjadi Nabhan—anak yang mau belajar, berani memulai, senang menginspirasi, dan tidak lupa bahwa setiap pencapaian selalu dimulai dari satu langkah kecil.

Sebab anak hebat tidak lahir hanya dari piala.

Ia tumbuh dari doa, pendampingan, disiplin, keberanian mencoba, adab, ilmu, dan proses panjang untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Dan kisah Nabhan baru saja dimulai.

Burhanudin Fajri

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *