https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Bakesbangpol Sleman, Ajak Purna Paskibraka Jadi Benteng Moral di Ruang Digital

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten Sleman – KompassIndonesianews.com Tantangan mengamalkan nilai – nilai luhur Pancasila di era digital masa kini tak lagi sebatas menghafal kelima sila maupun sejarah kemerdekaan bangsa.

Bagi generasi Z, implementasi ideologi negara tersebut justru terefleksikan secara nyata dari etika bermedia sosial, cara merawat toleransi, menjaga ketikan jari, hingga merajut solidaritas di tengah pusaran arus informasi.

” Kesadaran kritis inilah yang mematik diskusi hangat dalam gelar wicara kengasaan pada ajang Pasar Bela Negara edisi ke -44 bertajuk ” Pancasila Gen Z” yang digelar di Lapangan Pemda Sleman, Jumat 2 Oktober 2026.

Acara pergelaran PBN ini dipandu oleh moderator, Lina Shafira bersama Bobby Tinampi, ini mengupas tuntas peran strategis pemuda sebagai benteng pertahanan moral bangsa.

” Sementara itu, Ketua Tim Bina Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Badan Kesbangpol Sleman, Dwijo Anggono, mengatakan pembentukan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) kini telah berevolusi menyesuaikan dinamika zaman,” jelasnya.

Kata Anggono, Purna Paskibraka tidak hanya di didik untuk sekadar bisa mengibarkan bendera merah putih,mereka juga dibentuk dengan kedisiplinan, rasa nasionalisme, budi pekerti, serta semangat bela negara yang mengikuti tuntunan zaman.

Anggono menekankan, purna tugas Paskibraka secara otomatis akan tergabung dalam Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kabupaten Sleman, dengan mandat utama menularkan keteladanan kebangsaan langsung ke jantung masyarakat,” tutup Anggono.

” Senada dengan hal tersebut, Duta Pancasila Paskibraka Indonesia Kabupaten Sleman, Kintan Dewinta Putri, memaparkan bahwa ujian terbesar Gen Z saat ini bermuara pada keriuhan ruang maya.

Menurutnya, kemudahan akses anonimitas dan maraknya akun palsu sering memicu kebebasan berpendapat yang minim tanggung jawab.

” Kata Kintan, peran kami sebagai DPPI Kabupaten Sleman adalah terus mengingatkan dan memotivasi agar media sosial digunakan dengan baik,” tambahnya lagi.

Ia juga mengingatkan, pengalaman prinsip tepa selira, penghargaan terhadap privasi orang lain, dan penerimaan atas ragam perbedaan adalah kunci utama agar kebebasan berekspresi di ruang digital tidak berujung pada perpecahan,” katanya.

” Lebih dari sekadar mimbar diskusi, semarak Pasar Bela Negara ini sekaligus menjadi ruang praksis bagi masyarakat untuk mengimplementasikan rasa cinta tanah air.

Melalui integrasi antara literasi digital dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan ini, masyarakat diajak menyadari bahwa wujud nyata bela negara tidak melulu bersifat kemiliteran.

Mendukung produk usaha lokal, menjaga kerukunan bersosial media, serta merawat keberagaman adalah bentuk kontribusi paling autentik dalam memperkokoh fondasi berbangsa dan bernegara pada era modern,” pungkasnya.

(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *