Jogyakarta Konpassindonesianews.com Bukanlah lelaki, tanpa cincin batu akik melingkar di jari. Cincin batu tak sekadar membuat lelaki tampak bergaya, tapi juga memberi rasa sempurna. Dan, Drs Bambang Wisnu Handoyo bilang; “Gelaplah dunia tanpa mengenakannya.”
Bambang dan batu akik adalah dua hal yang tak terpisahkan. Di manapun laki-laki ini bertandang, di situlah benda itu melingkar di jemari tangannya kekar. Saat memimpin rapat kerja, bertemu pejabat atau saat menjamu relasi. Baginya, batu akik bukan lagi sekadar pelengkap penampilan, tapi telah menjadi “kekuatan” tambahan. “Bukan karena kekuatan mistis batu seperti halnya dipercaya banyak orang, bukan itu. Tapi dengan mengenakan cincin akik yang bagus apalagi hasil asahan tangan sendiri, wuah… itu rasanya bisa membuat saya menjadi percaya diri
Mantan Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Propinsi DIY ini mungkin agak berlebihan mengatakannya. Tapi, memang itulah kenyataannya. Ia mengaku bisa tampil sangat percaya diri di depan para koleganya, hanya ketika ia mengenakan cincin batu akik yang menjadi koleksi pribadinya
Memang bukan batu berlian bernilai puluhan juta rupiah atau harus selalu jenis batu mulia seperti merah delima dan blue safir, meski juga bukan sebuah batu jimat. Cincin batu ini serasa mampu memberikan sebuah spirit justru karena kecintaan pemakainya yang luar biasa.
Ini adalah mata cincin yang terbuat dari batu-batu etnik yang sudah diakui keindahannya di kalangan penggemar gemstone, sepeti bacan, fire opal, red raflesia, kecubung, calsedon, pancawarna, dan sebagainya. Tak jarang pula terbuat dari batu-batu jenis baru ditemukan di lokasi-lokasi tertentu yang kemudian diasahnya sendiri di rumah. Terkesan magis tapi sekaligus artistik. Apalagi jika kemudian dibuatkan emban (cincin penopang) yang sesuai lalu dikenakan dalam paduan warna busana yang senada.
Karenanya, hampir tak terhitung berapa biji cincin batu yang dimiliki Bambang. Mungkin sekitar seribu biji, sebanyak jumlah jenis dan warna batu akik yang pernah dilihatnya sejak ia mulai menyukainya tahun 1985. Maklum, setiap kali melihat jenis batu akik dengan warna yang menurutnya indah, ia akan memburunya sampai dapat.
“Saking paranoidnya, terkadang saya tak bisa tidur sebelum bisa mendapatkan batu akik yang saya inginkan,” ujar ayah dua anak (Tyas dan Adit), yang di kalangan pejabat Pemda Yogyakarta dikenal dengan sebutan Mr Morning , karena kebiasaannya tiba di kantor pagi-pagi sebelum pegawai yang lain datang.
Mengaku mulai menyukai batu akik sejak masih remaja, karena keindahan warna dan motifnya. Kecintaannya semakin menjadi ketika ia menjadi mahasiswa Fisipol UGM dan mulai sering berburu batu akik di berbagai daerah. Tidak itu saja, ia juga mulai belajar mengasahnya sendiri. Tahun 1985 ia berhasil mengasah sebuah batu akik untuk pertama kali. Kegembiraannya tak kepalang, dan hasil karya perdana itupun kemudian dihadiahkan buat teman sekampusnya bernama Atik, yang beberapa tahun kemudian dinikahinya.
untuk menemukan hal unik yang ada dalam batu mentah, kemudian mengasahnya dengan sempurna dan berhasil mewujudkan apa yang telah dilihatnya itu. “Melihat apa yang belum terlihat, itu sungguh mengasyikkan,” ujar Bambang di sela-sela kesibukannya memberi arahan kepada belasan belasan anak didik yang sedang belajar mengasah batu di workshopnya, kawasan Glagahsari, Umbulharjo.
Sejak saat itulah satu demi satu batu cincin dibelinya dari setiap daerah penghasil akik yang dikunjunginya, seperti Pacitan, Garut, Bengkulu, Pangkalan Bun, dan sebagainya. Ia tak pernah berhitung harga, juga tak ambil pusing dengan jenis batunya. Tv seuatu hari Bambang pernah kaget sendiri ketika melihat almarinya telah batu-batu akik itu.
Ditanya batu apa dari koleksinya yang paling disukainya, ia menyebut semua memiliki keindahan dan daya tariknya sendiri yang khas. Namun demikian ia mengaku saat ini sedang jatuh cinta dengan satu batu yang baru selesai diasahnya dan digadang-gadang suatu hari bakal memenangi sebuah kontes besar. Batu itu berwarna merah, dari jenis calsedon dengan seluet gambar candi Prambanan di tengahnya. “Bener mas, jantung saya sampai bergetar tiap kali melihat batu ini,” ujarnya dengan nada kelakar. (Irkhamhadi)














