JAKARTA ,kompassindonesianews
Com– kompasindonesianews.com- Program makan bergizi gratis dengan anggaran Rp 10.000 per porsi yang digagas pemerintah menjadi sorotan publik. Langkah ini mendapat apresiasi karena dianggap sebagai bentuk nyata perhatian terhadap gizi anak-anak Indonesia. Namun, sejumlah pihak menilai besaran anggaran tersebut masih perlu dievaluasi agar pelaksanaannya benar-benar efektif dan berkelanjutan.
Dokter spesialis gizi klinis, Dr. Widjaja Lukito, menyebutkan bahwa angka Rp 10.000 per porsi relatif cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sehat, asalkan pengelolaan bahan pangan dilakukan dengan efisien. Namun, ia mengingatkan bahwa kebutuhan gizi anak dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti yang terkena infeksi atau mengalami malnutrisi, memerlukan tambahan biaya.
“Anak yang sehat mungkin bisa mencukupi dengan angka tersebut. Namun, untuk anak yang sakit atau membutuhkan pemulihan, tentu ada kebutuhan tambahan untuk mendukung proses penyembuhannya,” jelas Dr. Widjaja kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (14/12).
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya pengawasan ketat dalam pelaksanaan program ini agar niat baik pemerintah tidak diselewengkan. “Pemerintah perlu memastikan bahwa anggaran yang ada digunakan secara maksimal, tanpa kebocoran yang dapat merusak tujuan utama program ini,” tambahnya.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menjelaskan bahwa anggaran Rp 10.000 per porsi adalah perhitungan awal yang masih bisa disesuaikan seiring berjalannya program. Pemerintah, katanya, tengah melakukan simulasi untuk memastikan efektivitasnya di berbagai wilayah.
“Ini adalah angka minimal. Simulasi yang kami lakukan bertujuan untuk menemukan formulasi terbaik agar program ini berjalan sesuai kebutuhan gizi anak-anak,” ujar Muhaimin di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (13/12).
Namun, kritik muncul dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang mempertanyakan apakah angka tersebut mampu memenuhi kebutuhan makan bergizi lengkap di tengah fluktuasi harga bahan pokok.
Dukungan dari Kepulauan Riau: Fokus pada Transparansi
Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Nursalim Tinggi Turatea, turut mendukung program makan bergizi gratis ini. Menurutnya, inisiatif tersebut adalah langkah strategis untuk menciptakan generasi muda yang sehat dan cerdas.
“Kami mendukung penuh program ini. Namun, pengawasan harus diperketat agar tidak ada penyimpangan yang berpotensi merusak kepercayaan masyarakat,” ujar Nursalim.
Ia juga menyoroti tantangan distribusi di wilayah kepulauan seperti Kepulauan Riau, yang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah pusat dan daerah. “Distribusi bahan pangan menjadi salah satu kendala utama di daerah terpencil. Pemerintah harus memastikan logistik berjalan lancar agar manfaat program ini benar-benar dirasakan,” tambahnya.
Nursalim menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan media sangat penting untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program ini. “Peran media juga penting sebagai pengawas independen agar masyarakat mendapat informasi yang jelas dan akurat,” katanya.
Tantangan dan Harapan
Meski menuai kritik, program ini dianggap sebagai langkah awal yang baik untuk menekan angka malnutrisi di Indonesia. Pemerintah diharapkan dapat terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas pelaksanaannya, termasuk menyesuaikan anggaran jika diperlukan.
“Kita harus melihat ini sebagai investasi jangka panjang. Anak-anak yang mendapatkan gizi seimbang akan tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan produktif,” kata Dr. Widjaja.
Program makan bergizi Rp 10.000 per porsi adalah wujud komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup generasi muda. Namun, tantangan dalam pengawasan anggaran, distribusi bahan pangan, dan kecukupan gizi tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan media, program ini berpotensi menjadi solusi nyata untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia. Mari bersama-sama mengawal niat baik ini agar menjadi tonggak perubahan yang berdampak nyata bagi masa depan anak-anak bangsa.(Nursalim Tinggi Turatea).














