https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

IDI dan PERSI DIY, Kecewa Atas Keputusan Menteri Kesehatan RI

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

 

Kabupaten Sleman – Kompassindonesianews.com Sejumlah dokter di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengelar doa bersama bertempat di Joglo Karang Kadempel Kabupaten Sleman. Doa ini menjadi wujud solidaritas dan dukungan untuk sejumlah dokter, yang terdampak kebijakan Menteri Kesehatan (Menkes) Republil Indonesia.

Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) DIY, Darwito yang juga sekaligus Direktur Utama Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) mengatakan pemindahan atau mutasi rekan sejawatnya dianggap mendadak tanpa adanya alasan yang jelas,” kata Darwito Rabu 7 Mei 2025.

Tahu sendirikan di medsos, bahwa ada sesuatu pemindahan tugasan teman – teman. Sebenarnya itu, adalah puncaknya ,” tutur Darwito saat beri keterangan kepada awak media.

Lanjut Darwito, mutasi mendadak ini baru dilakukan pertama kali selama ini.Ia nenyebut di Yogyakarta juga terdapat mutasi dokter mendadak, ada yang dari DIY di pindah ke Semarang, yang di Semarang di pindah di sini ada dua orang kelihatannya yang satu adalah dokter anak yang satu dokter obgyn (obstetri ginekologi) dengan tidak ada alasan yang jelas,” ujarnya.

Darwito, menilai Menteri Kesehatan menggunakan kekuasaannya untuk memindahkan dokter, baginya itu memang haknya Menteri Kesehatan. Jadi kita tidak bisa apa – apa, kita hanya bisa berdoa karena semuanya tergantung dari penguasa,” ucapnya lagi.

Darwito pun merasa prihatin dengan kondisi saat ini, menurutnya dokter sudah bekerja di bawah tekanan tapi saat ini di bayang – bayangi pemindahan mendadak itu yang akan bikin stres kan kasihan.

Kita mesti harus sadari, bahwa dokter itu bekerja di suasana rumah sakit sudah seperti tertekan nah sekarang masih diancam akan suatu kepindahan yang mendadak itu kan suatu hal yang tidak bagus.

Ia ingin agar para dokter tetap bisa bekerja dengan tenang tanpa khawatir tiba – tiba dimutasi, makanya kami berdoa pada Allah SWT supaya doa kita dikabulkan.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa dokter – dokter itu dikasih ketenangan, dokter – dokter itu dikasih sesuatu bagaimana suasana kerjanya yang nyaman, dia bisa berekspresi, dia mendidik, dia kemudian bisa merawat masyarakat, dan memberikan pelayanan.

Sebelumnya, mutasi sejumlah dokter di berbagai rumah sakit oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menuai polemik sejumlah dokter secara mendadak di berhentikan dan dimutasi dari rumah sakit vertikal.

Mutasi seharusnya dilakukan dengan dialog terlebih dulu, sebagai bentuk menghargai dan menghormati profesi dokter. Mutasi tanpa pemberitahuan kami angap, bertentangan dengan prinsip – prinsip keterbukaan dan keadilan.

Misalnya, satu dokter dari Rumah Sakit Adam Malik Medan Sumatra Utara, juga di berhentikan secara mendadak.” Mutasi dan pemberhentian mendadak ini mengagetkan banyak pihak, terutama pihak Ikatan Dokter Indonesia IDI menilai keputusan ini sebagai tindakan kontraproduktif.

Keputusan Kemenkes ini dianggap tidak sesuai dengan prosedur, pelayanan rumah sakit vertikal juga berpotensi mengalami gangguan akibat keputusan itu .(JN)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *