kompassindonesia.com, Jakarta — Ruang sidang lantai 2 Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta, Kamis 17 Juli 2025, menjadi saksi perjalanan ilmiah tiga mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia yang akhirnya menuntaskan Ujian Tertutup Disertasi. Mereka adalah Ana Widyastuti, Trie Utari Dewi, dan Nursalim, tiga sosok pejuang akademik yang membuktikan bahwa meraih gelar doktor bukan sekadar tentang gelar, melainkan tentang dedikasi, tanggung jawab keilmuan, dan ketekunan dalam berkarya.
Agenda ujian yang dimulai sejak pagi dibuka oleh Ana Widyastuti. Melalui paparannya, Ana menegaskan pentingnya inovasi bahan ajar membaca berbasis video animasi untuk meningkatkan literasi anak usia dini. Karyanya berjudul “Pengembangan Bahan Ajar Membaca Berbasis Video Animasi untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Sekolah Dasar (SD) Kelas Rendah.” Dengan penuh antusias, Ana memamerkan hasil karyanya berupa video animasi edukatif yang menyasar pembelajaran membaca di sekolah dasar. Karyanya tidak sekadar berhenti di meja akademik, melainkan telah ia uji di lapangan bersama guru dan siswa SD sebagai objek penelitian.

Setelah itu, giliran Trie Utari Dewi mempresentasikan disertasinya bertajuk “Resepsi Pembaca pada Novel Digital Sebagai Konstruksi Strategi Menulis Novel Bagi Penulis Pemula.” Trie mengupas bagaimana pembaca era digital memberikan pengaruh besar dalam membentuk strategi menulis penulis pemula di tengah arus teknologi yang makin dinamis. Penelitiannya membuka mata banyak orang tentang bagaimana kecenderungan pembaca digital masa kini dapat menjadi acuan penting dalam membangun kualitas karya sastra modern.
Puncak agenda siang hari ditutup oleh Nursalim, mahasiswa asal Kota Batam, Kepulauan Riau, yang dikenal gigih, sederhana, dan tak kenal lelah meniti jalan panjang akademik. Dengan penuh keyakinan, Nursalim memaparkan penelitian disertasinya yang berjudul “Pemertahanan Bahasa Melayu: Studi Kasus di Masyarakat Kampung Tua Bagan Kota Batam.” Ia memotret realitas masyarakat pesisir yang sedang berjuang mempertahankan bahasa ibunya di tengah derasnya arus modernisasi kota industri. Penelitian ini lahir dari keprihatinan mendalam Nursalim terhadap ancaman punahnya identitas lokal yang selama ini menjadi roh kehidupan masyarakat Melayu di Batam.

Menurut Nursalim, penelitian ini lebih dari sekadar memenuhi syarat akademik. “Ini adalah tanggung jawab moral saya sebagai anak Melayu, sebagai anak bangsa, menjaga warisan bahasa yang mulai terpinggirkan. Di UHAMKA inilah saya berjuang, menulis, meneliti, hingga akhirnya saya menuntaskan tugas akademik ini sebagai puncak perjuangan saya di dunia pendidikan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Nursalim juga menggambarkan perjuangannya selama menempuh pendidikan doktor bukanlah perkara mudah. “Banyak tantangan, banyak rasa ingin menyerah, tapi saya yakin pendidikan adalah jalan menuju kemuliaan. Setiap tetes peluh ini akan saya kembalikan untuk masyarakat, untuk budaya, untuk anak cucu saya nanti,” tambahnya.

Ketiga mahasiswa ini diuji oleh deretan pakar pendidikan bahasa ternama yang duduk sebagai penguji, di antaranya Prof. Dr. Ade Hikmat, M.Pd., Prof. Dr. Nani Solihati, M.Pd., Dr. Wini Tarmini, M.Hum., Dr. Imam Syafi’i, M.Pd., serta Prof. Dr. Asep Muhyidin, M.Pd. Ujian ini dipimpin langsung oleh Direktur Sekolah Pascasarjana UHAMKA, Prof. Dr. Ade Hikmat, M.Pd., yang juga dikenal sebagai akademisi teladan dalam bidang bahasa dan pendidikan.
Sidang tertutup ini menjadi simbol puncak perjuangan panjang mereka menempuh pendidikan tertinggi. Bukan sekadar gelar doktor yang mereka raih, melainkan harga diri keilmuan, dedikasi, dan semangat pengabdian. Ketiganya membuktikan bahwa pendidikan adalah jalan menuju perubahan, dan UHAMKA adalah rumah yang mempersiapkan mereka untuk sampai ke sana. (Nursalim Turatea
Mau pesen jahe merah klik link shopee dibawah ini👇👇👇
https://s.shopee.co.id/7ASZOApmEM?share_channel_code=1














