Kompassindonesianews.com
Jakarta, 10 November 2025
Sejak proklamasi 17 Agustus 1945 hingga masa Presiden Prabowo Subianto, gaya komunikasi kepemimpinan di Indonesia terus berevolusi. Dari orasi ideologis Bung Karno, kesunyian penuh kendali Soeharto, hingga gaya digital populis Joko Widodo dan ketegasan nasionalistik Prabowo, setiap era mencerminkan perubahan zaman dan cara pemimpin memahami rakyatnya.
Menurut Prof. Dr. Cipta Lesmana, pengamat komunikasi politik senior, setiap presiden membawa bahasa kekuasaannya sendiri — dari retorika ideologis ke diplomasi digital. “Cara mereka berkomunikasi mencerminkan wajah masyarakat di zamannya,” ujarnya.
Prof. Dr. Deddy Mulyana, pakar komunikasi dari Universitas Padjadjaran, menilai perubahan itu sebagai “pergeseran komunikasi dari karisma menuju empati, dari simbol menuju kinerja.”
Sementara Prof. Dr. Ninuk Purnomo dari Universitas Airlangga menegaskan, “Kepemimpinan selalu memadukan unsur maskulin dan feminin — ketegasan dan kepekaan yang berjalan seiring.”
Soekarno (1945–1967): Retoris dan Karismatik
Ir. Soekarno adalah pemimpin dengan gaya orasi yang membakar semangat rakyat. Komunikasinya sarat ideologi dan simbol perjuangan nasional.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya,” ujarnya dalam salah satu pidato bersejarah.
Menurut Prof. Cipta Lesmana, Bung Karno adalah arsitek komunikasi nasional yang membangun solidaritas melalui kata-kata dan emosi.
Soeharto (1967–1998): Birokratik dan Sunyi yang Berwibawa
Soeharto memimpin dengan gaya diam dan penuh kendali. Ia berbicara lewat kebijakan, bukan retorika.
Menurut Prof. Deddy Mulyana, gaya Soeharto adalah komunikasi kekuasaan yang menekankan stabilitas dan keteraturan. Pesannya jelas: pembangunan tidak bisa berjalan tanpa ketenangan politik.
B.J. Habibie (1998–1999): Rasional dan Terbuka
Habibie menghadirkan komunikasi intelektual dan rasional di masa transisi demokrasi. Ia menekankan transparansi dan efisiensi.
Prof. Deddy Mulyana menyebutnya “pemimpin dengan gaya komunikasi horizontal — terbuka dan dialogis.”
Prof. Ninuk Purnomo menambahkan, “Habibie menggabungkan kecerdasan logis dan empati manusiawi.”
Abdurrahman Wahid (1999–2001): Humanis dan Dialogis
Gus Dur menjadikan humor sebagai senjata komunikasi politik. Ia memecah ketegangan dengan tawa dan kebijaksanaan.
“Tidak penting apa agamamu, kalau kamu bisa berbuat baik,” adalah pesan universalnya.
Menurut Prof. Cipta Lesmana, Gus Dur menunjukkan bahwa senyum bisa lebih kuat dari seribu pidato.
Megawati Soekarnoputri (2001–2004): Diam yang Bermakna
Sebagai presiden perempuan pertama, Megawati tampil dengan ketenangan dan simbolik. Ia berbicara lewat sikap, bukan pernyataan panjang.
Prof. Ninuk Purnomo menilai Megawati sebagai simbol kekuatan feminin yang tegas tanpa perlu meninggikan suara.
“Saya tidak banyak bicara, tapi saya bekerja,” ucapnya dalam satu kesempatan.
Susilo Bambang Yudhoyono (2004–2014): Diplomatis dan Terukur
SBY dikenal dengan gaya komunikasi formal, hati-hati, dan berstruktur. Ia mengedepankan keseimbangan antara logika dan empati.
Prof. Deddy Mulyana menilai SBY memiliki gaya “komunikasi strategis” untuk menjaga stabilitas politik dan citra internasional.
Joko Widodo (2014–2024): Populis dan Digital
Jokowi membawa komunikasi politik ke era media sosial dan visual. Melalui blusukan, ia menembus jarak antara rakyat dan kekuasaan.
Menurut Prof. Deddy Mulyana, Jokowi mempraktikkan komunikasi yang mengutamakan kehadiran dan kedekatan.
Prof. Ninuk Purnomo menilai, Jokowi menunjukkan perpaduan empati feminin dan ketegasan maskulin dalam gaya kepemimpinannya.
Prabowo Subianto (2024–sekarang): Tegas, Nasionalistik, dan Emosional
Sebagai presiden ke-8, Prabowo Subianto tampil dengan gaya komando dan retorika kebangsaan.
Ia berbicara dengan nada tegas, namun sering mengekspresikan emosi saat membahas rakyat dan kedaulatan bangsa.
Prof. Cipta Lesmana menyebut Prabowo “menghidupkan kembali semangat komunikasi komando yang disertai rasa kemanusiaan.”
Prof. Ninuk Purnomo menilai Prabowo menghadirkan “maskulinitas nasionalistik yang diimbangi empati sosial.”
“Bangsa ini besar karena rakyatnya berani berdiri di atas kakinya sendiri,” tegas Prabowo dalam pidato kenegaraan.
Perbandingan Gaya Komunikasi Kepemimpinan
Soekarno — Retoris-karismatik — Ideologis dan menggugah semangat rakyat
Soeharto — Birokratik-formal — Stabilitas dan ketertiban
B.J. Habibie — Intelektual-rasional — Reformasi dan keterbukaan
Abdurrahman Wahid — Humanis-humoris — Kemanusiaan dan toleransi
Megawati Soekarnoputri — Simbolik-tenang — Kesederhanaan dan keteguhan
Susilo Bambang Yudhoyono — Diplomatis-strategis — Harmoni dan citra negara
Joko Widodo — Populis-visual — Kedekatan rakyat dan citra digital
Prabowo Subianto — Tegas-nasionalis — Kedaulatan dan kebanggaan bangsa
Perjalanan komunikasi kepemimpinan Indonesia menunjukkan pergeseran dari bahasa ideologi menuju bahasa empati.
Namun esensinya tetap: pemimpin harus mampu berbicara dalam bahasa rakyat, bukan sekadar bahasa kekuasaan.
“Kepemimpinan tanpa komunikasi adalah kekuasaan tanpa arah,” tegas Prof. Cipta Lesmana.
“Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mendengar, bukan hanya berbicara,” tambah Prof. Deddy Mulyana.
Dan menurut Prof. Ninuk Purnomo,
“Pemimpin ideal adalah yang menyeimbangkan logika, hati, dan kepekaan — berbicara dengan kekuasaan, tapi mendengar dengan kemanusiaan.”
Disusun oleh:
Tim Redaksi Komunikasi Politik & Sosial
Dengan kontribusi analisis dari:
Prof. Dr. Cipta Lesmana (Komunikasi Politik Nasional)
Prof. Dr. Deddy Mulyana (Komunikasi Budaya, Unpad)
Prof. Dr. Ninuk Purnomo (Komunikasi Gender, Unair)
Penulis: Komarudin S.Ikom
Panglima Laskar Santri Sum-sel
DPW Partai Masyumi Sum-sel
Ketua Pemuda dan Milenial















