https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Pesan Kehidupan dari Dr. Nursalim, M.Pd, Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

kompasindonesianews.comBatamDalam kehidupan ini, waktu adalah panggung yang terus berputar, menghadirkan aktor-aktornya sendiri pada setiap babak kehidupan. Di satu masa, seseorang tampil di garis depan, memimpin, memberi arah, dan menjadi inspirasi. Namun di masa lain, ia bergeser menjadi penonton yang bijak, memberi ruang bagi tokoh baru untuk melanjutkan peran. Inilah pesan mendalam yang disampaikan oleh Dr. Nursalim, M.Pd, Ketua APEBSKID (Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain) Provinsi Kepulauan Riau, dalam refleksi kebangsaannya tentang perjalanan hidup, kepemimpinan, dan makna regenerasi.

Menurut Dr. Nursalim, hakikat kehidupan bukan terletak pada lamanya seseorang memegang peran, tetapi pada bagaimana ia memaknainya. “Setiap orang diberi waktu untuk berperan, dan setiap masa memiliki orang yang ditakdirkan untuk mengisi ruang itu. Tidak ada yang abadi selain pergiliran itu sendiri,” ungkapnya.

Ia menambahkan, waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Seseorang bisa berada di puncak kesuksesan hari ini, namun esok mungkin ia harus menepi dan memberi tempat kepada generasi baru. Hal itu bukan tanda kelemahan, tetapi bagian dari siklus kehidupan yang adil. “Mereka yang memahami hakikat waktu tidak akan sombong saat berkuasa, dan tidak pula kecewa saat digantikan,” ujarnya lembut.

Bagi Dr. Nursalim, pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menyiapkan penerusnya. Ia menegaskan bahwa kebesaran seseorang justru tampak dari kesediaannya berbagi ilmu, memberi kesempatan, dan menumbuhkan generasi berikutnya. “Pemimpin yang bijak tidak takut kehilangan panggung, karena ia tahu panggung itu bukan miliknya melainkan milik zaman,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara generasi tua dan muda. Generasi tua membawa pengalaman dan kebijaksanaan; generasi muda membawa energi dan inovasi. “Jika dua kekuatan ini bersatu dalam semangat saling menghormati, maka akan lahir kemajuan yang berkelanjutan. Tetapi jika yang tua terlalu ingin bertahan dan yang muda terlalu ingin berkuasa, maka sejarah berhenti di tengah jalan,” tuturnya.

Sebagai Ketua APEBSKID, Dr. Nursalim menilai dunia pendidikan, seni, dan kebudayaan harus menjadi teladan dalam proses regenerasi. Ilmu, karya, dan nilai tidak boleh berhenti di satu tangan. Ia mengajak para pengajar, seniman, dan penulis untuk membuka ruang bagi yang muda — bukan sekadar mewariskan pengetahuan, tapi juga menanamkan etika, karakter, dan semangat kebersamaan.

“Ilmu tidak akan abadi jika tidak diwariskan. Budaya tidak akan hidup jika tidak diteruskan. Karena itu, generasi yang datang bukanlah pesaing, melainkan penerus dari perjuangan yang telah kita mulai,” tegasnya.

Dr. Nursalim menutup refleksinya dengan kalimat yang sarat makna, “Hidup adalah giliran. Hari ini mungkin kita di atas panggung, besok kita di balik layar. Namun selama yang kita tinggalkan adalah kebaikan, maka waktu tidak akan pernah menghapus nama kita.”

Pesan ini mengandung hikmah universal: bahwa setiap manusia memiliki waktu untuk bersinar dan waktu untuk memberi cahaya kepada orang lain. Ketika keduanya dijalani dengan keikhlasan, maka hidup tidak lagi menjadi perlombaan, melainkan perjalanan menuju kebermaknaan.

“Setiap waktu ada orangnya, dan setiap orang ada waktunya,” tutur Dr. Nursalim menegaskan. “Yang terpenting bukan berapa lama kita berada di depan, tetapi seberapa besar cahaya yang kita tinggalkan untuk generasi sesudah kita.”

Dr.Nursalim

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *