https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Dinamika SDM Jeneponto dan Perpindahan Talenta Menuju Kota Besar

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

OPINI

Oleh Dr. Nursalim, M.Pd.

Pemerhati & Pengamat Pendidikan dan Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau

Pembicaraan mengenai kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Jeneponto selalu menjadi perhatian banyak kalangan. Dalam berbagai laporan pembangunan, daerah ini sering ditempatkan sebagai wilayah yang masih tertinggal dalam pengembangan kualitas manusianya. Namun pada kenyataannya, banyak putra-putri Jeneponto justru menunjukkan prestasi tinggi dan karier yang sangat baik ketika mereka merantau dan tinggal di Makassar dan daerah lainnya di nusantara. Situasi ini menimbulkan pertanyaan: mengapa daerah yang melahirkan banyak individu berprestasi justru digolongkan sebagai daerah dengan SDM rendah?

Salah satu penjelasan utama terletak pada pergerakan penduduk. Banyak anak muda Jeneponto yang memiliki kemampuan akademik dan semangat tinggi memilih melanjutkan pendidikan ke Makassar. Setelah memperoleh pekerjaan yang lebih layak dan stabil, mereka akhirnya memilih tinggal di kota besar tersebut. Fenomena seperti ini sudah lama dijelaskan dalam teori urbanisasi, di mana kota menjadi pusat tarikan bagi tenaga terdidik (Todaro, 2015:74). Akibatnya, potensi terbaik dari Jeneponto berkembang dan berbuah di luar daerah asal.

Secara budaya, masyarakat pun turut membentuk pola tersebut. Nasihat orang tua dari masa ke masa menggambarkan bahwa kesempatan terbaik ada di kota. Dalam kajian kependudukan, situasi ini dikenal sebagai pola dorong–tarik atau push–pull factor (Ravenstein, 2019:112). Anak-anak berbakat cenderung pergi, sementara yang tinggal tidak mendapatkan aliran pengetahuan dari generasi yang telah berhasil.

Aspek pendidikan juga menjadi faktor kunci. Sekolah di Jeneponto memang tersedia, tetapi kualitasnya belum seragam. Ketimpangan mutu pendidikan antara kota dan desa merupakan fenomena global yang masih terjadi hingga kini (UNESCO, 2021:36). Dengan keterbatasan fasilitas belajar, minimnya pelatihan guru, dan kurang meratanya akses teknologi, banyak siswa berprestasi memilih mencari sekolah dan kampus yang lebih baik di Makassar. Pengembangan kompetensi kemudian terjadi di kota, bukan di kampung halaman.

Selain itu, ketersediaan lapangan kerja berperan besar. Jeneponto masih memiliki keterbatasan dalam menyediakan pekerjaan yang sesuai untuk tenaga terdidik. Berbeda dengan Makassar yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi regional dengan banyak peluang kerja di sektor profesional. Dalam literatur pembangunan kota, fenomena ini disebut urban labor market concentration (Henderson, 2020:55). Wajar jika anak muda Jeneponto membangun masa depan mereka di ibu kota provinsi.

Faktor sosial ekonomi juga memberi pengaruh mendalam. Banyak wilayah di Jeneponto masih menghadapi keterbatasan ekonomi, rendahnya budaya literasi, serta kurangnya ruang belajar seperti perpustakaan dan pusat kegiatan kreatif. Penelitian menyebutkan bahwa lingkungan sosial mempengaruhi percepatan pembangunan kapasitas SDM (Hanushek & Woessmann, 2020:14). Mereka yang tumbuh dalam situasi serba terbatas harus berjuang lebih keras dibandingkan dengan mereka yang tumbuh di kota besar.

Di samping itu, belum kuatnya program untuk menarik kembali SDM unggul membuat arus keluar terus berlangsung. Daerah lain di dunia biasanya menggunakan strategi seperti beasiswa wajib kembali mengabdi, program inkubasi bisnis, atau insentif bagi tenaga profesional lokal. Tanpa strategi tersebut, perpindahan keluar akan tetap dominan dan arus balik menjadi sangat kecil. Pola ini dikenal sebagai reverse migration deficit (King, 2022:8).

Jika semua faktor tersebut disatukan, terlihat jelas bahwa Jeneponto sebenarnya tidak kekurangan talenta. Yang kurang adalah kesempatan dan ruang bagi talenta itu untuk tumbuh dan berkontribusi secara penuh di daerah asalnya. Potensi masyarakat Jeneponto besar, tetapi peluang untuk berkembang lebih banyak tersedia di Makassar. Karena itulah, banyak prestasi masyarakat Jeneponto justru tercatat di kota besar.

Kesimpulannya, persoalan ini bukan tentang kemampuan orang Jeneponto, melainkan tentang lingkungan yang membentuk kesempatan mereka. Jeneponto memiliki modal manusia yang kuat, tetapi memerlukan dukungan yang lebih besar agar talenta tersebut tidak pergi dan menetap di tempat lain. Perbaikan pendidikan, penyediaan lapangan kerja, penguatan budaya literasi, serta program yang mendorong talenta kembali ke kampung halaman adalah langkah penting untuk masa depan daerah.

Masa depan sebuah wilayah bukan hanya ditentukan oleh kekayaan alamnya, tetapi oleh kemampuan manusianya dan keberanian mereka untuk tinggal serta membangunnya.

Referensi Jurnal:

1. Ali, M. (2000). Human Capital Mobility in Developing Regions. Oxford Development Review, 18(1), 1–15.Hanushek, E., & Woessmann, L. (2020). The Economics of Education and Human Capital Inequality. Journal of Economic Literature, 58(3), 12–45.
2. Henderson, V. (2020). Urbanization, Economic Growth, and Regional Disparity. Journal of Urban Economics, 117, 50–70.
3. King, R. (2022). Return Migration and Regional Development: A Global Review. International Migration Review, 56(1), 1–30.
4. Ravenstein, E. (2019). Modern Perspectives on Rural–Urban Migration Patterns. Population Studies, 73(2), 110–130.

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *