Kompassindonesianews.com
Jakarta, 26 November 2025
Wacana nuklir kembali menghangat dalam diskursus energi dan geopolitik Indonesia. Ungkapan “sudah kehendak Tuhan Indonesia mempunyai nuklir” yang disuarakan sejumlah tokoh publik menyalakan kembali perdebatan lama: apakah Indonesia sedang memasuki fase tak terhindarkan untuk menguasai teknologi nuklir tingkat tinggi?
Sejak era Ir. Soekarno, kata atom menjadi simbol martabat dan kedaulatan bangsa. Kini, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, perdebatan itu berubah menjadi agenda eksekusi: dengan tenggat waktu, kecukupan anggaran, dan peta jalan yang mengarah ke operasi PLTN pertama pada 2030.
Pemerintah menegaskan jalurnya tetap damai. Namun dinamika geopolitik membuat negara besar menyoroti setiap langkah Indonesia.
Nuklir Sipil dan Militer: Dua Jalur, Dua Arti
Nuklir Sipil (Damai)
Digunakan untuk energi, kedokteran, dan riset.
Bahan baku sipil:
Uranium-235 pengayaan rendah (LEU <20%)
Uranium alam
Thorium
Moderator: air berat, air ringan, grafit
Zirkonium sebagai cladding
Ilmuwan Indonesia:
Prof. GA Siwabessy — Bapak Nuklir Indonesia
Ir. Soekarno — penggagas visi “atom untuk pembangunan”
Generasi BRIN & BATAN: Prof. Zainal Arifin, Dr. Djarot Wisnubroto, Dr. Abdul Waris, dan ilmuwan muda riset reaktor & isotop.
Ilmuwan dunia:
Fermi, Bhabha, dan Bohr — fondasi fisika atom modern.
Nuklir Militer (Senjata)
Indonesia menolak jalur ini sesuai komitmen NPT.
Bahan baku militer (umum, non-teknis):
HEU >90%
Plutonium-239
Deuterium–Tritium
Ilmuwan dunia terkait sejarah senjata:
Oppenheimer, Teller, Sakharov.
Kekhawatiran Negara Superpower dan Kawasan
Amerika Serikat
Mencermati potensi Indonesia membangun rantai pasokan mandiri. Washington khawatir munculnya pusat energi baru di Asia Tenggara di luar orbit pengaruhnya.
Eropa
Fokus pada keselamatan, pengawasan, dan standar internasional. Kekhawatiran meningkat jelang target operasi PLTN Indonesia sebelum 2030.
Israel
Sensitif terhadap negara Muslim besar yang memperkuat kapabilitas nuklir meski jalurnya sipil.
Australia
Paling vokal. Canberra melihat program nuklir sipil Indonesia sebagai perubahan lanskap keamanan, terlebih setelah Australia masuk aliansi AUKUS.
Negara yang Mendukung Indonesia
Iran
Menilai negara sebesar Indonesia wajar menguasai nuklir sipil.
Pakistan
Terbuka dalam riset isotop, radiasi, dan SMR non-militer.
Korea Utara
Dukungan simbolis, merujuk hubungan historis sejak Soekarno.
Rusia
Memberi sinyal positif. Moskow siap membuka kolaborasi teknologi reaktor cepat, desain bahan bakar, serta pelatihan operator. Indonesia dipandang mitra strategis di Asia Pasifik.
Tiongkok (RRC)
Menawarkan kerja sama SMR dan rantai pasokan bahan bakar sipil. Beijing melihat Indonesia sebagai kekuatan energi baru Indo-Pasifik dan mitra potensial dalam reaktor generasi III+ dan proyek thorium.
Eksekusi Program di Era Prabowo: 2030 sebagai Tenggat Baru
1. PLTN Kalimantan 2030
Target operasional PLTN modular pertama pada akhir dekade ini.
Menggunakan:
Reaktor modular kecil (SMR)
Pendinginan pasif
Standar keamanan generasi IV
Kalimantan dipilih karena stabilitas geologi dan kebutuhan energi kawasan industri hilirisasi.
2. Kemandirian Bahan Baku
BRIN mempercepat eksplorasi uranium dan thorium di Kalimantan Barat, Bangka Belitung, dan Sulawesi. Fokus: pasokan untuk reaktor sipil, bukan senjata.
3. Aliansi Teknologi Nonblok
Indonesia memperluas jaringan bekerja sama dengan:
India, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Kanada, Rusia, dan Tiongkok.
4. Regenerasi Ilmuwan Muda
BRIN memperluas jalur doktoral di India, Korea Selatan, Jepang. Generasi baru peneliti isotop, fisika material, dan rekayasa reaktor diproyeksikan menjadi tulang punggung program 2030.
Indonesia di Titik Peralihan Sejarah
Keyakinan sebagian masyarakat bahwa “sudah kehendak Tuhan Indonesia mempunyai nuklir” dibaca sebagai mandat moral untuk mencapai kemandirian energi.
Pada tingkat internasional, eksekusi program nuklir era Prabowo membuat Indonesia kian dipandang sebagai calon kekuatan energi baru Asia Tenggara—cukup untuk membuat Washington, Brussels, Canberra, dan Tel Aviv menajamkan radar pemantauannya.
Namun satu posisi tidak berubah:
nuklir Indonesia tetap damai, tetapi kemandirian tidak bisa ditunda.
Penulis: Komarudin
Seminar Nasional Mestakung
( Semesta Alam Mendukung )
Tema: Olimpiade Fisika Nuklir Internasional
Bersama Prof. Yohanes Surya P. hD
” Kiat Sukses Mencetak Pelajar Indonesia Berprestasi Dunia”
The Aryaduta Hotel Palembang, 8 Agustus 2009















