KABUPATEN SLEMAN – KompassIndonesianews.com Upaya untuk menjadikan Monumen Jogja Kembali (Monjali) lebih hidup dan interaktif, Monumen Jogja Kembali menggelar Aktivasi Ruang Publik Museum Monumen Jogja Kembali Refleksi 77 Agresi Militer Belanda II.
Kepala Moseum Jogja Kembali (Monjali) Yudi Pranowo mengatakan kegiatan Aktivisi Ruang Publik Museum Monumen Jogja Kembali dalam rangka Refleksi 77 tahun Agresi Militer Belanda yang kedua, diisi dengan berbagai kegiatan, pameran, bentras ketoprak, diskusi publik, kemudian ada pertunjukkan musik untuk masyarakat umum,” ujarnya Rabu 17 Desember 2025.

Kami mengaturkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, atas kegiatan Aktivasi Ruang Publik Museum Monumen Jogja Kembali. Sebagai penerima manfaat dari kegiatan Aktivasi Ruang Publik yang di inisiasi oleh Kementerian Kebudayaan, kami berharap semoga kegiatan ini dapat memberikan dorongan dan menginisiasi kami untuk memperdayakan museum sebagai area publik yang bisa di manfaatkan oleh berbagai komunitas dan masyarakat,” jelasnya.
” Sementara itu, pelukis patung nasional, Yusman menambahkan ini adalah pemeran rutin dari Monumen Jogja Kembali. Kebetulan saya sendiri ikut pameran di sini, dan pada hari ini juga Menteri Kebudayaan Fadli Zon, membuka pameran ini.
Lanjutnya, kami pameran di sini bukan hanya pameran patung saja, di sini juga ada ratusan lukisan karya seniman Yogyakarta,” jelas Yusman. Dan saya sangat senang sekali karena, Menteri Kebudayaan RI bisa membuka pameran ini. Kebetulan Menteri kita ini juga masih muda, semangatnya makin tinggi. Mudah – mudahan sejarah kita ini tetap berjalan, karena beberapa tahun yang lalu kita berpameran di Jogja Gallery.
Yusman, juga menceritakan kisahnya dari muda saya itu berkarya tentang pahlawan maupun tentang karya seni. Museum itu sangat penting untuk perkembangan pendidikan kedepannya, kita tau Yogyakarta ini adalah barometernya pelukis bahkan Yogyakarta adalah ibu kotanya seniman seluruh Indonesia. Jadi Yogyakarta harus kita kembangkan dan harus punya generasi penerus, karena nama Yogyakarta ini sebelum saya datang ke Yogyakarta itu sudah harum,” tambahnya.
Pelukis asal Sumatra Barat ini, juga menerangkan saya selalu mengingatkan jangan sampai kita nanti punya nama saja tapi karya tidak ada.
Di Yogyakarta itu, semua aliran seni ada dari Ekspresif/Ekspresionisme, Abstrak, Impresionisme, Realis, semua ada di Yogyakarta. Harapannya kami, mudah – mudahan generasi penerus tetap meneruskan.
Lebih lanjut, ia juga mengatakan tantangan saya membuat karya dari pahlawan itu satu kebanggan bagi saya, tapi kalau fotonya tidak lengkap memang agak susah tapi bisa agak lama. Karena syarat mematung itu adalah 3 demensi, ada kelihatan dari depan, dari samping, dari kiri, kanan, dan belakang. Kadang – kadang menemukan cuma ketemu di depan saja, contoh seperti saya membuat patung Jenderal besar A.H.Nasution, saya harus mencari dulu karena dia beliau orang batak ciri khas orang batak itu harus kita kuasai dari dagunya, kepalanya, karena tidak mungkin sama orang batak, orang Jawa dan orang IrianIrian, itu harus kita ketahui hal – hal seperti itu,” tutup Yusman.
” Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menambahkan Museum Monumen Jogja Kembali ini merupakan tempat yang sangat penting dan strategis, sebuah peristiwa besar dalam sejarah bangsa,”katanya. Museum ini perlu terus di hidupkan melalui Aktivasi Ruang Publik, agar generasi muda dapat memahami bahwa perjuangan kemerdekaan tidak boleh di anggap sebagai sesuatu yang taken for granted,” ujarnya saat membuka acara pameran tersebut.
Fadli Zon juga mengatakan Museum – Museum sejarah baik di Yogyakarta, maupun di seluruh Indonesia termasuk Monumen Jogja Kembali ini harus menjadi ruang edukasi, ruang belajar, dan ruang Kebudayaan yang hidup. Ruang yang tidak hanya menyimpan memori masa lalu, tetapi juga menjadi tempat bertemunya gagasan, kreativitas, dan dialog lintas generasi.
” Kami di Kementerian Kebudayaan sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik Kementerian dan lembaga lain, pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Kota, pihak Swasta, Komunitas, Asosiasi, hingga Individu – Individu yang memiliki kepedulian terhadap kekayaan budaya bangsa termasuk museum.
Museum Monumen Jogja Kembali, memiliki potensi besar sebagai pusat edukasi sejarah dan ruang publik kebudayaan. Mudah – mudahan potensi ini dapat kita respons bersama melalui berbagai kegiatan budaya dan kolaborasi dengan komunitas, sanggar seni, asosiasi, termasuk Baranusi, serta para seniman dan budayawan Yogyakarta adalah kota yang sangat kaya akan seniman dan budayawan,” pungkasnya.(Joni)















