Kabupaten Sleman – KompassIndonesianews.com Selam libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, sektor pariwisata di Kabupaten Sleman mencatat lonjakan signifikan lebih dari 833 ribu wisatawan berkunjung dan memutar uang hingga Rp.362,79 miliyar.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sleman, Edy Winarya, menerangkan bahwa tingginya angka perputaran uang tersebut linear dengan durasi tinggal (length of stay) wisatawa. Rata – rata pelancong menghabiskan waktu 1 hingga 2 hari, atau tepatnya 1,53 hari di Kabupaten Sleman,” tutur Edy Jumat 9 Januari 2026.
Lanjutnya, sektor perhotelan menjadi primadona akomodasi. Ia menambahkan rata – rata tingkat ketersedian hotel atau okupansi selama periode libur 20 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 menyentuh angka 72,5 persen.
Berdasarkan data dari kami, rata – rata belanja wisatawan berada di angka Rp.750.000 hingga Rp.1 juta per orang dengan angka pasti sekitar Rp.853.510.
Lebih lanjut, Edy menjelaskan terdapat tiga komponen pengeluaran terbesar wisatawan selama berlibur di Sleman, akomodasi menjadi yang tertinggi dengan porsi 30,45 persen, disusul sektor kuliner sebesar 24,75 persen, dan belanja oleh – oleh sebesar 15,23 persen,” terangnya.
Kadis juga mengatakan dari sisi preferensi destinasi wisata alam masih mendominasi dengan porsi 56,34 persen, wisata budaya menempati posisi kedua dengan 27,62 persen, sementara sisanya tersebar di berbagai destinasi wisata buatan.
” Dalam pantauan kami, Kaliadem dan Kaliurang jadi destinasi favorit kawasan lereng Gunung Merapi masih menjadi daya tarik utama.
Karena kawasan Kaliadem dan Kaliurang masuk dalam jajaran tiga besar destinasi favorit, dari total kunjungan sebanyak 38,88 persen, wisatawan menyambangi Kaliadem dan kawasan Kaliurang sekitar 15,76 persen. Data demografi menunjukkan mayoritas wisatawan berasal dari pulau Jawa, yakni sebesar 99,31 persen atau sekitar 826.605 orang. Edy menegaskan bahwa pergerakan wisatawan pada periode Nataru kali ini, jauh melampaui terget awal yang dipatok di angka 250.000 hingga 300.000 orang,” ungkapnya.
Terkait pengelolaan, Edy memberikan catatan mengenai status kewenangan beberapa objek wisata sejarah, kewenangan Pemkab Sleman ada beberapa Candi di wilayah Kalasan dan Prambanan. Khusus Candi Ratu Boko itu kewenangan PT.Taman Wisata Candi, kami hanya dapat bagi hasil,” jelas Edy lagi.
Kepala Dinas Pariwisata Sleman, juga menambahkan bahwa kami tidak mengelola lansung Bukit Klagon dan kawasan Kaliadem. Meski demikian, pemerintah Kabupaten Sleman tetap menerima kontribusi melalui skema bagi hasil dengan pemerintah Kalurahan setempat yang memiliki wewenang pengelolaannya,” tutup Kadis Edy.(Joni)














