Kompassindonesianews.com
Moscow/Jakarta, Sabtu, 24 Januari 2026 Pemerintah Rusia mengklaim bahwa istana kepresidenan Presiden Vladimir Putin menjadi sasaran serangan 91 pesawat nirawak (drone) pada 29 Desember 2025. Klaim tersebut disampaikan Kremlin dengan menyatakan seluruh drone berhasil digagalkan sistem pertahanan udara sebelum mencapai target.
Namun, hingga lebih dari tiga pekan setelah klaim disampaikan, tidak ada satu pun bukti independen yang dapat diverifikasi secara publik. Rusia tidak merilis rekaman radar, dokumentasi visual yang dapat diuji keasliannya, maupun laporan teknis yang lazim digunakan untuk mengonfirmasi insiden keamanan berskala besar. Tidak adanya kerusakan fisik, korban, atau kesaksian lapangan turut menambah keraguan atas klaim tersebut.

Pemerintah Ukraina secara tegas membantah tuduhan itu. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan Ukraina tidak melakukan serangan dan menilai klaim Rusia sebagai tidak berdasar. Kyiv menyebut tuduhan tersebut berpotensi menjadi bagian dari operasi informasi di tengah konflik yang masih berlangsung.
Sejumlah media internasional dan analis keamanan menilai klaim 91 drone terhadap fasilitas keamanan tingkat tinggi seharusnya meninggalkan jejak teknis yang dapat diverifikasi, baik melalui data pertahanan udara, pengawasan satelit, maupun konfirmasi pihak ketiga. Hingga berita ini diterbitkan, tidak ada lembaga internasional atau sumber netral yang mengonfirmasi terjadinya serangan tersebut.
Ketiadaan transparansi ini membuat klaim Rusia belum dapat diperlakukan sebagai fakta, melainkan sebagai pernyataan sepihak yang memerlukan pembuktian lebih lanjut. Publik dan media internasional diimbau untuk mengutamakan verifikasi, skeptisisme profesional, dan kehati-hatian, mengingat isu ini berpotensi berdampak luas terhadap eskalasi geopolitik dan opini global.
(Komarudin)














