OPINI
Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau
Dalam kehidupan dunia yang semakin kompleks, manusia sering kali dihadapkan pada berbagai perbedaan yang tampak begitu kuat. Perbedaan agama, ideologi, mazhab, bahkan pandangan politik sering kali menjadi garis pemisah yang membuat manusia saling berjarak. Namun di atas semua perbedaan itu, ada satu nilai yang seharusnya tetap berdiri tegak, yaitu nilai kemanusiaan.
Ketika sebuah bangsa mengalami penindasan, kehilangan kebebasan, atau hidup dalam bayang-bayang kekerasan, maka sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya persoalan politik semata, melainkan juga martabat manusia itu sendiri. Dalam situasi seperti ini, suara hati manusia sering kali terpanggil untuk menyatakan sikap. Bukan karena kesamaan ideologi, tetapi karena kesadaran bahwa setiap manusia memiliki hak untuk hidup dengan aman dan bermartabat.
Tokoh dakwah Indonesia seperti Abdul Somad pernah menegaskan bahwa membela kemanusiaan tidak boleh dibatasi oleh sekat ideologi maupun perbedaan mazhab. Menurutnya, kepedulian terhadap penderitaan manusia adalah panggilan nurani yang bersifat universal. Ketika ada masyarakat yang mengalami penindasan, maka dukungan terhadap mereka bukan semata-mata persoalan politik, tetapi juga bentuk empati dan solidaritas kemanusiaan.
Dalam memahami persoalan ini, penting untuk menyadari bahwa solidaritas kemanusiaan tidak berarti seseorang harus menerima seluruh ideologi atau sistem politik pihak yang didukung. Dukungan terhadap keadilan tidak otomatis mengubah keyakinan seseorang. Sebaliknya, hal itu justru menunjukkan bahwa manusia mampu memisahkan antara identitas ideologis dengan nilai kemanusiaan yang bersifat universal.
Dunia modern memperlihatkan bagaimana penderitaan manusia di satu wilayah dapat dengan cepat diketahui oleh masyarakat di wilayah lain. Informasi yang bergerak begitu cepat membuat berbagai peristiwa kemanusiaan tidak lagi tersembunyi. Konflik, penindasan, dan ketidakadilan yang terjadi di suatu tempat sering kali menggugah empati masyarakat dunia untuk bersuara.
Dalam kehidupan yang penuh perbedaan ini, manusia sebenarnya memiliki satu ruang bersama yang tidak boleh diabaikan, yaitu ruang kemanusiaan. Di ruang inilah setiap orang dapat berdiri bersama tanpa harus meninggalkan keyakinannya masing-masing. Seseorang tetap dapat memegang teguh agamanya, ideologinya, dan pandangannya, tetapi pada saat yang sama tetap mampu menunjukkan kepedulian terhadap penderitaan manusia lain.
Sejarah peradaban manusia menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan sering menjadi kekuatan moral yang mendorong perubahan. Banyak gerakan besar dalam sejarah lahir bukan semata-mata dari kepentingan politik, tetapi dari kesadaran moral bahwa ketidakadilan tidak boleh dibiarkan berlangsung terlalu lama.
Dalam perspektif kebudayaan dan sastra, penderitaan manusia di suatu tempat sering dipahami sebagai penderitaan bersama. Para penulis dan pemikir kerap menggambarkan bahwa luka yang dialami oleh satu bangsa pada akhirnya akan menggugah nurani bangsa lain. Bahasa, karya sastra, dan ekspresi budaya menjadi sarana yang menghubungkan empati manusia di berbagai belahan dunia.
Pada akhirnya, membela kemanusiaan bukanlah tindakan yang lahir dari fanatisme, melainkan dari kesadaran moral yang mendalam. Ia lahir dari keyakinan bahwa setiap manusia berhak hidup dengan martabat, kebebasan, dan rasa aman.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi konflik kepentingan, suara kemanusiaan tetap menjadi cahaya yang mengingatkan manusia tentang arah perjalanan peradaban. Ideologi boleh berbeda, pandangan boleh tidak sama, tetapi ketika berbicara tentang penderitaan manusia, seharusnya semua hati dapat bersatu dalam satu sikap yang sama, yaitu menolak penindasan dan membela nilai-nilai kemanusiaan.














