Lahat – Kompassindonesianews.com Gelombang aspirasi masyarakat Desa Banjar Sari menggema di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Lahat pada Senin, 20 April 2026. Sekitar seratus warga turun langsung ke pusat pemerintahan daerah, membawa harapan, kegelisahan, sekaligus tuntutan tegas terkait aktivitas PT. Bumi Gema Gempita (BGG) yang dinilai merugikan kehidupan mereka.
Sejak pagi hari, suasana di sekitar kantor Pemkab Lahat telah dipadati oleh personel gabungan dari Polres Lahat, Polsek Merapi, dan Polsek Kota Lahat. Pengamanan dipimpin oleh Kasat Samapta AKP Heri Irawan, SE., MM., didampingi Kapolsek Kota Lahat AKP Edy Surisno, SH., serta Kapolsek Merapi Barat Iptu Candra Kirana, SH., MM. Kehadiran aparat bukan untuk membatasi, melainkan memastikan bahwa suara rakyat dapat tersampaikan dalam suasana aman dan tertib.

Massa aksi yang dipimpin oleh Koordinator Lapangan Narzel Anwar, dengan Herwinsyah sebagai penanggung jawab, tiba secara bertahap dengan tertib. Spanduk dan poster yang mereka bawa menjadi simbol perlawanan sekaligus harapan—berisi tuntutan atas kejelasan Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT. BGG, penghentian aktivitas perusahaan, serta permintaan pengukuran ulang lahan secara transparan dan adil.
Di tengah teriknya matahari, orasi demi orasi disampaikan dengan penuh semangat namun tetap terkendali. Tidak ada kericuhan, tidak ada tindakan anarkis. Justru yang terlihat adalah kedewasaan berdemokrasi—suara lantang yang dibalut sikap damai.
Aparat keamanan bersama Satpol PP dan instansi terkait terlihat sigap mengatur jalannya aksi. Arus lalu lintas di sekitar lokasi tetap terkendali, sementara massa diarahkan ke titik yang telah disepakati. Pendekatan humanis pun terus dikedepankan, menciptakan suasana yang kondusif sepanjang aksi berlangsung.
Puncak dari aksi ini terjadi ketika perwakilan pemerintah daerah membuka ruang audiensi. Sejumlah perwakilan massa dipersilakan masuk untuk berdialog langsung. Di ruang itulah, suara masyarakat Banjar Sari benar-benar didengar—bukan sekadar diteriakkan di jalanan, tetapi masuk ke meja pembahasan resmi.
Dialog yang berlangsung menjadi titik terang, membuka peluang solusi atas permasalahan yang selama ini dirasakan warga. Harapan pun mulai tumbuh bahwa keadilan bukan hanya wacana, melainkan sesuatu yang bisa diperjuangkan dan dicapai.
Menjelang sore hari, aksi unjuk rasa berakhir dengan tertib. Massa membubarkan diri secara damai, sementara aparat tetap bersiaga hingga situasi benar-benar kondusif. Keberhasilan pengamanan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara masyarakat, aparat, dan pemerintah dapat menciptakan ruang demokrasi yang sehat dan bermartabat.
Aksi ini bukan sekadar demonstrasi. Ini adalah cerminan keberanian warga untuk bersuara, sekaligus pengingat bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan keadilan bagi masyarakat setempat.
(Akril)














