Jambi//Tebo ~ KompassIndonesiaNews.Com Aktivis kabupaten Tebo Romy Faisal secara terbuka menyatakan kekecewaannya dan menuding lembaga legislatif telah membohongi rakyat terkait tidak terealisasinya program usulan masyarakat serta ketidak jelasan dana pinjaman dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).( 9 Mei 2026)
Kekecewaan ini dipicu oleh janji pimpinan DPRD Tebo yang sebelumnya sesumbar akan memanggil Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk memberikan keterangan resmi.
Namun hingga kini Janji tersebut dinilai hanya menjadi bualan semata tanpa realisasi nyata.
“Kami Tim 8 Tebo yang berfokus pada pengawasan anti korupsi merasa dikhianati, janji wakil ketua 1 DPRD tebo yang katanya mau memanggil TAPD? Sampai detik ini tidak ada penjelasan. Kami minta DPRD segera speak up dan jangan bungkam!” tegas Hafizan Romy Faisal kepada awak media.
Selain persoalan pinjaman ke PT SMI, Romy juga menyoroti adanya kejanggalan administratif yang serius terhadap Dokumen APBD kabupaten tebo tahun 2026.
Ia mencurigai bahwa dokumen Perda APBD 2026—yang secara resmi telah diketuk palu dalam rapat Paripurna pada tahun 2025 lalu—hingga kini belum dicetak maupun didistribusikan kepada pihak-pihak terkait,
“Kami curiga ada sesuatu yang disembunyikan, Kenapa dokumen APBD 2026 yang sudah sah itu belum juga didistribusikan,di tengah efesiensi seperti sekarang jangn sampai menyulut emosi masyarakat yang seperti ada pembodohan”ucap romi.
Tudingan tersebut bukan tanpa alasan, setelah tim TAPD Mangkir Saat di Undang DPRD tebo untuk klarifikasi perubahan nilai pinjaman ke PT SMI, bupati lansung undang seluruh DPRD Ngoffe Morning dan di lanjutkan dengan rapat tersebut di rumah pribadi nya.
Ironis, Bukannya mengambil tindakan tegas, unsur pimpinan DPRD tebo justru terlihat menghadiri acara Coffee Morning di Rumah Dinas Bupati Tebo yang dikemas dalam bentuk rapat tertutup.
Pasca pertemuan tersebut, tidak ada satu pun anggota dewan yang bersuara lantang mengenai pemangkasan pinjaman SMI yang menyusut dari Rp140 miliar menjadi Rp100 miliar, maupun mengenai perubahan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) yang diduga dilakukan sepihak oleh eksekutif.
“Sangat ironis, rakyat menunggu transparansi, tapi wakil rakyatnya malah asyik rapat tertutup dengan eksekutif. Jangan sampai pertemuan Coffee Morning itu hanya jadi ajang kompromi yang mengabaikan kepentingan rakyat,” pungkas Romi.
Hingga brita ini di terbitkan, pihak DPRD Tebo Masi terkesan abai dan belum memberikan keterangan resmi untuk menanggapi desakan dan kecurigaan yang dilontarkan oleh Romi Hafidzan Faisal dan Tim 8.
(Nata)












